Prediksi Asap Karhutla Hingga Jakarta. Foto: laman resmi BMKG
Prediksi Asap Karhutla Hingga Jakarta. Foto: laman resmi BMKG

Asap Karhutla Capai Jakarta, BMKG Imbau Pantau Kualitasi Udara Permukaan

Renatha Swasty • 16 Oktober 2026 15:34
Ringkasnya gini..
  • BMKG mendeteksi sebaran asap karhutla telah mencapai lapisan atmosfer DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
  • Pergerakan asap di wilayah Jawa terpantau mengarah ke tenggara hingga barat daya mengikuti dinamika angin.
  • Deteksi di atmosfer belum membuktikan asap mencapai permukaan tanah, sehingga dampak ke udara Jakarta masih dipantau.
Jakarta: Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terpantau telah mencapai atmosfer DKI Jakarta. Berdasarkan pemantauan citra satelit cuaca pada Jumat, 16 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebaran asap di Jakarta dan sejumlah wilayah lain di Indonesia.

Temuan tersebut menunjukkan sebaran asap karhutla dapat bergerak ke wilayah lain mengikuti dinamika angin. Selain Jakarta, asap terpantau di Banten dan Jawa Barat, serta sejumlah provinsi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Deteksi asap di atmosfer tidak serta-merta membuktikan bahwa asap telah mencapai permukaan tanah atau menjadi penyebab utama penurunan kualitas udara di Jakarta. BMKG perlu melakukan pemantauan kualitas udara di permukaan untuk mengetahui dampaknya terhadap masyarakat.

Pergerakan Asap Karhutla di Jakarta 

Pergerakan asap di Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat terpantau mengarah ke tenggara hingga barat daya. Angin di Indonesia pada periode pemantauan tersebut bertiup dari timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara.

Arah dan kecepatan angin menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan asap dari wilayah sumber kebakaran menuju daerah lain.

BMKG juga mendeteksi pergerakan asap dari Sumatra dan Kalimantan menuju Semenanjung Malaysia serta Singapura. Sementara itu, asap dari Papua Nugini terpantau bergerak menuju Papua Selatan.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa sebaran asap karhutla dapat melintasi batas wilayah administratif hingga negara, bergantung pada kondisi atmosfer.

Daftar Wilayah yang Terpantau Terdampak Asap Karhutla

BMKG mendeteksi sebaran asap di berbagai wilayah Indonesia berdasarkan citra satelit. Berikut daftar wilayah yang terpantau:

1. Sumatra

  • Aceh
  • Sumatera Utara
  • Sumatera Barat
  • Riau
  • Jambi
  • Kepulauan Riau
  • Bengkulu
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Sumatera Selatan
  • Lampung

2. Jawa

  • Banten
  • DKI Jakarta
  • Jawa Barat

3. Kalimantan

  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Utara

4. Sulawesi

  • Sulawesi Selatan
  • Sulawesi Tenggara
  • Sulawesi Tengah
  • Gorontalo
  • Sulawesi Utara

5. Maluku dan Papua

  • Maluku
  • Maluku Utara
  • Papua Barat Daya
  • Papua Barat
  • Papua Tengah
  • Papua Pegunungan
  • Papua Selatan
Wilayah-wilayah tersebut terpantau dalam analisis sebaran asap. Namun, intensitas asap dan dampaknya terhadap kualitas udara di setiap daerah dapat berbeda. Pemantauan satelit juga perlu dibedakan dari pengukuran konsentrasi polutan di permukaan.

BMKG Catat 1.297 Titik Panas di Indonesia

Di tengah meluasnya sebaran asap, BMKG juga mencatat 1.297 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi dan Sumatra menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 505 titik. Berikut rinciannya:
  • Sumatra: 505 titik panas
  • Kalimantan: 346 titik panas
  • Papua dan Maluku: 330 titik panas
  • Sulawesi: 66 titik panas
  • Nusa Tenggara: 38 titik panas
  • Jawa: 12 titik panas
Titik panas atau hotspot merupakan anomali suhu yang terdeteksi melalui pengamatan satelit. Temuan ini dapat menjadi indikasi adanya kebakaran, tetapi tidak selalu menandakan bahwa kebakaran telah terkonfirmasi di setiap titik.

Banyaknya titik panas menunjukkan kewaspadaan terhadap karhutla masih diperlukan, terutama di daerah yang mengalami kondisi kering dan memiliki vegetasi yang mudah terbakar.

Apakah Asap Karhutla di Jakarta Berbahaya bagi Kesehatan?

Keberadaan asap yang terdeteksi di atmosfer Jakarta belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kualitas udara di ibu kota berada dalam kategori tidak sehat akibat karhutla. Penilaian tersebut memerlukan data pengukuran kualitas udara di permukaan, termasuk konsentrasi partikulat halus seperti PM2.5.

Sobat Medcom dapat memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) melalui kanal resmi Kementerian Lingkungan Hidup serta memperhatikan informasi cuaca dan sebaran asap dari BMKG. (Adinda Kinanthi)
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan