FITNESS & HEALTH

DBD Bukan Penyakit Biasa, Waspadai Gejala hingga Tanda Bahayanya

A. Firdaus
Sabtu 05 September 2026 / 11:22
Ringkasnya gini..
  • DBD masih menjadi ancaman kesehatan di Indonesia.
  • Salah satu hal yang membuat dengue berbahaya adalah gejala awalnya yang dapat terlihat seperti penyakit demam lainnya.
  • Pemerintah juga memasang target ambisius, yakni nol kematian akibat dengue pada 2030.
Jakarta: Demam Berdarah Dengue (DBD) bukan penyakit baru bagi masyarakat Indonesia. Hampir enam dekade penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes ini masih menjadi ancaman kesehatan yang perlu diwaspadai.

Kasus DBD pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1968 melalui kejadian luar biasa (KLB) di Jakarta dan Surabaya. Saat itu tercatat 58 kasus dengan 24 kematian. Tingkat kematiannya mencapai 41,3 persen.

Sejak saat itu, penanganan DBD terus berkembang. Perbaikan tata laksana kasus dan berbagai upaya pengendalian berhasil menekan angka kematian hingga di bawah 1 persen.

Namun, penurunan angka kematian bukan berarti dengue bisa dianggap sepele.

DBD masih ditemukan di berbagai wilayah Indonesia dan dapat menyerang siapa saja, tanpa mengenal usia maupun tempat tinggal. Penyakit ini juga tidak hanya muncul ketika musim hujan sehingga kewaspadaan perlu dijaga sepanjang tahun.
 

DBD Bisa Terlihat seperti Demam Biasa


Salah satu hal yang membuat dengue berbahaya adalah gejala awalnya yang dapat terlihat seperti penyakit demam lainnya.

Dokter sekaligus kreator konten, dr. Gia Pratama Putra, mengatakan kondisi pasien bahkan dapat berubah dengan cepat.

“Pada fase awal, DBD dapat sulit dibedakan dari penyakit demam lainnya. Yang membuat dengue berbahaya adalah ketika keluarga merasa demamnya sudah membaik, padahal justru pada fase tertentu kondisi pasien bisa memburuk cepat,” ujar dr. Gia.

Karena itu, orang yang mengalami demam perlu dipantau kondisinya, terutama ketika muncul tanda-tanda yang mengarah pada kondisi serius.

Beberapa tanda bahaya yang perlu diperhatikan antara lain nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh terasa sangat lemas, gelisah, atau penurunan kesadaran.

Jika gejala tersebut muncul, pasien perlu segera mendapatkan pertolongan medis.

“Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat,” katanya.
 

Beban DBD Tak Hanya Dirasakan Pasien


Dampak dengue juga tidak berhenti pada kondisi kesehatan pasien.

Studi Burden of Disease yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada memperkirakan lebih dari 2 juta rawat inap akibat DBD terjadi di Indonesia pada 2024, dengan beban ekonomi mencapai hampir Rp9 triliun.

Angka tersebut menggambarkan besarnya beban yang harus ditanggung akibat dengue. Ketika seorang anggota keluarga sakit, keluarga juga harus menghadapi biaya pengobatan, waktu yang tersita untuk merawat pasien, hingga kekhawatiran ketika kondisi memburuk.

Bagi fasilitas kesehatan, DBD juga membutuhkan kesiapan dalam mendeteksi tanda bahaya, memantau perkembangan pasien, serta memberikan tata laksana dan rujukan secara cepat.

“Di IGD kami bekerja menyelamatkan pasien ketika dengue sudah menjadi berat. Tetapi kemenangan terbesar sebenarnya terjadi jauh sebelum pasien sampai ke IGD,” ujar dr. Gia.
 

Jangan Menunggu Sakit untuk Mencegah DBD


Karena itu, pencegahan tetap menjadi langkah penting dalam menghadapi dengue.

Masyarakat dapat menjalankan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Upaya tersebut juga perlu dilengkapi dengan langkah lain untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk dan menjaga lingkungan sekitar tetap bersih.

Selain pengendalian lingkungan dan vektor, pencegahan dengue kini juga berkembang melalui berbagai inovasi, termasuk teknologi Wolbachia dan vaksinasi dengue.

Konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat dilakukan untuk mengetahui pilihan pencegahan yang sesuai.
 

Indonesia Bidik Nol Kematian pada 2030


Pemerintah juga memasang target ambisius, yakni nol kematian akibat dengue pada 2030.

Untuk mendukung target tersebut, Kementerian Kesehatan memimpin penyusunan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029 dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Pengendalian dengue tidak hanya berfokus pada pengobatan. Deteksi dini, akses terhadap layanan kesehatan, tata laksana yang tepat, sistem rujukan, serta penguatan surveilans juga menjadi bagian penting.

Di sisi pencegahan, pemerintah dan berbagai pihak juga mendorong pengelolaan lingkungan, pengendalian vektor, inovasi pencegahan, serta keterlibatan masyarakat.

Country Head Malaysia & Indonesia, Takeda, Simon Gallagher, mengatakan dengue pada akhirnya menjadi persoalan yang dampaknya dirasakan seluruh keluarga.

“DBD tidak hanya berdampak pada pasien. Ketika satu orang sakit, seluruh keluarga ikut merasakan dampaknya, mulai dari kekhawatiran, waktu yang digunakan untuk merawat, hingga beban finansial,” ujar Simon.

Menurutnya, keluarga perlu menjadi bagian penting dalam upaya mencegah dengue.

Target nol kematian pada 2030 pun membutuhkan peran bersama, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, hingga masyarakat.

Setelah hampir enam dekade menjadi ancaman, dengue seharusnya tidak dianggap sebagai penyakit yang sudah biasa. Mengenali tanda bahaya, segera mencari pertolongan ketika kondisi memburuk, dan melakukan pencegahan secara konsisten menjadi langkah penting untuk melindungi diri dan keluarga dari DBD.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH