Kedua pihak menandatangani perjanjian kerja sama selama tiga tahun untuk pemanfaatan dan pertukaran data meteorologi serta geofisika.
Kerja sama yang dilakukan di Sipirok pada 17 September 2026 tersebut tidak hanya ditujukan untuk mendukung kebutuhan operasional PLTA Batangtoru. Data yang dikumpulkan juga diharapkan dapat memperkuat informasi cuaca dan kebencanaan yang dibutuhkan masyarakat.
Salah satu fokusnya adalah pemanfaatan data untuk mendukung mitigasi risiko, termasuk pemantauan kondisi cuaca, curah hujan, hingga aktivitas kegempaan di kawasan PLTA Batangtoru.
Data Cuaca dan Gempa Jadi Fokus Kerja Sama
Manager Project Design PT NSHE, Arwan Kahfi, mengatakan melalui kerja sama ini, kedua pihak diharapkan dapat saling mendukung dan memberikan manfaat, khususnya dalam penyediaan informasi yang dapat disampaikan kepada masyarakat.“Kerja sama ini sudah lama direncanakan. Harapannya, kedua pihak bisa saling mendukung dan memberikan manfaat, terutama dalam hal informasi yang nantinya bisa disampaikan kepada masyarakat. Informasi tersebut juga berkaitan dengan mitigasi, khususnya informasi kebencanaan,” ujar Kahfi dalam keterangan tertulis, Sabtu, 26 September 2026.
Dari sisi NSHE, data klimatologi, meteorologi dan geofisika menjadi salah satu kebutuhan dalam pengelolaan kawasan dan fasilitas PLTA Batangtoru. NSHE juga memiliki Flood Early Warning System (FEWS) sebagai perangkat mitigasi risiko untuk mendeteksi potensi kondisi darurat di sekitar area bendungan dan aliran PLTA Batangtoru.
Melalui kerja sama ini, NSHE dan BMKG ke depannya dapat melakukan pertukaran data sesuai dengan kebutuhan masing-masing pihak.
Data dari BMKG dapat mendukung kebutuhan NSHE dalam pemantauan kondisi klimatologi, meteorologi dan geofisika, sementara data yang dimiliki NSHE dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari layanan informasi kepada masyarakat melalui BMKG khususnya yang terkait dengan kebencanaan.
Kepala Balai BMKG Wilayah I, Hendro Nugroho, menjelaskan bahwa kebutuhan data klimatologi, meteorologi dan geofisika menjadi salah satu bagian dari kerja sama tersebut.
Data geofisika, antara lain, berkaitan dengan pemantauan kondisi kegempaan di kawasan PLTA Batangtoru ke depannya.
“NSHE membutuhkan data klimatologi, meteorologi dan geofisika. Untuk data geofisika, salah satunya berkaitan dengan kondisi kegempaan. Nantinya juga ada pemasangan sensor mikroseismik untuk mengetahui besaran guncangan dan risikonya apabila terjadi gempa,” jelas Hendro.
Data klimatologi seperti curah hujan dan kelembapan juga dibutuhkan untuk mendukung pengelolaan dan pengoperasian fasilitas bendungan. Kerja sama NSHE dan BMKG juga mencakup pengembangan perangkat observasi cuaca yang dapat digunakan bersama.
Hendro juga menyampaikan bahwa kedua pihak ke depannya dapat membuka peluang bekerja sama dalam pengembangan pos hujan serta perangkat observasi seperti Automatic Weather Station (AWS) dan Automatic Rain Gauge (ARG).
Penambahan titik pengamatan tersebut diharapkan dapat memperkaya ketersediaan data cuaca di wilayah terkait.