Rektor UI Heri Hermansyah. Foto: Youtube Universitas Indonesia
Rektor UI Heri Hermansyah. Foto: Youtube Universitas Indonesia

HUT ke-81 RI, Rektor UI Ungkap 3 PR Besar Pendidikan Tinggi Indonesia

Ilham Pratama Putra • 18 Agustus 2026 05:32
Ringkasnya gini..
  • Rektor UI Heri Hermansyah menyebut ada tiga PR besar yang harus diselesaikan pendidikan tinggi Indonesia.
  • PR tersebut mencakup biaya pendidikan, peningkatan kualitas SDM dan R&D serta kesejahteraan dosen.
  • Penguatan R and D dinilai penting untuk membangun kedaulatan teknologi dan mendorong kemandirian Indonesia.
Jakarta: Indonesia memasuki usia Ke 81 pada peringatan hari kemerdekaan pada tahun 2026. Namun, di tengah perjalanan panjang tersebut, sektor pendidikan tinggi masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah.
 
PR di bidang pendidikan tinggi perlu diselesaikan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendorong kemandirian bangsa. Rektor Universitas Indonesia (UI) Heri Hermansyah mengatakan setidaknya terdapat tiga persoalan besar yang perlu menjadi perhatian dalam pengembangan pendidikan tinggi Indonesia.
 
"Untuk yang di pendidikan tinggi ya, ini ada banyak PR yang harus kita selesaikan," kata Heri dalam keterangannya, Senin 17 Agustus 2026.

PR pertama, kata dia, berkaitan dengan akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang berkualitas dengan biaya terjangkau. Menurutnya, kesempatan untuk masuk perguruan tinggi, termasuk kampus terbaik, harus dapat diakses lebih luas oleh anak bangsa.
 
Heri bahkan mendorong agar mahasiswa berprestasi yang berhasil masuk perguruan tinggi terbaik dapat memperoleh dukungan beasiswa. Sehingga persoalan biaya tidak menjadi penghambat pendidikan bagi mahasiswa yang kesulitan biaya.
 
Baca juga: Keren! RI Bikin CT Scan Sendiri, Impor Alkes Ditekan Habis  

 
"Kalau kemudian mereka bisa mendapatkan beasiswa sehingga bisa meng-cover biaya pendidikannya dengan gratis berbeasiswa tadi, nah itu akan semakin meningkatkan potensi mahasiswa untuk kemudian menjadi sarjana yang paripurna," ujarnya.
 
PR kedua adalah meningkatkan kualitas dosen dan tenaga kependidikan. Heri menilai perguruan tinggi Indonesia perlu memiliki sumber daya manusia dengan kualifikasi yang mampu bersaing dengan universitas terkemuka dunia.
 
Ia mencontohkan UI yang telah menetapkan kualifikasi minimal doktor atau S3 bagi dosen. Namun, menurutnya, gelar doktor saja belum cukup jika Indonesia ingin mengejar kualitas universitas kelas dunia.
 
Di sejumlah universitas terkemuka dunia, lulusan doktor masih harus melewati tahap post-doctoral dan seleksi melalui jalur tenure track sebelum menjadi dosen peneliti. Menurut Heri, sistem tersebut menunjukkan pentingnya pengalaman yang terbukti dalam riset dan inovasi. 
 
Hal ini berkaitan langsung dengan kemampuan perguruan tinggi menghasilkan penelitian yang berdampak. "R and D (Research and Development) ini kita harus akui bahwa di berbagai universitas di Indonesia ini masih weak dibandingkan dengan universitas terkemuka di dunia lainnya," jelasnya.
 
Heri menilai penguatan riset dan pengembangan atau R and D menjadi kunci untuk membangun kedaulatan teknologi. Menurutnya, kedaulatan teknologi tidak mungkin tercapai tanpa kemampuan riset yang kuat.
 
"Jadi R and D yang kuat memiliki kedaulatan teknologi dan dari situlah setelah kedaulatan teknologi akan menuju kepada kemandirian," tuturnya.
 
Persoalan ketiga yang disoroti Heri adalah kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan. Menurut dia, ambisi membangun perguruan tinggi berkelas dunia harus dibarengi dengan sistem kesejahteraan pengajar yang memadai. 
 
"Tidak mungkin orang-orang yang memiliki talent besar, memiliki talent di level dunia mau kemudian bekerja di kita dengan gaji UMR, kan tidak mungkin," katanya.
 
Heri menilai diperlukan sistem remunerasi yang dapat meningkatkan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan secara sistematis. Dengan begitu, mereka dapat fokus menjalankan tugas dalam pendidikan, riset dan pengabdian kepada masyarakat.
 
"Jadi minimal tiga tadi ya, satu biaya pendidikan yang harus terjangkau bahkan perlu didukung oleh beasiswa, yang kedua SDM, R and D, dan kedaulatan serta kemandirian teknologi yang didukung oleh R&D yang kuat di universitas, yang ketiga adalah memberikan supporting system yang kemudian bisa meningkatkan kesejahteraan dari para dosen dan peneliti," pungkasnya.
 
Baca juga: MBG Pakai Beras Fortifikasi? IPB hingga UGM Terlibat Kembangkan Teknologi dan Kajian Gizinya  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan