Pengalaman paling berkesan selama menjadi relawan, kata Wahyu, ia dapatkan ketika berada di Lombok, Nusa Tenggara Barat pascagempa. Ia melihat trauma pada anak-anak yang ditemui, hal itu berakibat pada ketakutan dan kepanikan yang tampak jelas di wajah mereka.
Menurut keterangannya, ketika hendak pulang ia disuguhi tangisan anak-anak yang membuatnya tidak tega. Alhasil, Wahyu memutuskan untuk me-
reschedule tiketnya dan mendampingi anak-anak tersebut hingga traumanya reda.
“Saat itu luar biasa menakutkan, karena terjadi gempa susulan yang cukup lama hingga listrik padam,” terang Wahyu yang hobi mendaki gunung itu.
Bagi Wahyu, menjadi relawan bukan alasan untuk melupakan perkuliahan, justru menjadi ajang untuk mengaplikasikan ilmu selama kuliah dengan terjun pada masyarakat. “Kebaikan itu berbeda dengan virus, ketika tertular maka kita harus menularkannya supaya menjadi benih yang tumbuh subur dan dapat kita tuai kelak,” ucap Wahyu.
(CEU)