FITNESS & HEALTH
Sering Kentut Setelah Makan Sayur dan Kacang? Ternyata Ini Alasannya
A. Firdaus
Kamis 03 September 2026 / 07:10
- Makanan kaya serat seperti kacang dan brokoli bisa membuat lebih sering kentut. Kenali penyebabnya dan makanan sehat yang memicu gas di perut.
- Serat dan pati yang tidak dapat dicerna tubuh akan bergerak menuju usus besar.
- Beberapa contoh makanan yang mengandung FODMAP antara lain bawang bombai, bawang putih, gandum, dan kacang-kacangan.
Jakarta: Pernah merasa lebih sering kentut setelah makan kacang-kacangan, brokoli, atau kubis? Jangan buru-buru menganggap makanan tersebut tidak cocok untuk tubuh.
Makanan seperti kacang-kacangan dan sayuran cruciferous justru dikenal kaya serat dan berbagai nutrisi. Namun, kandungan tersebut juga bisa membuat produksi gas di saluran pencernaan meningkat.
Ahli gizi yang berspesialisasi dalam gangguan makan dan nutrisi kuliner, Christine Byrne, MPH, RD, menjelaskan sebagian besar gas yang menyebabkan kentut berasal dari aktivitas bakteri di usus besar.
Serat dan pati yang tidak dapat dicerna tubuh akan bergerak menuju usus besar. Di sana, bakteri usus akan memfermentasi sisa makanan tersebut. Proses inilah yang menghasilkan gas.
“Bakteri probiotik sehat di usus Anda akan memfermentasi serat yang tidak dapat dicerna ini untuk mengonsumsinya, dan gas akan terbentuk dalam proses tersebut,” kata Byrne dalam siaran Eating Well melansir Antara.
Gas yang terbentuk kemudian dikeluarkan melalui anus. Hasilnya? Frekuensi kentut bisa meningkat setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Menariknya, gas bukan satu-satunya hasil dari proses fermentasi serat oleh bakteri usus.
Ketika serat difermentasi, tubuh juga menghasilkan asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids/SCFA). Senyawa ini memiliki berbagai peran penting bagi tubuh, termasuk mendukung kesehatan metabolisme serta membantu menjaga fungsi sejumlah organ.
Jadi, kentut setelah makan makanan kaya serat tidak otomatis berarti makanan tersebut buruk untuk pencernaan.
Toleransi terhadap serat juga berbeda pada setiap orang. Ahli gizi terdaftar Holly Larson, MS, RD, mengatakan hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi dan komposisi bakteri di dalam usus masing-masing orang.
Toleransi tubuh terhadap serat pun dapat berubah seiring seseorang mulai terbiasa mengonsumsi makanan tinggi serat.
Kacang-kacangan menjadi salah satu makanan yang cukup terkenal sebagai “pemicu kentut”.
Alasannya, kacang mengandung oligosakarida, yaitu jenis karbohidrat yang mudah difermentasi oleh bakteri usus.
Usus kecil tidak memiliki cukup enzim untuk memecah karbohidrat tersebut. Akibatnya, oligosakarida melanjutkan perjalanan ke usus besar dan kemudian difermentasi oleh bakteri.
Proses fermentasi tersebut menghasilkan gas sekaligus sejumlah senyawa yang bermanfaat bagi tubuh.
Selain kacang-kacangan, makanan yang juga mengandung oligosakarida antara lain:
- Bawang bombai
- Bawang putih
- Gandum
- Gandum hitam atau rye
- Brokoli hingga Kubis Bisa Bikin Kentut Lebih ‘Nendang’
Bukan cuma kacang-kacangan. Sayuran dari kelompok cruciferous seperti brokoli, kembang kol, kubis, kale, dan kubis Brussel juga bisa membuat perut lebih bergas.
Bahkan, pada sebagian orang, gas yang dihasilkan bisa memiliki aroma lebih kuat.
Hal ini berkaitan dengan kandungan senyawa sulfur pada sayuran tersebut. Senyawa yang disebut glukosinolat merupakan salah satu komponen yang dikaitkan dengan manfaat kesehatan sayuran cruciferous, tetapi proses pengolahannya oleh bakteri usus juga dapat menghasilkan senyawa berbau.
Jadi, kalau setelah makan brokoli atau kubis tiba-tiba suasana menjadi kurang bersahabat, bisa jadi bakteri usus sedang bekerja.
Beberapa makanan sehat juga mengandung karbohidrat yang dikenal sebagai FODMAP atau fermentable oligosaccharides, disaccharides, monosaccharides and polyols.
Pada kebanyakan orang, makanan FODMAP dapat dikonsumsi tanpa masalah berarti. Namun, bagi orang dengan irritable bowel syndrome (IBS) atau sensitivitas pencernaan tertentu, makanan ini bisa memicu gas, kembung, nyeri, atau rasa tidak nyaman di perut.
Beberapa contoh makanan yang mengandung FODMAP antara lain bawang bombai, bawang putih, gandum, dan kacang-kacangan.
Sementara itu, buah seperti mangga dan ara serta madu mengandung jenis monosakarida tertentu yang termasuk FODMAP. Poliol atau gula alkohol juga secara alami ditemukan pada beberapa buah, termasuk apel dan pir.
Produksi gas sebenarnya merupakan bagian normal dari proses pencernaan. Karena itu, lebih sering kentut setelah meningkatkan konsumsi serat tidak selalu menjadi alasan untuk menghapus makanan tersebut dari menu.
Yang perlu diperhatikan adalah respons tubuh secara keseluruhan. Jika makanan tertentu secara konsisten menimbulkan kembung berlebihan, nyeri, atau gangguan pencernaan lainnya, barulah pola makan perlu dievaluasi.
Intinya, kentut setelah makan kacang atau sayuran bukan berarti tubuh sedang menolak makanan sehat tersebut. Bisa saja, bakteri baik di usus sedang menikmati serat yang masuk.
Dan ya, kadang-kadang prosesnya memang menghasilkan “efek suara dan aroma” yang tidak bisa dihindari.
(FIR)
Makanan seperti kacang-kacangan dan sayuran cruciferous justru dikenal kaya serat dan berbagai nutrisi. Namun, kandungan tersebut juga bisa membuat produksi gas di saluran pencernaan meningkat.
Ahli gizi yang berspesialisasi dalam gangguan makan dan nutrisi kuliner, Christine Byrne, MPH, RD, menjelaskan sebagian besar gas yang menyebabkan kentut berasal dari aktivitas bakteri di usus besar.
Baca Juga :
Berapa Kali Kamu Kentut dalam Sehari?
Serat dan pati yang tidak dapat dicerna tubuh akan bergerak menuju usus besar. Di sana, bakteri usus akan memfermentasi sisa makanan tersebut. Proses inilah yang menghasilkan gas.
“Bakteri probiotik sehat di usus Anda akan memfermentasi serat yang tidak dapat dicerna ini untuk mengonsumsinya, dan gas akan terbentuk dalam proses tersebut,” kata Byrne dalam siaran Eating Well melansir Antara.
Gas yang terbentuk kemudian dikeluarkan melalui anus. Hasilnya? Frekuensi kentut bisa meningkat setelah mengonsumsi makanan tertentu.
Kentut Justru Bisa Jadi Tanda Serat Sedang Diproses
Menariknya, gas bukan satu-satunya hasil dari proses fermentasi serat oleh bakteri usus.
Ketika serat difermentasi, tubuh juga menghasilkan asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids/SCFA). Senyawa ini memiliki berbagai peran penting bagi tubuh, termasuk mendukung kesehatan metabolisme serta membantu menjaga fungsi sejumlah organ.
Jadi, kentut setelah makan makanan kaya serat tidak otomatis berarti makanan tersebut buruk untuk pencernaan.
