Pengalaman itu dirasakan dua siswa baru SMA Labschool Kebayoran, Qoyz Algebra dan Sandrina Emily Damanik. Keduanya menceritakan pengalamannya mengikuti hari pertama MPLS 2026.
Qoyz mengaku sempat diliputi rasa gugup sebelum mengikuti MPLS. Apalagi, ia datang seorang diri dari Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta.
"Sebenarnya iya, saya culture shock banget karena banyak siswa. Tapi kakak-kakaknya baik banget menyambut saya dengan teman-teman saya," kata Qoyz di SMA Labschool Kebayoran, Jakarta, Senin 13 Juli 2026.
| Baca juga: Hari Pertama Sekolah, Siswa SD Rebutan Bangku Depan, Orang Tua: Takut Enggak Kebagian! |
Menurutnya, seluruh rangkaian pra-MPLS hingga hari pertama berjalan lancar. Panitia dari OSIS tidak hanya mengajak siswa mengikuti kegiatan yang menyenangkan, tetapi juga menghadirkan aktivitas interaktif sehingga peserta didik baru cepat saling mengenal.
"Semuanya berjalan dengan lancar. Kakak-kakaknya menyediakan aktivitas yang tidak hanya menyenangkan tetapi juga interaktif bagi kami yang baru masuk SMA," ujarnya.
Ia bahkan terkejut mengetahui banyak teman barunya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. "Ada yang dari Jambi, ada yang dari NTB, banyak sekali teman-teman yang saya ketemu di sini," katanya.
Pengalaman serupa dirasakan Sandrina Emily Damanik. Lulusan SMPK Tirta Marta BPK Penabur Pondok Indah itu mengaku sempat gugup karena memasuki jenjang pendidikan baru.
Namun, rasa canggung tersebut perlahan hilang setelah mengikuti rangkaian pra-MPLS. "Dari pra-MPLS sampai hari pertama ini saya merasa sangat senang," kata Sandrina.
Ia mengatakan sekolah sebelumnya memiliki jumlah peserta didik yang tidak terlalu banyak. Karena itu, kesempatan bertemu ratusan siswa baru di Labschool justru menjadi pengalaman yang menyenangkan.
"Saya sangat senang bisa melihat banyak sekali murid dan mendapat lebih banyak teman lagi. Kakak OSIS dan MPK juga sangat ramah, guru-gurunya sangat suportif sehingga kami merasa familiar dengan sekolah ini," tuturnya.
Sandrina juga mengapresiasi suasana inklusif yang ia rasakan sejak hari pertama. Berasal dari sekolah berbasis agama, ia mengaku sempat penasaran dengan lingkungan baru yang lebih beragam.
"Ketika ada kegiatan untuk yang Muslim, yang Kristen, dan yang lainnya tetap dilibatkan. Jadi saya sangat bersyukur," katanya.
| Baca juga: Masih Zaman MPLS Kena Pelonco? Wamendikdasmen Pastikan Sekolah Jadi Tempat Paling Aman |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda