Di saat yang bersamaan, Kemenkes juga melakukan penguatan kapasitas produksi dan inovasi alat kesehatan di dalam negeri. Dengan memproduksi alkes secara di dalam negeri, maka terjadi penghematan anggaran belanja alkes impor.
"Dalam hanya tiga tahun, industri lokal Indonesia mengembangkan platform endoskop, termasuk endoskop portabel yang dibangun untuk area terpencil. Tahun depan, kami juga akan mengembangkan CT Scan pertama buatan lokal melalui transfer teknologi," kata Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Lucia Rizka Andalusia dalam ASEAN–Japan Medical Devices Regulatory Symposium 2026 yang digelar di Jakarta, Selasa 30 Juni 2026.
Rizka memaparkan bahwa langkah kemandirian tersebut telah membuahkan hasil nyata. Pada tahun 2025 lalu, tingkat ketergantungan terhadap alat endoskop impor berhasil diturunkan dari 100 persen menjadi 84 persen, yang sekaligus menghemat pengeluaran negara hingga 5,75 juta dolar AS.
| Baca juga: Kuota FK di PTN Bakal Dipangkas, Mendikti: Banyak 'Retaker' Tak Lulus Ujian Dokter |
Lebih dari sekadar substitusi impor, ia juga mendorong agar kawasan ASEAN tidak hanya dijadikan pasar penjualan alkes. Tetapi mampu menjadi pusat inovasi dan manufaktur alkes.
"Mestinya kita memproduksi dan kita yang menjual, menjadi produsen. Jadi kita jangan lagi menjadi konsumen yang terus impor, membeli," terangnya.
Lebih lanjut dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Pharmaceuticals and Medical Devices Agency (PMDA) Jepang, Hiraiwa Masaru, menyatakan, harmonisasi standar dan peraturan internasional memegang peranan yang sangat penting untuk mengurangi hambatan perniagaan.
Ia menegaskan komitmen Jepang untuk terus mendampingi ASEAN dalam meningkatkan kapasitas regulasi dan manajemen mutu agar selaras dengan standar global. "Pemenuhan peraturan internasional dan standar membantu penilaian penjualan. Pemerintah juga bertanggung jawab untuk memastikan keselamatan pasien melalui ujian post-market dan pengurusan kualitas peralatan," ujar Hiraiwa.
Merespons kolaborasi strategis antara pemerintah Indonesia, Jepang, dan kawasan ASEAN tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia, Prof. Mahmud Subandriyo, mengingatkan bahwa ekosistem kesehatan yang kuat juga membutuhkan pilar riset akademis yang kokoh. UI berharap kemitraan antara pemerintah, otoritas regulasi, perguruan tinggi, dan industri dapat menciptakan jaringan nilai regional yang tangguh.
"Kami mengharapkan setiap kemajuan teknologi medis selalu berlabuh pada jaminan keselamatan masyarakat luas," tutup Mahmud.
| Baca juga: Viral Kasus Penganiayaan, Apa Itu Koas bagi Mahasiswa Kedokteran? |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda