FITNESS & HEALTH

277 Ribu Kasus ISPA, Balita Ikut Terdampak

A. Firdaus
Kamis 15 Oktober 2026 / 13:18
Ringkasnya gini..
  • Kemenkes mencatat 277.075 kasus ISPA akibat karhutla hingga 12 Oktober 2026.
  • Asap karhutla dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama sistem pernapasan.
  • Masyarakat juga diminta tidak menggunakan nebulizer atau alat terapi inhalasi.
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus atau 22,5 persen terjadi pada anak usia 0–5 tahun.

Data tersebut tercatat secara kumulatif hingga 12 Oktober 2026. Kemenkes terus memantau perkembangan kasus untuk mendeteksi potensi peningkatan jumlah pasien sekaligus memperkuat respons kesehatan di wilayah terdampak.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengatakan asap karhutla dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama sistem pernapasan.

“Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma,” ujar Aji dalam keterangan pers.

Paparan asap karhutla perlu diwaspadai, terutama pada kelompok rentan. Bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia (lansia), serta penderita penyakit paru kronis berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan partikel halus.
 

PM2.5 merupakan partikel polutan berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai paru-paru. Paparan partikel ini dapat memicu iritasi dan memperburuk kondisi pernapasan, terutama pada orang yang memiliki penyakit paru sebelumnya.

Kemenkes mengingatkan orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami tanda bahaya, seperti sesak napas, napas lebih cepat dari biasanya, atau kesulitan menyusu dan minum.

Masyarakat juga diminta tidak menggunakan nebulizer atau alat terapi inhalasi secara sembarangan. Penggunaannya harus berdasarkan indikasi dan petunjuk tenaga medis agar sesuai dengan kondisi pasien.
 

Cara melindungi diri dari paparan asap karhutla


Untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, masyarakat di wilayah terdampak dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Jika harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat dapat membantu menyaring partikel halus di udara.

Apabila respirator tersebut tidak tersedia, masyarakat dapat menggunakan masker medis atau masker kain secara berlapis sebagai alternatif. Namun, perlindungannya tidak setara dengan respirator yang dirancang untuk menyaring partikel halus.

Selain menggunakan masker, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan saat asap pekat, menutup pintu dan jendela ketika udara luar tercemar, serta memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi.

Jika muncul keluhan pernapasan yang memburuk, masyarakat disarankan segera mencari pertolongan medis. Kelompok rentan juga perlu mendapat perhatian lebih agar paparan asap tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.
 

Kemenkes kerahkan ribuan tenaga kesehatan


Di tengah penanganan dampak karhutla, Kemenkes turut mengerahkan tenaga kesehatan dan menyalurkan bantuan perlindungan bagi masyarakat di wilayah terdampak.

Berdasarkan laporan per 12 Oktober 2026, sebanyak 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan telah dimobilisasi. Dukungan logistik juga mencakup lebih dari 2,8 juta masker yang didistribusikan melalui berbagai sumber pemerintah pusat dan daerah.

Pemantauan kasus ISPA dan dukungan layanan kesehatan akan terus dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan situasi. Masyarakat pun diimbau mengikuti arahan otoritas setempat dan tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan selama paparan asap karhutla masih menjadi ancaman.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH