Kedua anomali iklim tersebut terbukti mendatangkan dampak buruk bagi sektor cuaca di Tanah Air. Musim kemarau diprediksi menjadi jauh lebih panjang dari biasanya sehingga berdampak langsung pada mundurnya jadwal kedatangan musim hujan.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, dikutip dari laman bmkg.go.id, Kamis, 24 September 2026.
Akibat kombinasi tekanan iklim ini, sebagian besar zona musim di Indonesia harus mengalami pergeseran waktu basah yang tidak sesuai dengan pola normal klimatologisnya. Situasi darurat ini menuntut kesiapsiagaan seluruh pihak untuk segera merancang langkah mitigasi demi mengantisipasi krisis air dan ancaman kekeringan berkepanjangan.
Lantas, apa sebenarnya fenomena El Niño yang disebut oleh BMKG? Yuk simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Fenomena El Niño?
Mendengar kata El Niño, yang sering kali terlintas dalam pikiran masyarakat adalah kondisi kering, kurangnya curah hujan, hingga permukaan tanah yang retak-retak. Secara ilmiah, El Niño merupakan fenomena memanasnya suhu muka laut di wilayah Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.Dampak dari anomali iklim global ini sangat beragam dan tidak selalu sama di setiap belahan dunia. Di kawasan Amerika Latin seperti Peru, kehadiran El Niño justru memicu peningkatan intensitas curah hujan yang cukup tinggi.
Sebaliknya, bagi sebagian besar wilayah di Indonesia, fenomena alam ini secara umum mendatangkan dampak berupa cuaca kering dan berkurangnya pasokan curah hujan. Kondisi tersebut kemudian berpotensi memperpanjang masa kekeringan dan mengganggu siklus musim yang normal.
Mengapa El Niño Menyebabkan Kekeringan di Indonesia?
Dampak penurunan curah hujan di Indonesia ini diatur oleh sistem atmosfer yang disebut Sirkulasi Walker. Pada kondisi normal atau netral, Sirkulasi Walker di wilayah Indonesia berbentuk konvergen (naik), yang berfungsi meningkatkan potensi pertumbuhan awan konvektif pembentuk hujan.Sebaliknya, saat terjadi El Niño, angin pasat timuran melemah sehingga Sirkulasi Walker bergeser. Di wilayah Indonesia, sirkulasi ini berubah menjadi bentuk subsiden (turun), yang menyebabkan potensi pertumbuhan awan konvektif drastis berkurang dan curah hujan pun merosot.
Klasifikasi dan Parameter Indeks El Niño
El Niño diidentifikasi menggunakan parameter seperti indeks Nino 3.4, yang mengukur nilai anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur.Nilai positif (+) pada indeks ini menandakan suhu muka laut lebih hangat dari normal. BMKG mengklasifikasikan intensitas El Niño menjadi tiga kategori berdasarkan nilai indeks Nino 3.4 yang konsisten selama minimal 5 bulan berturut-turut:
- El Niño Lemah: Indeks berkisar antara 0,5 hingga 1,0.
- El Niño Moderat: Indeks berkisar antara 1,0 hingga 2,0.
- El Niño Kuat: Indeks bernilai lebih dari 2,0 (seperti intensitas ekstrem yang terpantau pada tahun 2026 ini yang mencapai angka di atas +2,6).
Langkah Antisipasi dari BMKG
Menghadapi ancaman nyata dari fenomena El Niño kuat pada periode 2026/2027 ini, BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat untuk segera merancang aksi dini (early action). Beberapa langkah penting yang harus disiapkan meliputi:1. Sektor Pangan
Penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tanaman bersiklus pendek, serta penghematan dan penambahan kapasitas tampung air rumah tangga serta waduk.2. Pengelolaan Sumber Air
Mengidentifikasi potensi cekungan air tanah, pembuatan sumur bor, serta pengoptimalan drainase.3. Kesehatan dan Lingkungan
Mengantisipasi kualitas udara yang kurang sehat, mengontrol penyebaran penyakit akibat genangan, serta tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).Sobat Medcom, itulah informasi mengenai fenomena El Niño yang terjadi di Indonesia. Semoga informasi ini dapat bermanfaat, ya! (Talitha Islamey)