Kondisi ini menyoroti betapa daruratnya penanganan krisis lingkungan yang tengah melanda Tanah Air. Berbagai wilayah di Indonesia kini harus berjibaku tidak hanya dengan api yang membakar di permukaan, tetapi juga ancaman tersembunyi dari kebakaran gambut bawah tanah yang sulit dideteksi.
Kompleksitas Kebakaran Gambut di Indonesia
Assistant Professor dari University of Nottingham, Bagus Muljadi, memaparkan bahwa pemadaman karhutla di Indonesia memiliki tantangan teknis yang sangat tinggi. Menurutnya, karakter lahan gambut sangat sulit diprediksi karena api sering kali masih menyala di bagian dalam tanah.“Gambut itu sangat sulit dipahami, karena biarpun terlihat sudah padam di permukaan, smouldering di bawah itu sangat sulit untuk diprediksi,” ujar Bagus dalam tayangan Primetime News Metro TV, dikutip dari unggahan @bagusmuljadi, Minggu, 18 Oktober 2026.
Ia menjelaskan bahwa kendala pemetaan kedalaman gambut yang belum lengkap di Indonesia, berkisar antara 0,5 hingga 10 meter menyebabkan upaya mitigasi sering kali terlambat. Akibatnya, petugas di lapangan terpaksa harus mencegat arah pergerakan api daripada melakukan pencegahan sejak awal.
Kini, Bagus beserta rekan-rekan ilmuwan dan tim ahlinya sedang berupaya membangun metode serta strategi untuk membantu pemerintah. Menurutnya, para ilmuwan ini harus mampu merumuskan strategi pasti, seperti memetakan wilayah rawan berdasarkan variabel iklim, tutupan lahan, dan kekeringan tanah agar penanganan tidak lagi berjalan secara reaktif.
Dalam upaya merumuskan strategi penanganan yang efektif ke depan, terdapat sejumlah kendala fundamental di lapangan yang harus segera diatasi oleh pemangku kepentingan, di antaranya:
1. Kendala Pemetaan
Peta kedalaman gambut di Indonesia belum sepenuhnya lengkap, sehingga menyulitkan prediksi titik rawan kebakaran bawah tanah.2. Tantangan Teknologi
Pemantauan menggunakan citra satelit menghadapi hambatan akibat tebalnya kanopi pohon di atas lahan gambut.3. Efisiensi Anggaran
Penanganan konvensional seperti water bombing memakan biaya yang sangat besar dengan efektivitas yang tidak sebanding, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih presisi.
Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). DOK Pixabay
Perubahan Pola Pikir Menuju Pencegahan Preventif
Bagus menegaskan bahwa penanggulangan karhutla menuntut perubahan pola pikir atau mindset secara menyeluruh, dari sekadar merespons kebakaran menjadi tindakan pencegahan jangka panjang. Pemerintah bersama ilmuwan harus berkolaborasi merumuskan strategi berbasis data ilmiah yang akuntabel.Di samping itu, langkah penanggulangan ini juga perlu didukung oleh sejumlah pilar penting berikut:
1. Prediksi Berbasis Variabel Ilmiah
Strategi pencegahan harus memperhitungkan variabel terukur seperti tutupan lahan, aktivitas manusia, serta tingkat kekeringan tanah untuk memprediksi risiko kebakaran secara akurat.2. Mitigasi Dini
Fokus tindakan preventif harus dilakukan secara konsisten dan responsif terhadap dinamika cuaca serta siklus El Nino.3. Transparansi Publik (Public Trust)
Penggunaan platform data terbuka sangat penting untuk menginformasikan langkah-langkah pemerintah kepada masyarakat guna membangun kepercayaan publik.Desakan Solusi Demi Keselamatan Warga
Kabut asap pekat yang berdampak pada kualitas udara hingga memicu kebijakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di beberapa daerah menjadi bukti nyata bahwa karhutla adalah ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.Penyelesaian masalah ini membutuhkan komitmen nyata dan strategi terukur dari seluruh pemangku kepentingan. Tanpa langkah pencegahan yang terstruktur dan akuntabel, krisis lingkungan akibat karhutla akan terus berulang dan merugikan masyarakat luas. (Talitha Islamey)