Para Pengagum Kakbah Sebelum Islam
ILUSTRASI: Kakbah tempo dulu/kemenag.go.id
Jakarta:Mekah kian memesona. Kehadiran kakbah yang dibangun Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as. telah menambah nilai Tanah Haram yang sebelumnya cuma tempat singgah belaka.

Selepas kedua manusia mulia itu meninggal dunia, kakbah tetap dirawat dan menjadi daya tarik dari masa ke masa. Bahkan, terus menjadi rebutan sampai Islam datang.


Klaim kepercayaan

Ibn al Kalbi dalam Kitab al Ashnam meceritakan, dahulu, setiap orang yang melewati Mekah nyaris pasti menyempatkan diri mengambil batu atau tanah dari sekitaran kakbah. Sepulangnya di negeri masing-masing, mereka akan tawaf mengelilingi oleh-oleh yang mereka bawa itu sebagaimana yang ia lakukan ketika di Tanah Haram. 

"Hal itu merupakan bukti pengagungan, cinta, dan rindu terhadap baitullah," tulis al Kalbi.

Kemasyhuran kakbah, tidak cuma beredar di kalangan masyarakat jazirah. Di luar Arab, kabar tentang kesuciannya merangsek hingga ke sendi-sendi kepercayaan mereka.

Al Kalbi mencontohkan masyarakat India yang pernah mendatangi mereka. Orang-orang di sana meyakini bahwa hajar aswad yang terletak di sisi tenggara kakbah adalah reinkarnasi ruh Siwa. 

Menurut mereka, proses penjelmaan itu terjadi ketika sang dewa dan istrinya mengunjungi Hijaz.

Baca: Riwayat Hajar Aswad
 
"Mereka menyebut kakbah dengan istilah Maksyisya, Muksyisya, atau Muksyisyana yang berarti rumah Syisya atau Syisyana. Keduanya, merupakan nama dewa yang mereka percaya," tulis dia.

Beda lagi dengan kaum Persia. Abu al Hasan Ali ibn al Husayn ibn Ali al Mas'udi dalam Muruj adz Dzahab wa Ma'adin al Jauhar berkisah, bangsa Persia juga mengagungkan kakbah karena meyakini Hormuz menetap di sana. 

"Hormuz, dipercaya kaum Persia sebagai salah satu anak Nabi Ibrahim as," tulis al Mas'udi.

Kepercayaan kalangan Persia atas keluhuran kakbah berlangsung cukup lama. Di setiap generasi, mereka mengharuskan adanya keterwakilan yang berhak mengunjungi Tanah Suci. Al Mas'udi mencatat, orang terakhir dari mereka bernama Sasan ibn Babak.

Baca: Magnet Kakbah dan Putra-putra Ismail yang Terusir

Tak cuma kakbah

Bukan hanya kakbah yang memikat perhatian. Tentu, menyumbernya air zamzam turut menyulap Mekah menjadi kota penting secara agama, politik, ekonomi, dan budaya.

Yaqut al Hamawi dalam Mu'jam al Buldan menjelaskan, muasal nama zamzam juga diambil dari banyaknya kendaraan kuda penduduk negeri seberang ketika berhaji ke Tanah Haram. 

"Sumur zamzam diadopsi dari kata zamzamah, suara tegukan kuda ketika meminum air demi menghilangkan dahaga," tulis al Hamawi.

Lantaran amat menarik orang luar, kakbah menjadi obyek rebutan antarpenguasa. Peperangan dan penyingkiran lazim terjadi. Hal itu berlangsung sejak Nabi Ismail as. tiada.

Imam ath Thabari dalam Tarikh al Umam wa al Muluk menegaskan, percekcokan kekuasaan itu baru reda ketika hak pemeliharaan kakbah jatuh kepada sosok bernama Abdul Muthalib. Dia adalah wakil Bani Abdu Manaf yang mencetuskan sistem kepemimpinan baru melalui musyawarah pembagian kekuasaan.

"Perebutan kepemimpinan Mekah akhirnya bisa diselesaikan tanpa peperangan. Mereka lebih sepakat untuk membagi kekuasaan. Urusan penyediaan air dan pelayanan akomodasi haji diserahkan kepada Bani Abdu Manaf, sementara di bidang politik keamanan, seperti pemegang kunci Kakbah dan bendera perang diserahkan kepada Bani Abdud Dur," tulis ath Thabari.

Baca: Suku Quraisy yang Demokratis

Abdul Muthalib ialah kakek dari Nabi Muhammad saw. Setelah Islam datang, kakbah dikembalikan Nabi kepada sebenar-benarnya kesucian. Tempat pengabdian, bukan penyekutuan Tuhan. 




(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id