Keputusan itu diambil bukan semata untuk menyatukan kembali keluarga, tetapi juga agar sang putra tumbuh dengan bahasa ibu, budaya, dan identitas sebagai anak Indonesia.
Stella mengungkapkan Bayu akan memulai kelas 4 SD di Jakarta pada tahun ajaran baru 2026/2027 ini.
Menurutnya, masa pendidikan dasar merupakan periode penting bagi anak. Ia juga menegaskan keinginannya agar Bayu menguasai kemampuan membaca dan menulis dalam bahasa ibu, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya dan Tanah Air.
| Baca juga: Mendikdasmen Abdul Mu'ti: MPLS Bukan Ajang Perpeloncoan, Saatnya Ubah Tradisi Lama |
"Setelah satu tahun delapan bulan hidup terpisah dari ibunya, akhirnya Bayu akan mulai kelas 4 SD di sekolah di Jakarta. Mungkin teman-teman penasaran kenapa baru sekarang pindah ke Indonesia dan kenapa tidak di sekolah internasional. Supaya Bayu sungguh menjadi orang Indonesia," ujar Stella melalui unggahan instagramnya @prof.stellachristie dikutip Selasa 14 Juli 2026.
Ia menjelaskan, selama tinggal di Beijing, Bayu bersekolah di sekolah dasar yang menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar. Meski keluarga mereka bukan warga negara Tiongkok, Stella dan suaminya sengaja memilih lingkungan tersebut agar putranya memperoleh pengalaman belajar yang utuh selama tinggal di negara itu.
"Walaupun kami bukan orang Tiongkok, kami ingin Bayu memanfaatkan sebaik-baiknya kesempatan tinggal dan hidup di Tiongkok," katanya.
Namun, situasi berubah ketika Presiden Prabowo Subianto memintanya bergabung dalam pemerintahan. Saat itu Bayu baru duduk di kelas 2 SD sehingga Stella dan suaminya memutuskan mempertahankan sekolah sang anak di Beijing agar tidak mengalami terlalu banyak perubahan dalam waktu bersamaan.
"Sebagai orang tua, kami khawatir jika anak kami dihadapi terlalu banyak perubahan sekaligus. Sehingga kami memilih lingkungan yang stabil dan tetap untuk Bayu lanjut sekolah di Beijing," ucapnya.
Keputusan itu membuat Stella harus menjalani kehidupan yang terpisah dengan putranya selama hampir dua tahun. Menurut dia, menjaga kestabilan pendidikan anak pada akhirnya tidak lagi lebih penting dibandingkan kebersamaan keluarga dan kedekatan Bayu dengan tanah airnya.
"Pada tahap ini, stabilitas tidak sepenting hubungan dengan ibunya dan juga dengan tanah airnya. Satu tahun delapan bulan hidup terpisah sangatlah sulit untuk saya dan Bayu. Sudah terlalu lama. Bayu beberapa kali terbang ke Indonesia untuk bertemu saya. Bayu bahkan sering tidur di pesawat dan langsung menuju sekolah setelah tiba dari bandara," kenangnya.
| Baca juga: ASN Dapat Izin Khusus Antar Anak Sekolah PAUD hingga SMA, Simak Aturannya |
Meski fasih berbicara bahasa Indonesia, Stella menyadari putranya akan menghadapi tantangan besar ketika mulai bersekolah di Jakarta. Selama tiga tahun terakhir, Bayu terbiasa membaca buku, menulis karangan, dan mengikuti pembelajaran menggunakan bahasa Mandarin.
Karena itu, ia tidak menutup kemungkinan Bayu akan mengalami kesulitan pada pelajaran Bahasa Indonesia pada masa-masa awal sekolah. "Sangat mungkin Bayu frustrasi mendapat angka-angka jelek di kelas Bahasa Indonesia," katanya.
Selain pelajaran, Stella juga mengaku memikirkan proses adaptasi sosial putranya. Ia berharap Bayu dapat menemukan lingkungan pertemanan yang hangat seperti yang dimilikinya selama bersekolah di Beijing.
Di sisi lain, Stella juga menyimpan kekhawatiran sebagai seorang ibu. Selama hampir dua tahun terakhir, suaminya yang berprofesi sebagai profesor fisika di Tsinghua University mengambil peran utama mengasuh Bayu sambil tetap menjalankan aktivitas akademik.
Kini, setelah Bayu tinggal bersamanya di Jakarta, Stella harus kembali membagi waktu antara tanggung jawab sebagai pejabat negara dan sebagai ibu. "Apakah saya akan jadi ibu yang baik dengan begitu banyaknya tuntutan pekerjaan?" tanya dia.
Stella mengatakan setiap keluarga memiliki bentuk pengorbanan yang berbeda dalam membesarkan anak. Bagi keluarganya, pengorbanan itu berarti meninggalkan kehidupan yang telah mapan di Beijing, melepas lingkungan pendidikan yang telah dikenal Bayu, serta menerima kenyataan bahwa hampir dua tahun waktu kebersamaan keluarga tidak dapat diulang.
Meski demikian, ia meyakini seluruh pengorbanan tersebut dilakukan dengan tujuan yang sama, yakni memberikan masa depan yang lebih baik bagi anak. "Pengorbanan keluarga kami mungkin berbeda dengan perjuangan keluarga Anda. Tapi apa pun bentuknya, kita semua disatukan oleh harapan bahwa pengorbanan kita akan membuat kehidupan anak kita lebih baik lagi di masa depan," ujar Stella.
| Baca juga: Curhat Siswa Baru SMA Labschool di MPLS: Ajang Cari Teman Baru |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda