Tinggal di rumah panggung berdinding anyaman bambu dengan tiang kayu lontar di Desa Raenalulu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Yusmar harus menghadapi kerasnya hidup sejak kecil. Ia tumbuh tanpa kasih sayang orang tua; sang ayah meninggal saat usianya baru satu tahun, dan sang ibu pindah membangun lembaran baru.
Sejak saat itu, Yusmar dirawat oleh kakeknya, Rehabeam Wadu Dima, 75 tahun, yang bekerja sebagai petani, dan neneknya, Welmintje Wila Magga, 67 tahun, yang sehari-hari berjualan kue. Himpitan ekonomi membuat akses pendidikan menjadi barang mewah.
Kakek dan neneknya tidak pernah mengenyam pendidikan formal, bahkan tidak menguasai bahasa Indonesia. Hal ini membuat Yusmar mengalami keterlambatan belajar dibanding anak-anak seusianya. “Saya dulu baru bisa membaca waktu kelas 5 SD karena memang tidak ada yang mengajari. Opa dan Oma juga tidak sekolah, bahkan tidak bisa bahasa Indonesia. Waktu pandemi Covid-19 baru punya handphone, dari situ saya berkomitmen untuk serius belajar,” jelasnya.
Jemput Bola Demi Mengejar Prestasi
Awalnya, cucu pertama di keluarganya ini tidak pernah menaruh asa untuk kuliah. Namun, pandangannya berubah 180 derajat saat ia duduk di kelas 12 SMA dan mengikuti ajang Duta Siswa Indonesia.“Dari situ, saya benar-benar terbuka pikiran bahwa pendidikan itu sangat penting, apalagi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi,” tuturnya dikutip dari laman UGM, Senin, 13 Juli 2026.
Yusmar bukanlah tipe siswa pasif. Ia aktif menjabat sebagai wakil ketua OSIS dan berkegiatan di Pramuka. Sempat menunggu dua tahun untuk ditunjuk sekolah mewakili ajang perlombaan tanpa hasil, Yusmar akhirnya mengambil langkah proactive mendaftarkan dirinya sendiri ke berbagai olimpiade dan kompetisi.
“Selama dua tahun saya menunggu dipilih guru untuk ikut lomba, tapi tidak pernah dapat kesempatan. Akhirnya pada saat kelas 12 saya tidak mau menyesal, jadi saya mulai daftar sendiri ikut berbagai lomba,” terangnya.
Bangun Pagi Demi Mimpi
Sibuknya jadwal organisasi tidak membuat nilai akademiknya hancur. Sadar waktunya habis untuk kegiatan sekolah hingga malam, ia menyiasatinya dengan belajar di waktu yang tidak biasa. “Hampir setiap hari saya bangun sekitar pukul 04.00 hingga 05.00 untuk membaca kembali materi yang akan dipelajari di sekolah. Pagi hari menjadi waktu paling efektif untuk memahami pelajaran karena kondisi tubuh dan pikiran masih segar,” tuturnya.Perjuangan gigih dan strategi belajarnya berbuah manis. Yusmar berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan diterima di program studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM. Lebih membanggakan lagi, ia sukses meraih beasiswa UKT pendidikan unggul bersubsidi 100 persen, yang membebaskannya dari biaya kuliah.
Mendobrak Stigma Anak 3T
Pemilihan jurusan Ilmu Komunikasi bukan tanpa alasan. Yusmar sadar betul akan passion-nya di bidang komunikasi kreatif dan content creating. Terlebih, ia punya misi khusus untuk mematahkan stigma bahwa anak dari daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) tidak bisa bersaing.“Saya suka berkomunikasi, suka membuat konten di media sosial. Jadi Ilmu Komunikasi benar-benar sesuai dengan minat saya. Saya juga punya prinsip ingin keluar dari zona nyaman dan ingin membuktikan bahwa kita yang berasal dari daerah terpencil juga bisa bermimpi dan kuliah di kampus besar seperti UGM,” jelasnya.
Sebagai penutup, Yusmar menitipkan pesan powerful untuk Gen Z lainnya yang sedang struggling meraih pendidikan tinggi. Ia menekankan bahwa privilese bukanlah segalanya.
“Nikmati prosesnya, jangan hanya mengejar hasilnya saja. Jangan mengecilkan mimpi kalian hanya karena berasal dari daerah 3T atau memiliki keterbatasan ekonomi. Kalau ingin lolos SNBP, siapkan strategi yang matang dan percaya pada usaha serta doa,” pungkas Yusmar.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda