Warga Padukuhan Tunggul Barat, Semanu, Gunungkidul itu didukung penuh kedua orang tuanya untuk kuliah. Meskipun, sang Ayah, Subyono (51) bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu.
Dalam sebulan, ia hanya bisa mengumpulkan penghasilan kurang lebih Rp1 juta. Sementara sang ibu, Puji (46), sehari-hari sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengandalkan penghasilan dari suaminya untuk memenuhi kebutuhan.
Mimpi yang begitu besar untuk melanjutkan pendidikan tinggi tertanam kuat dalam diri Fecia. Bungsu dari dua bersaudara ini aktif dalam berbagai kegiatan di sekolahnya, SMAN 1 Wonosari Gunungkidul.
Ia aktif di organisasi Patroli Keamanan Sekolah hingga menjadi vokalis band sekolah yang mengantarkannya langganan juara. Kesibukannya ini cukup membuat Fecia kewalahan dalam mengatur waktu dengan mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.
Namun, ia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memprioritaskan kegiatan akademiknya. “Jika di sekolah sedang ada ujian, saya mengutamakan ujian sekolah terlebih dahulu. Setelah itu, jika ada waktu luang setelah pulang sekolah, saya usahakan mencicil belajar sedikit demi sedikit untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi,” cerita Fecia dikutip dari laman ugma.ac.id, Jumat, 24 Juli 2026.
Ia sempat mendaftar lewat jalur SNBP dan SNBT namun belum diterima. Meskipun sempat mengalami beberapa kali kegagalan, ia tidak menyerah begitu saja.
Dengan rain belajar dan senantiasa terus berdoa, Fecia akhirnya diterima masuk UGM melalui jalur ujian mandiri UGM atau UM UGM CBT. Mulanya, Fecia tak percaya berhasil lolos seleksi ujian mandiri UGM.

Fecia bersama teman-teman SMAN 1 Wonosari Gunungkidul. DOK UGM
Ia merasa sangat senang dapat diterima di jurusan impiannya. Sejak awal, ia sudah tertarik mempelajari lebih dalam bidang pertanian, khususnya budidaya tanaman.
Minatnya tersebut didukung penuh oleh kedua orang tuanya, yang paham betul Fecia tertarik pada dunia pertanian. “Dari awal tertariknya, ke pertanian untuk membudidaya tanaman. Karena suka menanam tanaman, jadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang tanaman-tanaman,” kata sang Ibu, Puji.
Sempat khawatir soal biaya, namun Puji percaya anaknya memiliki rezekinya sendiri. “Memang secara hitung-hitungan penghasilannya cuma segini, tapi dari awal kan insyaallah anak saya itu kan memiliki rezeki sendiri gitu,” ujar Puji.
Berkat doa orang tua dan kegigihan Puji yang mengajukan beasiswa subsidi Uang Kuliah Tunggal dari pihak Kampus, ia berhasil mendapatkan Beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100% atau biaya UKT 0.
Fecia mengaku bersyukur bisa diterima kuliah gratis di UGM dan diterima di prodi yang sesuai dengan minatnya. Ia berterus terang kedua orang tuanyalah yang menjadi sosok inspiratifnya dalam meraih mimpi.
Merekalah yang menjadi alasan bagi Fecia untuk terus berjuang, tidak mudah menyerah, dan terus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. “Mereka sudah berjuang banyak buat aku, sudah ngorbanin semuanya buat aku sampai apa ya cari uang ke mana-mana gitu,” tutur dia.
Keberhasilan Fecia lolos kuliah di UGM ini disambut gembira kedua orang tuanya. Puji berharap Fecia bisa menjalankan kuliah dengan lancar.
Ia dan suaminya selalu memberikan dukungan. “Kami selalu mengajarkan Fecia untuk selalu banyak berdoa, berusaha secara maksimal semampunya, dan memasrahkan hasil akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” ucap Puji.
Fecia berpesan kepada teman-teman seperjuangan, untuk tetap semangat dan optimis dalam meraih mimpi. Ia selalu percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil.
“Meskipun saya sendiri memiliki banyak kekurangan dan belajar kurang maksimal, saya percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil,” pesan dia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda