Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan setidaknya 1.300 kematian terjadi di seluruh Eropa akibat kondisi cuaca ekstrem ini. Suhu yang mematikan ini memecahkan rekor di berbagai negara.
Jerman mencatat suhu hingga 41,7°C dan Polandia mencapai 40,5°C. Fenomena ini menjadi alarm peringatan bagi seluruh dunia tentang ancaman krisis iklim yang semakin nyata.
Namun, banyak yang masih keliru gelombang panas sama dengan suhu panas. Nyatanya, gelombang panas berbeda dengan suhu panas yang biasa dirasakan di Indonesia.
Apa perbedaan gelombang panas dan suhu panas? Apakah Indonesia dapat terkena gelombang panas? Simak penjelasannya:
Perbedaan gelombang panas dan suhu panas
Dikutip dari laman bmkg.go.id, menurut WMO (World Meteorological Organization), gelombang panas atau dikenal dengan heatwave merupakan fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama 5 hari atau lebih secara berturut-turut. Suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5°C (9°F) atau lebih.Fenomena gelombang panas ini biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Eropa dan Amerika. Secara dinamika atmosfer, hal tersebut dapat terjadi karena adanya udara panas yang terperangkap di suatu wilayah disebabkan adanya anomali dinamika atmosfer yang mengakibatkan aliran udara tidak bergerak dalam skala yang luas, seperti misalnya ada sistem tekanan tinggi dalam skala yang luas dan terjadi cukup lama.
Sementara itu, suhu panas dipicu oleh faktor pemanasan permukaan sebagai dampak dari siklus gerak semu matahari yang dapat terjadi secara berulang setiap tahun.
Suhu panas yang terjadi di wilayah Indonesia adalah kondisi harian yang umumnya disebabkan oleh cuaca cerah pada siang hari dan relatif lebih signifikan pada saat posisi semu matahari berada di sekitar ekuatorial.
Apakah Indonesia dapat terkena gelombang panas?
Secara geografis, wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi. Selain itu, wilayah Indonesia juga memiliki variabilitas perubahan cuaca yang cepat.Dengan perbedaan karakteristik dinamika atmosfer tersebut, maka dapat dikatakan di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan gelombang panas atau heatwave.
Yang umumnya terjadi di Indonesia hanyalah peningkatan suhu panas harian akibat cuaca cerah dan rendahnya tutupan awan pada siang hari, terutama saat memasuki musim kemarau.
Meski begitu, BMKG memperingatkan masyarakat bersiap menghadapi ancaman puncak kemarau dan potensi El Niño dengan memastikan ketersediaan pasokan air. Apabila kekeringan ekstrem dan suhu harian yang sangat tinggi berlangsung lama di Indonesia, dampak ekologis utamanya akan mirip dengan Amerika dan Eropa namun dengan konsekuensi tropis.
Suhu yang tinggi berpotensi besar memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan lahan gambut yang sangat sulit dipadamkan dan melepaskan emisi karbon masif. Di lautan, naiknya suhu perairan ekuator berisiko tinggi memicu fenomena pemutihan karang (coral bleaching) massal yang mengancam keanekaragaman hayati terumbu karang.
Program Lingkungan PBB (UNEP) memperingatkan agar negara-negara tidak bergantung semata pada AC konvensional. Sebab, hal tersebut mengonsumsi banyak energi dan menggunakan gas refrigeran yang justru memperparah pemanasan global.
Solusi mendasar harus bertumpu pada "pendinginan pasif", seperti memperbanyak penanaman pohon, membangun ruang perlindungan iklim, serta menerapkan tata kota yang mendinginkan (mendisipasi) panas. BMKG juga mengimbau masyarakat menjaga hidrasi dan daya tahan tubuh saat beraktivitas di cuaca yang terik.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda