FITNESS & HEALTH
Jangan Sepelekan Bengkak yang Tak Kunjung Hilang, Bisa Jadi Limfedema
A. Firdaus
Jumat 04 September 2026 / 08:12
- Bengkak pada lengan atau kaki yang tak kunjung hilang bisa menjadi tanda limfedema.
- Limfedema terjadi ketika sistem limfatik tidak mampu mengalirkan cairan limfe secara normal.
- Deteksi sejak awal menjadi salah satu kunci dalam pengelolaan limfedema.
Jakarta: Pembengkakan pada lengan, tungkai, atau bagian tubuh lainnya sering dianggap sebagai keluhan biasa yang akan hilang dengan sendirinya. Padahal, jika berlangsung terus-menerus atau justru semakin parah, kondisi tersebut perlu diperiksa karena bisa menjadi tanda limfedema.
Limfedema merupakan gangguan pada sistem limfatik yang menyebabkan cairan limfe menumpuk di jaringan tubuh. Kondisi ini dapat berlangsung kronis dan, jika tidak ditangani dengan tepat, berpotensi mengganggu pergerakan, aktivitas sehari-hari, hingga kualitas hidup.
Spesialis onkologi dari SWICC, RS Sentra Medika Cibinong, dr. I Wayan Wisnu Brata, Sp.B., Subsp.Onk(K), mengatakan limfedema cukup sering ditemukan sebagai komplikasi setelah tindakan pengobatan kanker, terutama ketika pasien menjalani pengangkatan kelenjar getah bening.
“Limfedema merupakan komplikasi yang kerap dijumpai pascatindakan onkologi, khususnya setelah pengangkatan kelenjar getah bening,” ujar dr. Wisnu, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, waktu penanganan menjadi salah satu faktor penting. Pada tahap awal, pembengkakan umumnya masih dapat dikendalikan dengan terapi konservatif. Sebaliknya, jika dibiarkan terlalu lama, kondisinya dapat berkembang menjadi lebih sulit ditangani.
“Penanganan sejak dini sangat menentukan, karena pada stadium awal pembengkakan umumnya masih reversibel dan responsif terhadap terapi konservatif,” jelasnya.
Limfedema terjadi ketika sistem limfatik tidak mampu mengalirkan cairan limfe secara normal. Akibatnya, cairan menumpuk di jaringan dan menimbulkan pembengkakan.
Kondisi ini terbagi menjadi dua jenis, yakni limfedema primer dan limfedema sekunder.
Limfedema primer berkaitan dengan kelainan bawaan pada sistem limfatik. Sementara limfedema sekunder muncul akibat kerusakan atau gangguan pada sistem limfatik.
Penyebabnya cukup beragam, mulai dari infeksi, cedera, operasi, terapi radiasi, hingga penyakit tertentu seperti kanker.
Pada pasien kanker, limfedema dapat muncul setelah pengangkatan kelenjar getah bening atau radioterapi. Yang perlu diperhatikan, pembengkakan tidak selalu muncul langsung setelah pengobatan.
Keluhan tersebut dapat baru terasa beberapa bulan bahkan bertahun-tahun setelah pasien menjalani terapi kanker.
Pada dasarnya, siapa saja yang mengalami gangguan pada sistem limfatik dapat mengalami limfedema. Namun, beberapa kondisi dapat meningkatkan risikonya.
Di antaranya:
- Kelainan bawaan pada sistem limfatik.
- Obesitas.
- Infeksi berulang yang merusak saluran getah bening.
- Cedera atau trauma pada sistem limfatik.
- Riwayat operasi atau radioterapi yang melibatkan kelenjar getah bening.
Risiko juga dapat meningkat pada orang dengan riwayat kanker, seperti kanker payudara, serviks, ovarium, endometrium, prostat, melanoma, serta kanker kepala dan leher, terutama jika pengobatannya melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening atau radioterapi.
Limfedema tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Gejalanya dapat berkembang secara bertahap dan berbeda pada setiap orang.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Lengan, tungkai, atau bagian tubuh tertentu mengalami pembengkakan.
- Anggota tubuh terasa berat atau kaku.
- Kulit terasa lebih kencang.
- Jam tangan, perhiasan, sepatu, atau pakaian terasa lebih sempit dari biasanya.
- Gerakan anggota tubuh menjadi lebih terbatas.
Jika pembengkakan tidak kunjung membaik atau justru semakin berat, sebaiknya jangan hanya menunggu hingga keluhan menghilang sendiri.
Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab pembengkakan dan menentukan penanganan yang sesuai.
Limfedema yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Pembengkakan dapat semakin berat dan menyebabkan perubahan pada jaringan tubuh, termasuk penebalan kulit atau fibrosis.
Risiko infeksi kulit berulang, seperti selulitis, juga dapat meningkat. Dalam kondisi yang lebih berat, limfedema bisa membuat anggota tubuh sulit digerakkan sehingga aktivitas sehari-hari ikut terganggu.
“Sedangkan keterlambatan penanganan berisiko menimbulkan kondisi kronis yang sulit dikoreksi serta meningkatkan risiko infeksi berulang,” kata Wisnu.
Karena bersifat kronis, limfedema membutuhkan pengelolaan dalam jangka panjang. Tujuan penanganannya bukan sekadar mengurangi bengkak, tetapi juga mempertahankan fungsi anggota tubuh dan membantu pasien tetap menjalani aktivitas sehari-hari.
Deteksi sejak awal menjadi salah satu kunci dalam pengelolaan limfedema. Terlebih bagi orang yang memiliki faktor risiko, termasuk pasien dengan riwayat kanker yang pernah menjalani pengangkatan kelenjar getah bening atau radioterapi.
Pemeriksaan dapat membantu mengetahui kondisi sistem limfatik sekaligus menentukan langkah penanganan yang tepat.
RS Sentra Medika Cibinong melalui Limfedema Center, yang merupakan bagian dari Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC), menyediakan layanan yang mencakup deteksi dini, evaluasi, terapi, edukasi, hingga pendampingan pasien.
Layanan tersebut didukung tim multidisiplin, termasuk dokter spesialis bedah subspesialis onkologi.
Pada akhirnya, pembengkakan yang menetap sebaiknya tidak dianggap sebagai keluhan sepele. Apalagi jika muncul setelah pengobatan kanker atau disertai rasa berat, kaku, kulit mengencang, dan keterbatasan gerak.
Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin besar peluang untuk mengendalikan gejala dan mencegah limfedema berkembang menjadi masalah yang lebih berat.
(FIR)
Limfedema merupakan gangguan pada sistem limfatik yang menyebabkan cairan limfe menumpuk di jaringan tubuh. Kondisi ini dapat berlangsung kronis dan, jika tidak ditangani dengan tepat, berpotensi mengganggu pergerakan, aktivitas sehari-hari, hingga kualitas hidup.
Spesialis onkologi dari SWICC, RS Sentra Medika Cibinong, dr. I Wayan Wisnu Brata, Sp.B., Subsp.Onk(K), mengatakan limfedema cukup sering ditemukan sebagai komplikasi setelah tindakan pengobatan kanker, terutama ketika pasien menjalani pengangkatan kelenjar getah bening.
“Limfedema merupakan komplikasi yang kerap dijumpai pascatindakan onkologi, khususnya setelah pengangkatan kelenjar getah bening,” ujar dr. Wisnu, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, waktu penanganan menjadi salah satu faktor penting. Pada tahap awal, pembengkakan umumnya masih dapat dikendalikan dengan terapi konservatif. Sebaliknya, jika dibiarkan terlalu lama, kondisinya dapat berkembang menjadi lebih sulit ditangani.
“Penanganan sejak dini sangat menentukan, karena pada stadium awal pembengkakan umumnya masih reversibel dan responsif terhadap terapi konservatif,” jelasnya.
Apa Itu Limfedema?
Limfedema terjadi ketika sistem limfatik tidak mampu mengalirkan cairan limfe secara normal. Akibatnya, cairan menumpuk di jaringan dan menimbulkan pembengkakan.
Kondisi ini terbagi menjadi dua jenis, yakni limfedema primer dan limfedema sekunder.
Limfedema primer berkaitan dengan kelainan bawaan pada sistem limfatik. Sementara limfedema sekunder muncul akibat kerusakan atau gangguan pada sistem limfatik.
Penyebabnya cukup beragam, mulai dari infeksi, cedera, operasi, terapi radiasi, hingga penyakit tertentu seperti kanker.
Pada pasien kanker, limfedema dapat muncul setelah pengangkatan kelenjar getah bening atau radioterapi. Yang perlu diperhatikan, pembengkakan tidak selalu muncul langsung setelah pengobatan.
Keluhan tersebut dapat baru terasa beberapa bulan bahkan bertahun-tahun setelah pasien menjalani terapi kanker.
Siapa yang Berisiko?
Pada dasarnya, siapa saja yang mengalami gangguan pada sistem limfatik dapat mengalami limfedema. Namun, beberapa kondisi dapat meningkatkan risikonya.
Di antaranya:
- Kelainan bawaan pada sistem limfatik.
- Obesitas.
- Infeksi berulang yang merusak saluran getah bening.
- Cedera atau trauma pada sistem limfatik.
- Riwayat operasi atau radioterapi yang melibatkan kelenjar getah bening.
Risiko juga dapat meningkat pada orang dengan riwayat kanker, seperti kanker payudara, serviks, ovarium, endometrium, prostat, melanoma, serta kanker kepala dan leher, terutama jika pengobatannya melibatkan pengangkatan kelenjar getah bening atau radioterapi.
Kenali Tanda-tandanya
Limfedema tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Gejalanya dapat berkembang secara bertahap dan berbeda pada setiap orang.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Lengan, tungkai, atau bagian tubuh tertentu mengalami pembengkakan.
- Anggota tubuh terasa berat atau kaku.
- Kulit terasa lebih kencang.
- Jam tangan, perhiasan, sepatu, atau pakaian terasa lebih sempit dari biasanya.
- Gerakan anggota tubuh menjadi lebih terbatas.
Jika pembengkakan tidak kunjung membaik atau justru semakin berat, sebaiknya jangan hanya menunggu hingga keluhan menghilang sendiri.
Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab pembengkakan dan menentukan penanganan yang sesuai.
Jangan Tunggu Sampai Bengkak Makin Berat
Limfedema yang tidak ditangani dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Pembengkakan dapat semakin berat dan menyebabkan perubahan pada jaringan tubuh, termasuk penebalan kulit atau fibrosis.
Risiko infeksi kulit berulang, seperti selulitis, juga dapat meningkat. Dalam kondisi yang lebih berat, limfedema bisa membuat anggota tubuh sulit digerakkan sehingga aktivitas sehari-hari ikut terganggu.
“Sedangkan keterlambatan penanganan berisiko menimbulkan kondisi kronis yang sulit dikoreksi serta meningkatkan risiko infeksi berulang,” kata Wisnu.
Karena bersifat kronis, limfedema membutuhkan pengelolaan dalam jangka panjang. Tujuan penanganannya bukan sekadar mengurangi bengkak, tetapi juga mempertahankan fungsi anggota tubuh dan membantu pasien tetap menjalani aktivitas sehari-hari.
Pentingnya Deteksi Dini
Deteksi sejak awal menjadi salah satu kunci dalam pengelolaan limfedema. Terlebih bagi orang yang memiliki faktor risiko, termasuk pasien dengan riwayat kanker yang pernah menjalani pengangkatan kelenjar getah bening atau radioterapi.
Pemeriksaan dapat membantu mengetahui kondisi sistem limfatik sekaligus menentukan langkah penanganan yang tepat.
RS Sentra Medika Cibinong melalui Limfedema Center, yang merupakan bagian dari Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC), menyediakan layanan yang mencakup deteksi dini, evaluasi, terapi, edukasi, hingga pendampingan pasien.
Layanan tersebut didukung tim multidisiplin, termasuk dokter spesialis bedah subspesialis onkologi.
Pada akhirnya, pembengkakan yang menetap sebaiknya tidak dianggap sebagai keluhan sepele. Apalagi jika muncul setelah pengobatan kanker atau disertai rasa berat, kaku, kulit mengencang, dan keterbatasan gerak.
Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin besar peluang untuk mengendalikan gejala dan mencegah limfedema berkembang menjadi masalah yang lebih berat.
(FIR)