Ilustrasi Pemanfaatan AI oleh UMKM Untuk Desain Baju Nusantara. Dok UPH
Ilustrasi Pemanfaatan AI oleh UMKM Untuk Desain Baju Nusantara. Dok UPH

UPH Latih Penjahit UMKM Manfaatkan AI, Hasilkan Ratusan Busana Adat Anak Nusantara

Ilham Pratama Putra • 30 Juli 2026 15:09
Ringkasnya gini..
  • UPH melatih penjahit UMKM memanfaatkan AI untuk mendesain busana adat anak.
  • Peserta menghasilkan 122 alternatif desain berbasis budaya dari lima daerah.
  • Program mendorong penjahit bertransformasi menjadi kreator produk bernilai ekonomi.
Jakarta: Di tengah membanjirnya produk fesyen impor di pasar digital, busana adat anak dinilai menjadi ceruk pasar yang memiliki potensi besar bagi pelaku usaha lokal. Namun, banyak penjahit rumahan yang belum memiliki kemampuan mengembangkan desain berbasis budaya maupun memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan nilai produknya.
 
Berangkat dari kegelisahan tersebut, Program Studi Desain Produk Universitas Pelita Harapan (UPH) melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 memberikan pendampingan kepada komunitas penjahit di Tangerang. Program yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) itu menggabungkan pelestarian budaya dengan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses desain busana.
 
Ketua pelaksana program PISN 2026, Susi Hartanto, mengatakan selama ini sebagian besar penjahit masih bekerja berdasarkan contoh yang dibawa pelanggan. Kondisi tersebut membuat kreativitas mereka lebih banyak berhenti pada tahap mereplikasi desain dibanding menciptakan karya orisinal.

"Padahal, keterampilan teknis para penjahit sudah sangat baik. Tantangan utamanya adalah bagaimana menerjemahkan kekayaan budaya Indonesia menjadi desain yang memiliki identitas dan nilai tambah," kata Susi dalam keterangan tertulis, Kamis, 30 Juli 2026.
 
Baca juga: Sering Diminta Tanda Tangan Sebelum Berobat? Ini Arti Penting Informed Consent bagi Pasien  

 
Menurut dia, peluang pasar busana adat anak, khususnya untuk anak laki-laki masih terbuka lebar karena jumlah produknya relatif terbatas. Sementara itu, kebutuhan terhadap busana adat terus muncul dalam kegiatan sekolah, pertunjukan seni, hingga perayaan budaya.
 
Melalui program tersebut, peserta diperkenalkan dengan metode Desain Produk Budaya yang mengajarkan cara memahami filosofi di balik motif, warna, simbol, dan bentuk pakaian adat sebelum mengembangkannya menjadi desain baru. Peserta juga mempelajari karakter budaya dari lima daerah, yakni Yogyakarta, Bandung, Bangka Belitung, Medan, dan Surabaya.
 
Setelah memahami unsur budaya, peserta memanfaatkan Generative AI sebagai alat bantu mengeksplorasi berbagai alternatif desain. Hasil yang dihasilkan AI kemudian dikurasi dan disempurnakan agar tetap sesuai dengan nilai budaya yang ingin diangkat.
 
"Program ini tidak hanya mengajarkan cara mendesain pakaian, tetapi juga memperkenalkan metode Desain Produk Budaya yang membantu peserta memahami makna di balik simbol, warna, motif, dan bentuk busana sebelum menerjemahkannya menjadi produk nyata," ujar Susi.
 
Pendekatan tersebut menghasilkan capaian yang melampaui target. Dari target awal sebanyak 30 alternatif desain, peserta berhasil menghasilkan 122 desain berbasis AI yang kemudian diseleksi menjadi lima koleksi busana adat anak laki-laki dari berbagai daerah.
 
Kelima desain tersebut mengangkat identitas budaya masing-masing daerah. Seperti lurik dan keris dari Yogyakarta, kujang serta iket Sunda dari Jawa Barat, kain cual Bangka Belitung, ulos dan Rumah Bolon dari Medan, hingga ikon Suro dan Boyo khas Surabaya.
 
Selain belajar merancang busana, peserta juga memperoleh pelatihan digitalisasi pola menggunakan perangkat lunak Rhino dan Clo. Mereka juga dibekali teknik fotografi produk berbasis AI untuk membantu menyusun katalog digital yang lebih profesional dengan biaya yang lebih efisien.
 
Salah satu peserta, Sri Wisunarsih, mengaku pelatihan tersebut mengubah cara pandangnya terhadap profesi penjahit. Ia kini lebih percaya diri mengembangkan desain sendiri tanpa harus selalu bergantung pada contoh dari pelanggan.
 
"Sekarang saya lebih percaya diri untuk mengembangkan desain sendiri. Saya menyadari bahwa penjahit bukan hanya bisa menjahit dengan rapi, tetapi juga dapat belajar mendesain, memanfaatkan teknologi AI, dan menciptakan busana anak laki-laki yang memiliki identitas serta membawa kebanggaan budaya Indonesia," tutur Sri.
 
Tim UPH menilai keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya desain yang dihasilkan. Perubahan pola pikir pelaku UMKM dari sekadar pembuat pesanan menjadi kreator produk berbasis budaya dinilai menjadi dampak utama yang diharapkan.
 
Pengalaman tersebut juga menunjukkan bahwa AI dapat menjadi alat pendukung kreativitas, bukan pengganti manusia. Teknologi membantu mempercepat eksplorasi ide, sementara pemahaman terhadap budaya tetap menjadi fondasi utama dalam menghasilkan karya yang autentik dan bernilai ekonomi.
 
Baca juga: 5 Peran Kampus dalam Mendorong SDGs, dari Kepemimpinan Pendidikan hingga Solusi Global  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan