Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi El Nino masih sangat kuat hingga September 2026. Bersamaan dengan itu, fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) juga berada pada fase positif.
Kombinasi kedua fenomena tersebut berpotensi memperpanjang periode kering dan membuat awal musim hujan 2026/2027 datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia. Lantas, kapan musim hujan diprediksi mulai dan apa saja yang perlu dilakukan untuk menghadapi dampak El Nino? Melansir dari sosial media dan laman resmi BMKG, berikut penjelasan lengkapnya.
El Nino Masih Sangat Kuat
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer BMKG pada 23 September 2026, nilai anomali suhu muka laut (SSTA) di wilayah Nino3.4 pada Dasarian II September mencapai +2,97. Sementara itu, indeks ENSO rata-rata tiga bulanan periode Juli-Agustus-September (JAS) berada pada +2,63.Nilai tersebut menunjukkan El Nino masih berada pada kategori sangat kuat. Pada periode yang sama, indeks IOD juga meningkat menjadi +0,935, setelah sebelumnya berada di angka +0,376 pada Agustus.
BMKG menyebut kombinasi El Nino dan IOD positif dapat memperparah serta memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor musim hujan 2026/2027 diprediksi datang lebih lambat dan berlangsung lebih singkat.
Kapan El Nino Berakhir?
El Nino diprediksi akan berakhir pada akhir catur wulan I tahun 2027. Namun, dampak kekeringan yang ditimbulkan akan berakhir seiring mulainya musim hujan.Sobat Medcom perlu waspada dengan keterlambatan musim hujan yang menyebabkan kekeringan berlanjut hingga Oktober 2026, seperti di wilayah Jawa, Bali, NTB, dan NTT. Lantas, kapan musim hujan diprediksi turun?
Prediksi Musim Hujan 2026/2027
Prediksi curah hujan akan turun pada dasarian SEP III – OKT II 2026 dengan kriteria Rendah – Menengah (0-150 mm/dasarian). Wilayah yang diprediksi mengalami hujan kategori Rendah (<50 mm/dasarian), yakni:
1. September III 2026
Meliputi sebagian kecil Aceh, Bengkulu, Jambi, Kep. Riau, Riau, Sumatera Barat, sebagian besar Kep. Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, P. Jawa, Balinusra.
Selain itu, diprediksi terjadi juga di sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, sebagian kecil Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, sebagian besar P. Sulawesi, seluruh Maluku, Papua, Papua Barat, sebagian Papua Barat Daya, sebagian kecil Papua Pegunungan, sebagian besar Papua Selatan, dan sebagian Papua Tengah
Selain itu, diprediksi terjadi juga di sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, sebagian kecil Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, sebagian besar P. Sulawesi, seluruh Maluku, Papua, Papua Barat, sebagian Papua Barat Daya, sebagian kecil Papua Pegunungan, sebagian besar Papua Selatan, dan sebagian Papua Tengah
2. Oktober I 2026
Meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, sebagian besar Riau, Kep. Riau, Bengkulu, Jambi, Kep. Bangka Belitung, Lampung, Sumatera Selatan, sebagian besar Pulau Jawa, Balinusra, sebagian kecil Kalimantan Barat, sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, P. Sulawesi, Maluku, sebagian besar Papua Barat, sebagian Papua Barat Daya, Papua, Papua Tengah, sebagian kecil Papua Pegunungan, dan sebagian besar Papua Selatan
3. Oktober II 2026
Meliputi sebagian kecil Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, sebagian besar Bengkulu, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Lampung, sebagian besar P. Jawa, Balinusra, sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, sebagian kecil Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, sebagian besar P. Sulawesi, Maluku, Papua Barat, sebagian Papua Barat Daya, Papua, Papua Pegunungan, Papua Tengah dan sebagian besar Papua Selatan.
Puncak Musim Hujan Desember 2026 – Februari 2027
Musim hujan 2026/2027 juga diprediksi memiliki durasi yang lebih pendek dibandingkan kondisi normal di sebagian besar wilayah. BMKG memprediksi puncak musim hujan terjadi pada tiga periode utama, yaitu:- Desember 2026: 155 ZOM atau 36,94 persen luas daratan Indonesia.
- Januari 2027: 162 ZOM atau 25,68 persen.
- Februari 2027: 190 ZOM atau 16,79 persen.
Meski durasinya lebih pendek, sifat musim hujan 2026/2027 secara umum diprediksi berada pada kategori normal. BMKG memperkirakan kondisi normal terjadi pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia.
Rekomendasi Kegiatan Antisipasi Musim Kemarau Berlanjut
-
Rekomendasi untuk Sektor Pangan
Selain itu, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) perlu diperkuat untuk menjaga produktivitas pertanian.
-
Rekomendasi Sektor Sumber Daya Air
-
Rekomendasi Sektor Energi
-
Rekomendasi Sektor Kesehatan
BMKG merekomendasikan untuk melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan larvasidasi serta siapkan fasilitas kesehatan untuk mengantisipasi lonjakan kasus DBD serta penyakit akibat genangan pasca hujan/banjir.
-
Rekomendasi Sektor Kebencanaan
Sobat Medcom, yuk tetap waspada dan pantau terus informasi terbaru melalui laman resmi BMKG! (Adinda Kinanthi)