Ia membawa kabar baik yang diharapkan bakal mengubah jalan hidup keluarganya. Ia resmi diterima di Program Studi Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) lewat jalur SNBT dengan biaya kuliah gratis sepenuhnya.
Di balik senyum bahagianya siang itu, ada cerita panjang tentang tekad, keterbatasan, dan perjuangan melawan insecure. Sejak sang ayah berpulang pada 2021, ibunda Hanon, Tri Andayani, 53 tahun, menjadi tulang punggung tunggal keluarga dengan menggarap sawah. Kondisi ekonomi keluarga yang serba pas-pasan membuat Hanon sempat ketar-ketir saat melihat nominal Uang Kuliah Tunggal (UKT) pertamanya.
“Awalnya saya mendapat subsidi UKT sebesar 75 persen. Jadi waktu itu UKT saya berkisar Rp3.375.000. Jujur, jumlah itu masih berat bagi kami,” tutur Hanon dikutip dari laman UGM, Rabu, 15 Juli 2026.
Berjuang Banding UKT hingga Rp0
Tak mau menyerah pada keadaan, Hanon bersama sang kakak, Pranasakti Yogaswara, 30 tahun, nekat mendatangi Departemen Teknik Kimia UGM. Tujuannya satu, memperjuangkan nasibnya lewat jalur banding UKT.Keberanian dan kejujurannya berbuah sangat manis. Pihak kampus akhirnya mengabulkan permohonan tersebut dan memberikan subsidi UKT 100 persen.
“Alhamdulillah hasilnya UKT saya turun menjadi 100 persen atau jadi gratis. Saat itu saya langsung lari mengunjungi ibu ke sawah dan bilang kalau UKT saya jadi nol rupiah,” kenang Hanon sembari menahan haru.
Tembus Skor 800 Berkat YouTube
Kisah lolosnya Hanon ke kampus impian juga layak diacungi jempol. Kalau mayoritas anak SMA menghabiskan jutaan rupiah untuk bimbingan belajar (bimbel) persiapan SNBT, Hanon memilih jalan ninjanya sendiri. Alumnus SMAN 9 Yogyakarta ini memilih memanfaatkan fasilitas gratis di internet.“Kalau mau les juga kasihan sama ibu, biayanya mahal. Jadi saya mengandalkan pembelajaran di sekolah, nonton YouTube, cari soal di internet, atau nimbrung sama teman-teman yang lagi bahas soal,” kenang Hanon.
Meski berbekal kuota dan YouTube, hasil belajarnya tak main-main. Hanon berhasil mencetak skor rata-rata SNBT 730. Satu lagi yang membuat takjub, pada subtes paling killer seperti Penalaran Matematika dan Pengetahuan Kuantitatif, ia sukses menembus skor 800!
Doa Sang Ibu
Keberhasilan Hanon tak lepas dari keajaiban doa sang ibu. Tri menceritakan, rutinitasnya mengantar Hanon ke sekolah selalu diwarnai harapan saat melihat kemegahan kampus UGM dari kejauhan.“Saya tidak bisa membantu dia belajar atau membiayai bimbel di luar. Yang bisa saya lakukan hanya berdoa. Setiap mengantar sekolah, saya selalu berdoa semoga Hanon bisa kuliah di UGM. Alhamdulillah, sekarang doa kami dikabulkan,” ujar Triya sembari menyeka air mata.
Kini, Tri hanya memiliki satu harapan besar untuk anak gadisnya, menuntaskan pendidikan sebaik mungkin. “UGM sudah memberi kemudahan kepada kami. Sekarang tinggal bagaimana dia membalasnya dengan prestasi. Semoga Hanon bisa memberikan hasil yang terbaik,” harap Triya.
Pesan itu ditangkap dengan sangat baik oleh Hanon. Baginya, status sebagai mahasiswa Teknik Kimia UGM dengan subsidi penuh adalah sebuah amanah besar. “Saya merasa ini adalah tanggung jawab. Saya sudah diberi kesempatan kuliah di UGM dan dibantu UKT sampai 100 persen, jadi saya harus benar-benar serius menjalani kuliah dan lulus tepat waktu,” tutupnya mantap.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda