KULINER
Adu Kreativitas Olah Daging Australia Jadi Hidangan di JBC All-Stars 2026
Elang Riki Yanuar
Jumat 04 September 2026 / 19:41
- JBC All-Stars 2026 menguji 12 tim mengolah daging Australia dari teknik butchery hingga menjadi hidangan kreatif.
- Evan Jatmiko Wibisono dan Ismail Ali dari The Langham Jakarta menjadi juara JBC All-Stars 2026 sekaligus meraih penghargaan Best Butchery.
- Kompetisi JBC All-Stars 2026 menyoroti kreativitas mengolah Australian Wagyu, Angus, dan natural beef menjadi sajian bernilai kuliner.
Jakarta Butchers' Challenge atau JBC All-Stars 2026 menghadirkan pertarungan keterampilan mengolah daging yang tak hanya berfokus pada teknik memotong. Digelar di Park Hyatt Jakarta pada Rabu, 2 September 2026, kompetisi ini mempertemukan 12 tim terbaik dalam ajang yang menggabungkan keahlian butchery dan kreativitas memasak.
Mengusung tema Meatcopedia 2026, Beyond the Cut: From Source to Standard, JBC All-Stars 2026 membawa konsep pengolahan daging dari tahap awal hingga menjadi hidangan yang siap disajikan. Para peserta dituntut memahami karakter bahan, menentukan potongan yang tepat, kemudian mengolahnya menjadi sajian dengan nilai kuliner dan komersial.
Evan Jatmiko Wibisono dan Ismail Ali dari The Langham Jakarta berhasil menjadi juara pertama JBC All-Stars 2026. Keduanya juga meraih penghargaan Best Butchery berkat kemampuan mengolah bahan secara presisi sekaligus memaksimalkan potensi setiap bagian daging.
“Perbedaan kompetisi kali ini terletak pada formatnya yang benar-benar difokuskan untuk peserta profesional. Sesi butchery dan cooking juga kami pisahkan agar kemampuan peserta dapat dinilai lebih mendalam. Karena ini Jakarta Butchers’ Challenge, kemampuan butchery menjadi penilaian utama dengan bobot 60 persen, sementara cooking memiliki bobot 40 persen,” ujar Charlos Lalack, Direktur Butchery Training Centre.
Salah satu tantangan utama dalam kompetisi ini adalah mengolah tiga jenis daging sapi Australia dengan karakter berbeda. Peserta menggunakan Australian Wagyu dari Sher Wagyu, premium grass-fed Angus beef dari Bass Strait Beef, serta natural Australian beef dari Greenham Natural Beef.
Perbedaan karakter tersebut membuat peserta harus menentukan strategi pengolahan yang sesuai. Mulai dari teknik pemotongan, pemanfaatan setiap bagian daging, hingga metode memasak menjadi bagian penting untuk menghasilkan hidangan yang optimal.
Dari sisi kuliner, tantangan tersebut menguji kemampuan peserta dalam mengubah bahan premium menjadi sajian yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki cita rasa dan teknik pengolahan yang tepat. Peserta juga dituntut mempertimbangkan konsistensi serta efisiensi penggunaan bahan untuk kebutuhan restoran, retail, dan foodservice.
Posisi kedua JBC All-Stars 2026 ditempati Sandy Tri Pamungkas dan Ade Muhammad Samsu dari Sudestada. Sementara itu, Nur Abadi dan Deni Risnawan dari Foodhall berhasil mengamankan posisi ketiga dalam kompetisi yang menjadi pertemuan para talenta terbaik dunia butchery profesional tersebut.
Penghargaan Best Dish diberikan kepada Adrian Winoto dan Farrell Aurelio Tjokrowinoto dari Confit Surabaya. Keduanya mencuri perhatian lewat wet-heat main course berupa braised beef dish yang memperlihatkan bagaimana hasil butchery dapat dikembangkan menjadi hidangan dengan teknik memasak yang matang.
Penilaian kompetisi dilakukan oleh empat praktisi industri, yakni Chef Gilles Marx, Chef Victor Taborda, Master Butcher Tri Wahyu Wahono, dan Chef Stefu Santoso. Keempatnya membawa pengalaman dari berbagai bidang, mulai dari professional butchery, teknik kuliner, optimalisasi bahan, hingga penerapan produk dalam industri makanan.
Tri Wahyu Wahono juga memiliki pengalaman internasional setelah menjadi peserta pertama dari Asia sekaligus satu-satunya representatif Asia dalam kategori World Champion Young Butcher pada World Butchers’ Challenge 2025 di Paris. Pengalamannya menjadi salah satu perspektif dalam menilai kemampuan para peserta JBC All-Stars 2026.
Kompetisi ini menunjukkan bahwa dunia butchery memiliki kaitan erat dengan perkembangan industri kuliner. Kemampuan seorang butcher bukan hanya ditentukan oleh kecepatan memotong daging, tetapi juga pemahaman terhadap bahan, efisiensi penggunaan produk, hingga kemampuan menghasilkan potongan yang mendukung proses memasak.
Format All-Stars juga menjadi ruang bagi para profesional kuliner untuk memperlihatkan bagaimana satu bahan dapat dikembangkan menjadi berbagai produk dan hidangan. Pendekatan tersebut semakin relevan bagi industri restoran dan hospitality yang membutuhkan kualitas bahan sekaligus efisiensi dalam pengolahan.
Memasuki lima tahun perjalanan JBC, ajang ini turut memperkuat komunitas professional butchers di Indonesia. Pertemuan para juara, peserta unggulan, juri, dan pelaku industri membuka peluang pertukaran pengetahuan serta kolaborasi dalam ekosistem daging, kuliner, food and beverage, dan hospitality.
(ELG)
Mengusung tema Meatcopedia 2026, Beyond the Cut: From Source to Standard, JBC All-Stars 2026 membawa konsep pengolahan daging dari tahap awal hingga menjadi hidangan yang siap disajikan. Para peserta dituntut memahami karakter bahan, menentukan potongan yang tepat, kemudian mengolahnya menjadi sajian dengan nilai kuliner dan komersial.
Evan Jatmiko Wibisono dan Ismail Ali dari The Langham Jakarta berhasil menjadi juara pertama JBC All-Stars 2026. Keduanya juga meraih penghargaan Best Butchery berkat kemampuan mengolah bahan secara presisi sekaligus memaksimalkan potensi setiap bagian daging.
“Perbedaan kompetisi kali ini terletak pada formatnya yang benar-benar difokuskan untuk peserta profesional. Sesi butchery dan cooking juga kami pisahkan agar kemampuan peserta dapat dinilai lebih mendalam. Karena ini Jakarta Butchers’ Challenge, kemampuan butchery menjadi penilaian utama dengan bobot 60 persen, sementara cooking memiliki bobot 40 persen,” ujar Charlos Lalack, Direktur Butchery Training Centre.
Salah satu tantangan utama dalam kompetisi ini adalah mengolah tiga jenis daging sapi Australia dengan karakter berbeda. Peserta menggunakan Australian Wagyu dari Sher Wagyu, premium grass-fed Angus beef dari Bass Strait Beef, serta natural Australian beef dari Greenham Natural Beef.
Perbedaan karakter tersebut membuat peserta harus menentukan strategi pengolahan yang sesuai. Mulai dari teknik pemotongan, pemanfaatan setiap bagian daging, hingga metode memasak menjadi bagian penting untuk menghasilkan hidangan yang optimal.
Dari sisi kuliner, tantangan tersebut menguji kemampuan peserta dalam mengubah bahan premium menjadi sajian yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki cita rasa dan teknik pengolahan yang tepat. Peserta juga dituntut mempertimbangkan konsistensi serta efisiensi penggunaan bahan untuk kebutuhan restoran, retail, dan foodservice.
Posisi kedua JBC All-Stars 2026 ditempati Sandy Tri Pamungkas dan Ade Muhammad Samsu dari Sudestada. Sementara itu, Nur Abadi dan Deni Risnawan dari Foodhall berhasil mengamankan posisi ketiga dalam kompetisi yang menjadi pertemuan para talenta terbaik dunia butchery profesional tersebut.
Penghargaan Best Dish diberikan kepada Adrian Winoto dan Farrell Aurelio Tjokrowinoto dari Confit Surabaya. Keduanya mencuri perhatian lewat wet-heat main course berupa braised beef dish yang memperlihatkan bagaimana hasil butchery dapat dikembangkan menjadi hidangan dengan teknik memasak yang matang.
Penilaian kompetisi dilakukan oleh empat praktisi industri, yakni Chef Gilles Marx, Chef Victor Taborda, Master Butcher Tri Wahyu Wahono, dan Chef Stefu Santoso. Keempatnya membawa pengalaman dari berbagai bidang, mulai dari professional butchery, teknik kuliner, optimalisasi bahan, hingga penerapan produk dalam industri makanan.
Tri Wahyu Wahono juga memiliki pengalaman internasional setelah menjadi peserta pertama dari Asia sekaligus satu-satunya representatif Asia dalam kategori World Champion Young Butcher pada World Butchers’ Challenge 2025 di Paris. Pengalamannya menjadi salah satu perspektif dalam menilai kemampuan para peserta JBC All-Stars 2026.
Kompetisi ini menunjukkan bahwa dunia butchery memiliki kaitan erat dengan perkembangan industri kuliner. Kemampuan seorang butcher bukan hanya ditentukan oleh kecepatan memotong daging, tetapi juga pemahaman terhadap bahan, efisiensi penggunaan produk, hingga kemampuan menghasilkan potongan yang mendukung proses memasak.
Format All-Stars juga menjadi ruang bagi para profesional kuliner untuk memperlihatkan bagaimana satu bahan dapat dikembangkan menjadi berbagai produk dan hidangan. Pendekatan tersebut semakin relevan bagi industri restoran dan hospitality yang membutuhkan kualitas bahan sekaligus efisiensi dalam pengolahan.
Memasuki lima tahun perjalanan JBC, ajang ini turut memperkuat komunitas professional butchers di Indonesia. Pertemuan para juara, peserta unggulan, juri, dan pelaku industri membuka peluang pertukaran pengetahuan serta kolaborasi dalam ekosistem daging, kuliner, food and beverage, dan hospitality.
(ELG)