Alifia Citra Ayuningtyas. Foto: UGM
Alifia Citra Ayuningtyas. Foto: UGM

Tolak Menyerah! Anak ART Tembus UGM dan Raih Beasiswa Penuh

Citra Larasati • 17 Juli 2026 13:30
Ringkasnya gini..
  • Fia, anak sulung dari ibu yang bekerja sebagai ART, sukses tembus Agronomi UGM lewat jalur SNBT usai sempat gagal di SNBP.
  • Sempat khawatir biaya, Fia akhirnya raih beasiswa penuh ParagonCorp mulai dari UKT, dana awal, hingga laptop.
  • Kisah Fia buktikan Gen Z dengan ekonomi terbatas tetap bisa putus rantai kemiskinan lewat pendidikan.
Jakarta: Menjadi anak sulung sering kali diidentikkan dengan beban ekspektasi keluarga. Namun bagi Alifia Citra Ayuningtyas, status tersebut justru menjadi bahan bakar utama untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka gerbang masa depan yang lebih cerah.
 
Perjuangan perempuan yang akrab disapa Fia ini akhirnya berbuah manis. Ia resmi diterima sebagai mahasiswa baru Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM).
 
Tumbuh sebagai anak yatim sejak 2014, Fia dan dua adiknya dibesarkan oleh sang ibu, Martini, yang berjuang sebagai orang tua tunggal sekaligus tulang punggung keluarga. Tekad Fia untuk mengenyam pendidikan tinggi tak pernah padam.

Sewaktu di bangku SMA, ia berhasil meraih beasiswa penuh di SMA Unggulan CT ARSA Foundation dan membuktikan kapasitas dirinya, mulai dari menjadi English Ambassador, aktif di organisasi jurnalistik, hingga menyabet Juara III Lomba Business Model Canvas.
 
Langkahnya menuju kampus impian tidak diraih dengan instan. Fia sempat menelan pil pahit kegagalan saat mencoba jalur SNBP di program studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM. Pantang mundur, ia kembali bertarung lewat jalur SNBT dan akhirnya dinyatakan lolos.
 
“Saya ingat, Jam 3 sore. Yang membukakan pengumuman saat itu adik saya, adik saya teriak ‘lolos kak, alhamdulillah!’. Bersyukur, saya lolos di pilihan agronomi,” kata Fia menceritakan momen bahagianya, dikutip dari laman UGM, Jumat, 17 Juli 2026.
 
Keputusannya memilih UGM sangat rasional, ia mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga. Kuliah di Yogyakarta dinilai lebih ramah di kantong, ditambah banyaknya peluang beasiswa yang ditawarkan kampus kerakyatan tersebut.
 
Sang ibu, Martini, tak kuasa menyembunyikan rasa harunya. Penghasilannya yang terbatas sebagai buruh lepas dan asisten rumah tangga (ART) sempat membuatnya ragu bisa menguliahkan sang anak.
 
“Saya sangat bersyukur. Saya yang hanya bekerja sebagai buruh lepas dan asisten rumah tangga dengan penghasilan yang sangat terbatas. Alhamdulillah sekarang Fia bisa sampai di titik ini, diterima di UGM, masih mendapat dukungan, dan diperkenalkan dengan Paragon. Semoga Allah membalas semua kebaikan beliau-beliau,” tutur Martini.
 
Meski demikian, realita kehidupan masih terus berjalan. Martini mengaku kebutuhan operasional harian tetap menjadi tantangan tersendiri bagi keluarganya.
 
“Kadang aduh gimana ya besok. Mungkin untuk beasiswanya dapat, untuk biayanya ya dari beasiswa, tetapi untuk kebutuhan sehari-hari seperti transportasi dari rumah, kan motornya cuma satu. Kalau mau ngekos pun harus ada biaya. Tapi bismillah saja dulu, bagaimana nanti Tuhan kasih jalan,” ujar Martini optimistis.
 
Bagi Martini, pendidikan adalah senjata terbaik untuk anak-anaknya. “Pokoknya harus punya mimpi untuk pendidikan yang lebih baik. Apa pun keadaan keluargamu, jangan pernah mematahkan mimpimu. Teruslah belajar dan mengejar apa yang kamu inginkan, apa yang kamu mimpikan,” pesannya.
 
Kerja keras ibu dan anak ini akhirnya dijawab lunas. Fia tidak hanya diterima di UGM, tetapi juga memborong beasiswa dari ParagonCorp melalui kolaborasi dengan UGM. Fia menerima bantuan dana awal sebesar Rp5 juta, fasilitas laptop, pembiayaan Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga lulus, serta akses ke program pengembangan kepemimpinan.
 
Kisah ketangguhan Fia juga mendapat sorotan dari pihak kampus. Sekretaris Universitas (SU) UGM, Dr. Andi Sandi Antonius Tabusassa Tonralipu, secara khusus memberikan apresiasi atas daya juang luar biasa dari Fia dan ibunya.
 
If you have a dream, you can fight for it. Kami mengucapkan selamat kepada Fia dan Ibu. Karena Fia adalah anak sulung, jangan jadikan itu sebagai beban, tetapi jadikan sebagai motivasi untuk menjadi teladan. Jangan pernah berkecil hati karena setiap orang memiliki talenta masing-masing. Sekarang jalannya sudah terbuka, tetapi ini bukan akhir dari perjuangan, melainkan titik tengah dari perjalanan yang masih panjang,” ujar Andi.
 
Sebelum menutup ceritanya, Fia menitipkan pesan motivasi yang kuat, khususnya bagi para Gen Z yang tengah menghadapi struggle serupa.
 
”Keterbatasan ekonomi bukan berarti teman-teman harus membatasi impian. Tetap semangat dan jangan menyerah. Teman-teman masih punya banyak jalan dan akan bertemu dengan banyak orang baik yang bisa membantu, memberikan arahan, atau membuka kesempatan yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya,” ujar Fia.
 
“Jangan takut untuk mencoba semua hal. Meskipun kita belum tahu hasilnya seperti apa, suatu hari nanti pengalaman itu akan menjadi cerita, penyemangat, atau membentuk karakter kita menjadi lebih kuat. Jadi, jangan takut bermimpi setinggi apa pun, karena selalu ada jalan bagi mereka yang terus berusaha,” tutupnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan