Pola pengasuhan Kafka Bintang Timora membuktikan bahwa les tambahan bukanlah penentu utama kecerdasan anak. Keteladanan ibadah, bimbingan hafalan Al-Qur'an, serta komunikasi yang hangat justru berdampak jauh lebih besar bagi prestasinya.
Orang tua pun diimbau untuk tidak memberikan tekanan belajar berlebihan kepada anak sejak dini. Memaksa anak belajar tanpa memperhatikan kebutuhan emosionalnya hanya akan menghambat tumbuh kembang dan merusak hubungan dengan orang tua.
Bimbingan Belajar Berlebih Hanya Mitos Prestasi
Pengalaman Ibunda Kafka menunjukkan bahwa potensi anak bisa tetap berkembang maksimal tanpa harus dipaksa ikut les. Ibunda Kafka lebih memilih fokus menanamkan nilai-nilai keagamaan dan kedisiplinan ibadah sehari-hari.“Sebetulnya untuk anak-anak, saya tidak punya target apa-apa. Saya cuma mikir yang penting pelajaran di sekolah tidak ketinggalan, salat tepat waktu, dan jangan tinggal ngaji,” ungkap Ibunda Kafka, Indri Meilani dalam Siniar Boss Mama di kanal Youtube Sabrina Anggraini, dikutip Minggu, 6 September 2026.
Dorongan untuk belajar sebaiknya timbul dari keinginan anak sendiri, bukan karena paksaan dari orang tua. Kehadiran orang tua cukup menjadi fasilitator saat anak mulai menemukan impian atau targetnya secara mandiri.
"Aku kan gak ada les dari kecil. Pas kelas 5 mulai diarahin sekolah untuk lomba matematika, aku yang minta les ke Bunda," kata Kafka.
Baca Juga :
Viral Calon Kadet Mundur Soal Hijab, Kemenhan Buka Suara Jelaskan Aturan Latsarmil Unhan
Gunakan Komunikasi Terbuka dan Hangat
Mei mengasuh anak-anaknya dengan menciptakan ruang komunikasi yang jujur dan santai setiap hari. Dia memanfaatkan momen sederhana seperti saat berkendara bersama di dalam mobil untuk mendengarkan semua cerita dan keluh kesah anaknya tanpa gawai.“Jalan 40 menit sampai 1 jam itu keluar semua ceritanya, jadi tidak nunggu sampai masalahnya jadi besar,” kata Mei. “Kuncinya ada di komunikasi, bagaimana kita buat anak merasa aman untuk cerita apa saja tanpa takut dihakimi,” lanjutnya.
Dengan pola pengasuhan yang mengutamakan kehangatan dan rasa aman ini, anak dapat tumbuh dengan mental yang sehat. Pembentukan karakter yang kuat serta ikatan emosional yang harmonis terbukti menjadi fondasi terbaik bagi keberhasilan akademik anak. (Talitha Islamey)