FITNESS & HEALTH
Kemenkes Kerahkan 2.106 Nakes, 277 Ribu Kasus ISPA Tercatat akibat Karhutla
A. Firdaus
Jumat 16 Oktober 2026 / 07:13
- Kemenkes mengerahkan 2.106 tenaga kesehatan dan menyalurkan sekitar 3 juta masker.
- Selain peningkatan kasus ISPA, hasil pemantauan kualitas udara juga menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai.
- Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Jakarta: Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat terus menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak hingga 12 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus dialami anak berusia 0–5 tahun.
Merespons kondisi tersebut, Kemenkes mengerahkan 2.106 tenaga kesehatan (nakes) untuk memperkuat pelayanan medis di wilayah terdampak. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan gangguan kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.
Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, mengatakan dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat terlihat dari tingginya kasus ISPA yang tercatat hingga pertengahan Oktober 2026.
Selain peningkatan kasus ISPA, hasil pemantauan kualitas udara juga menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai. Berdasarkan data dari 37 stasiun pemantau indeks standar pencemar udara (ISPU), sebanyak 13 daerah berada dalam kategori berbahaya, 11 daerah masuk kategori sangat tidak sehat, dan 13 daerah lainnya berada pada kategori tidak sehat.
“Merespons situasi ini, pemerintah telah memobilisasi 2.106 tenaga kesehatan dan memperkuat layanan kesehatan, sistem rujukan, serta pemantauan penyakit di wilayah terdampak,” kata Widyawati dalam keterangan tertulis, Rabu, 14 Oktober 2026.
Selain mengerahkan tenaga kesehatan, Kemenkes memperkuat kesiapan layanan medis melalui penyaluran perlengkapan kesehatan dan logistik ke sejumlah wilayah terdampak karhutla.
Dukungan tersebut meliputi sekitar tiga juta masker, oksigen konsentrator, obat-obatan, hingga alat pelindung diri (APD). Perlengkapan ini ditujukan untuk mendukung pelayanan kesehatan dan membantu tenaga medis menangani masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan.
Penguatan layanan juga dilakukan melalui sistem rujukan dan pemantauan penyakit. Upaya tersebut diperlukan agar masyarakat yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat memperoleh layanan sesuai kondisi kesehatannya.
Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.
Partikel halus dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu iritasi. Gejala yang dapat muncul antara lain batuk, pilek, tenggorokan terasa perih, sesak napas, hingga memburuknya kondisi penyakit pernapasan yang sudah ada.
Untuk mengurangi paparan asap, masyarakat di wilayah terdampak disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan respirator yang sesuai, seperti N95, apabila tersedia dan dapat digunakan dengan benar.
Masyarakat juga dianjurkan menutup pintu dan jendela saat asap masuk ke lingkungan permukiman serta mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan dari otoritas setempat.
Jika mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala pernapasan yang memburuk, segera cari pertolongan medis. Orang tua juga perlu memperhatikan kondisi anak, terutama jika mengalami napas cepat, kesulitan bernapas, atau tampak sangat lemas.
Penanganan dampak kesehatan karhutla tidak hanya membutuhkan kesiapan tenaga medis, tetapi juga upaya mengurangi paparan asap dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu terus mengikuti perkembangan kualitas udara dan anjuran kesehatan dari pemerintah.
(FIR)
Merespons kondisi tersebut, Kemenkes mengerahkan 2.106 tenaga kesehatan (nakes) untuk memperkuat pelayanan medis di wilayah terdampak. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan gangguan kesehatan akibat memburuknya kualitas udara.
Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, mengatakan dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat terlihat dari tingginya kasus ISPA yang tercatat hingga pertengahan Oktober 2026.
Baca Juga :
277 Ribu Kasus ISPA, Balita Ikut Terdampak
Selain peningkatan kasus ISPA, hasil pemantauan kualitas udara juga menunjukkan kondisi yang perlu diwaspadai. Berdasarkan data dari 37 stasiun pemantau indeks standar pencemar udara (ISPU), sebanyak 13 daerah berada dalam kategori berbahaya, 11 daerah masuk kategori sangat tidak sehat, dan 13 daerah lainnya berada pada kategori tidak sehat.
“Merespons situasi ini, pemerintah telah memobilisasi 2.106 tenaga kesehatan dan memperkuat layanan kesehatan, sistem rujukan, serta pemantauan penyakit di wilayah terdampak,” kata Widyawati dalam keterangan tertulis, Rabu, 14 Oktober 2026.
Kemenkes Salurkan 3 Juta Masker
Selain mengerahkan tenaga kesehatan, Kemenkes memperkuat kesiapan layanan medis melalui penyaluran perlengkapan kesehatan dan logistik ke sejumlah wilayah terdampak karhutla.
Dukungan tersebut meliputi sekitar tiga juta masker, oksigen konsentrator, obat-obatan, hingga alat pelindung diri (APD). Perlengkapan ini ditujukan untuk mendukung pelayanan kesehatan dan membantu tenaga medis menangani masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan.
Penguatan layanan juga dilakukan melalui sistem rujukan dan pemantauan penyakit. Upaya tersebut diperlukan agar masyarakat yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dapat memperoleh layanan sesuai kondisi kesehatannya.
Anak-anak Termasuk Kelompok yang Perlu Diwaspadai
Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.
Partikel halus dalam asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu iritasi. Gejala yang dapat muncul antara lain batuk, pilek, tenggorokan terasa perih, sesak napas, hingga memburuknya kondisi penyakit pernapasan yang sudah ada.
Untuk mengurangi paparan asap, masyarakat di wilayah terdampak disarankan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan respirator yang sesuai, seperti N95, apabila tersedia dan dapat digunakan dengan benar.
Masyarakat juga dianjurkan menutup pintu dan jendela saat asap masuk ke lingkungan permukiman serta mengikuti informasi kualitas udara dan imbauan dari otoritas setempat.
Jika mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala pernapasan yang memburuk, segera cari pertolongan medis. Orang tua juga perlu memperhatikan kondisi anak, terutama jika mengalami napas cepat, kesulitan bernapas, atau tampak sangat lemas.
Penanganan dampak kesehatan karhutla tidak hanya membutuhkan kesiapan tenaga medis, tetapi juga upaya mengurangi paparan asap dan perlindungan terhadap kelompok rentan. Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu terus mengikuti perkembangan kualitas udara dan anjuran kesehatan dari pemerintah.
(FIR)