Toleransi terhadap serat juga berbeda pada setiap orang. Ahli gizi terdaftar Holly Larson, MS, RD, mengatakan hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi dan komposisi bakteri di dalam usus masing-masing orang.
Toleransi tubuh terhadap serat pun dapat berubah seiring seseorang mulai terbiasa mengonsumsi makanan tinggi serat.
Kacang-kacangan Bisa Bikin Gas Lebih Banyak
Kacang-kacangan menjadi salah satu makanan yang cukup terkenal sebagai “pemicu kentut”.
Alasannya, kacang mengandung oligosakarida, yaitu jenis karbohidrat yang mudah difermentasi oleh bakteri usus.
Usus kecil tidak memiliki cukup enzim untuk memecah karbohidrat tersebut. Akibatnya, oligosakarida melanjutkan perjalanan ke usus besar dan kemudian difermentasi oleh bakteri.
Proses fermentasi tersebut menghasilkan gas sekaligus sejumlah senyawa yang bermanfaat bagi tubuh.
Selain kacang-kacangan, makanan yang juga mengandung oligosakarida antara lain:
- Bawang bombai
- Bawang putih
- Gandum
- Gandum hitam atau rye
- Brokoli hingga Kubis Bisa Bikin Kentut Lebih ‘Nendang’
Bukan cuma kacang-kacangan. Sayuran dari kelompok cruciferous seperti brokoli, kembang kol, kubis, kale, dan kubis Brussel juga bisa membuat perut lebih bergas.
Bahkan, pada sebagian orang, gas yang dihasilkan bisa memiliki aroma lebih kuat.
Hal ini berkaitan dengan kandungan senyawa sulfur pada sayuran tersebut. Senyawa yang disebut glukosinolat merupakan salah satu komponen yang dikaitkan dengan manfaat kesehatan sayuran cruciferous, tetapi proses pengolahannya oleh bakteri usus juga dapat menghasilkan senyawa berbau.
Jadi, kalau setelah makan brokoli atau kubis tiba-tiba suasana menjadi kurang bersahabat, bisa jadi bakteri usus sedang bekerja.
Ada Juga Makanan Sehat yang Mengandung FODMAP
Beberapa makanan sehat juga mengandung karbohidrat yang dikenal sebagai FODMAP atau fermentable oligosaccharides, disaccharides, monosaccharides and polyols.
Pada kebanyakan orang, makanan FODMAP dapat dikonsumsi tanpa masalah berarti. Namun, bagi orang dengan irritable bowel syndrome (IBS) atau sensitivitas pencernaan tertentu, makanan ini bisa memicu gas, kembung, nyeri, atau rasa tidak nyaman di perut.
Beberapa contoh makanan yang mengandung FODMAP antara lain bawang bombai, bawang putih, gandum, dan kacang-kacangan.
Sementara itu, buah seperti mangga dan ara serta madu mengandung jenis monosakarida tertentu yang termasuk FODMAP. Poliol atau gula alkohol juga secara alami ditemukan pada beberapa buah, termasuk apel dan pir.
Tidak Perlu Langsung Menghindari Makanan Sehat
Produksi gas sebenarnya merupakan bagian normal dari proses pencernaan. Karena itu, lebih sering kentut setelah meningkatkan konsumsi serat tidak selalu menjadi alasan untuk menghapus makanan tersebut dari menu.
Yang perlu diperhatikan adalah respons tubuh secara keseluruhan. Jika makanan tertentu secara konsisten menimbulkan kembung berlebihan, nyeri, atau gangguan pencernaan lainnya, barulah pola makan perlu dievaluasi.
Intinya, kentut setelah makan kacang atau sayuran bukan berarti tubuh sedang menolak makanan sehat tersebut. Bisa saja, bakteri baik di usus sedang menikmati serat yang masuk.
Dan ya, kadang-kadang prosesnya memang menghasilkan “efek suara dan aroma” yang tidak bisa dihindari.
(FIR)