“Saya baru saja diterima oleh Bapak Presiden dalam rangka untuk melaporkan beberapa hal terkait penugasan beliau kepada BRIN untuk memperkuat riset untuk beberapa bidang,” ungkap Arif dikutip dari unggahan akun Instagram @kepalabrin, Kamis, 29 Oktober 2026.
Ia menyebut ada lima bidang yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Kelima bidang itu adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), energi dari limbah sawit, vaksin malaria, obat herbal, dan pengelolaan sampah.
Untuk karhutla, BRIN berkolaborasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan (Kemenhut), serta Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Kerja sama itu diwujudkan lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang membuat sejumlah wilayah turun hujan.
Di bidang energi, BRIN melaporkan limbah sawit berpotensi menghasilkan listrik sekitar 3,9 gigawatt. Biogas dari limbah itu juga dapat dikonversi menjadi gas tabung untuk menekan impor liquefied petroleum gas (LPG) yang mencapai sekitar Rp97 triliun per tahun.
Indonesia menghasilkan sekitar 328,43 juta ton tandan buah segar (TBS) sawit per tahun, dengan potensi limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sekitar 229,9 juta meter kubik. Limbah itu dapat menjadi sumber metana penyebab efek rumah kaca.
Di sektor kesehatan, Presiden meminta riset vaksin malaria dipercepat tiga tahun dari jadwal seharusnya. BRIN memiliki empat kandidat vaksin malaria yang dikembangkan bersama Kementerian Kesehatan dan PT Bio Farma.
Presiden juga menekankan pentingnya kemandirian obat, dan BRIN telah menyiapkan 19 kandidat obat herbal menuju fitofarmaka. BRIN akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk mempercepat uji klinis.
Pada isu sampah, BRIN diminta berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) agar kampus dapat masuk ke desa-desa. BRIN memiliki teknologi pengolahan sampah dari level rumah tangga hingga kota, dan teknologi level rumah tangga serta desa diarahkan segera diterapkan.
Arif menegaskan BRIN bukan lembaga yang bertugas memproduksi. Menurut dia, BRIN hanya membuat prototipe dari hasil riset yang dilakukan.
“Kita ingin memastikan prototipe yang kita buat ini membawa manfaat dan bisa digunakan oleh masyarakat,” kata Arif.
Dengan arahan tersebut, Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) dari Presiden diharapkan dapat berjalan baik sesuai harapan. Arif berharap hasil riset BRIN segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. (Talitha Islamey)
Baca Juga :