FGD dalam Global Sustainable Development Congress. Foto: UPH
FGD dalam Global Sustainable Development Congress. Foto: UPH

5 Peran Kampus dalam Mendorong SDGs, dari Kepemimpinan Pendidikan hingga Solusi Global

Ilham Pratama Putra • 24 Juni 2026 15:11
Ringkasnya gini..
  • Kampus berperan dalam pencapaian SDGs melalui pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.
  • Kepemimpinan pendidikan menjadi kunci menghadapi tantangan global dan mencetak talenta masa depan.
  • Kolaborasi perguruan tinggi, industri, dan pemerintah diperlukan untuk membangun ekosistem berkelanjutan.
Jakarta: Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempercepat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Tidak hanya melalui riset, kampus juga dituntut membangun ekosistem pendidikan yang mampu mencetak pemimpin, menciptakan inovasi, hingga menghadirkan solusi bagi masyarakat.
 
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Global Sustainable Development Congress (GSDC) 2026. Kongeres tersebut mempertemukan pemimpin pendidikan tinggi, peneliti, pemerintah, industri, dan berbagai pemangku kepentingan global.
 
Di era ini, institusi pendidikan dituntut dapat berkontribusi menghadapi berbagai tantangan dunia. Mulai dari perubahan iklim, ketimpangan sosial, transformasi digital, hingga perubahan kebutuhan dunia kerja.
 
Baca juga: Naik Kelas! UNAND Tembus Top 600 Dunia THE Sustainability Impact Ratings 2026

Presiden Universitas Pelita Harapan (UPH), Stephanie Riady, menyoroti pentingnya kepemimpinan pendidikan yang mendukung keberlanjutan. Menurut dia ada 5 peran yang dapat dilakukan kampus dalam mendorong SDG's.


5 Peran Kampus dalam Mendukung Agenda SDGs

Kampus Tidak Lagi Hanya Menjadi Pusat Pendidikan


Perguruan tinggi kini menghadapi tuntutan lebih besar untuk menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat. Dalam konteks SDGs, kampus memiliki peran melalui tiga fungsi utama perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Artinya, keberhasilan kampus tidak hanya diukur dari kualitas lulusan. Tetapi juga dari kontribusinya dalam menjawab persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
 
“Pendidikan membentuk manusia, penelitian menghasilkan solusi, dan pengabdian kepada masyarakat memastikan manfaat nyata. Ketiganya saling terhubung dalam satu siklus yang utuh,” ujar Stephanie dalam keterangannya, dikutip Rabu 24 Juni 2026.

Kepemimpinan Pendidikan Jadi Kunci Menghadapi Tantangan Global


Perubahan dunia yang cepat membuat institusi pendidikan membutuhkan model kepemimpinan baru. Kepemimpinan pendidikan masa depan tidak hanya berfokus pada pengelolaan institusi. 
 
Kepemimpinan pendidikan juga tentang kemampuan membangun kolaborasi antara kampus, mahasiswa, masyarakat, pemerintah, dan industri. Menurut Stephanie, pendidikan perlu menciptakan pemimpin yang mampu beradaptasi dengan perubahan serta memahami kebutuhan masyarakat.
 
“Educational leadership harus dimulai dari kemampuan membangun kolaborasi yang memberdayakan pendidik, mahasiswa, dan masyarakat,” katanya.

Pendidikan Berkelanjutan Perlu Menghasilkan Talenta yang Berdampak


Salah satu tantangan pencapaian SDGs adalah memastikan generasi muda memiliki kemampuan untuk menciptakan perubahan. Karena itu, perguruan tinggi perlu memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman agar mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga terlibat dalam penyelesaian masalah nyata.
 
Baca juga: Spill 20 Universitas Terbaik Dunia QS WUR 2027, Cocok Masuk Wishlist Study Abroad Kamu

 
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan sejumlah kampus adalah melalui program pengabdian masyarakat, riset terapan, hingga proyek keberlanjutan yang melibatkan mahasiswa secara langsung. Di UPH, pendekatan tersebut dilakukan melalui program Service Learning Community (SLC) yang melibatkan mahasiswa dalam proyek di bidang kesehatan, pendidikan, dan lingkungan.


Kolaborasi Kampus dan Industri 


Transformasi dunia kerja menjadi salah satu tantangan yang berkaitan erat dengan pembangunan berkelanjutan. Perguruan tinggi dituntut mampu menjembatani kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.
 
Karena itu, penguatan kerja sama antara kampus, dunia usaha, dan pemerintah menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang relevan. Stephanie mengatakan universitas perlu menjadi penghubung antara pendidikan, industri, dan inovasi melalui pengembangan kurikulum lintas disiplin, riset terapan, program magang, serta pembelajaran berbasis proyek.


Kepemimpinan Inklusif Mendukung SDGs


Agenda SDGs juga menekankan pentingnya pembangunan yang inklusif. Termasuk memberikan kesempatan yang setara bagi setiap individu untuk berkembang.
 
Dalam dunia pendidikan, hal tersebut diwujudkan melalui penciptaan lingkungan kampus yang memberi ruang bagi berbagai bentuk kepemimpinan. Menurut Stephanie, kemampuan memimpin tidak hanya terlihat dari kemampuan komunikasi, tetapi juga dari empati, konsistensi, dan kemampuan memberikan dampak.
 
“Kepemimpinan bukan hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga tentang mengembangkan mereka melalui pendidikan yang membentuk karakter dan mendorong lahirnya agen perubahan,” ujarnya.
 
Melalui pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi salah satu penggerak utama pencapaian SDGs. Perguruan tinggi mesti mampu menggabungkan pendidikan, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor untuk menghadapi tantangan global.
 
Baca juga: Terbaru! 20 Kampus Terbaik Indonesia Versi QS WUR 2027, Ada UI, UGM dan Unair di Top 3

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA