FITNESS & HEALTH

Bukan Cuma Perokok, Paparan Polusi Juga Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Paru

A. Firdaus
Rabu 02 September 2026 / 17:11
Ringkasnya gini..
  • Kanker paru tak hanya berisiko pada perokok. Dokter menjelaskan paparan polusi, lingkungan kerja, dan asap rokok juga perlu diwaspadai.
  • Rokok memang masih menjadi faktor risiko utama kanker paru.
  • Kendaraan bermotor, asap pembakaran kayu bakar untuk memasak, hingga kondisi lingkungan tempat tinggal sebagai beberapa faktor yang perlu diperhatikan.
Jakarta: Kanker paru selama ini identik dengan kebiasaan merokok. Padahal, orang yang tidak merokok pun tetap bisa memiliki risiko terkena penyakit ini, terutama jika sering terpapar polusi udara atau lingkungan kerja yang penuh paparan berbahaya.

Dokter Spesialis Paru sekaligus Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Semanggi, dr. Linda Masniari, SpP(K), mengatakan kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan paru, termasuk kanker paru.

“Kanker paru hampir 85 persen penyebabnya karena merokok, dan 15 persen penyebabnya bisa karena non-smoker. Jadi kalau kita perokok pasif, itu kemungkinan kanker parunya meningkat 20 sampai 30 persen,” kata dr. Linda dalam MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
 

Menurut dr. Linda, rokok memang masih menjadi faktor risiko utama kanker paru. Namun, bukan berarti orang yang tidak merokok bisa sepenuhnya terbebas dari risiko.
 

Polusi dari Lingkungan Sehari-hari


Paparan polusi bisa datang dari berbagai sumber yang mungkin tidak disadari dalam aktivitas sehari-hari.

Dokter Linda menyebut asap kendaraan bermotor, asap pembakaran kayu bakar untuk memasak, hingga kondisi lingkungan tempat tinggal sebagai beberapa faktor yang perlu diperhatikan.

“Lingkungan seperti tinggal dekat pembuangan sampah juga ada faktor risiko,” ujarnya.

Risiko juga dapat muncul dari lingkungan kerja. Pekerja di sektor tertentu, seperti pertambangan, galangan kapal, dan pabrik semen, perlu lebih waspada terhadap paparan zat atau partikel tertentu selama bekerja.

Selain faktor lingkungan, riwayat keluarga juga menjadi hal yang perlu diperhatikan. Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat kanker paru dapat mempunyai risiko lebih tinggi, termasuk karena faktor genetik.
 

Perokok Pasif Juga Perlu Waspada


Salah satu paparan yang paling penting untuk dihindari adalah asap rokok. Bukan hanya perokok aktif, orang di sekitarnya juga dapat ikut terdampak ketika terus-menerus menghirup asap rokok.

Karena itu, dr. Linda menganjurkan anggota keluarga yang masih merokok untuk berupaya berhenti. Menurutnya, hubungan antara paparan rokok dan risiko kanker paru sangat kuat.

Sementara bagi masyarakat yang tinggal di kawasan dengan kualitas udara buruk, mengurangi paparan menjadi salah satu langkah yang bisa dilakukan.

“Kalau udara di lingkungan kita tidak bagus, kita lebih baik kurangi aktivitas outdoor,” kata dr. Linda.

Masyarakat juga disarankan mengenali faktor risiko yang dimiliki dan menyesuaikan langkah perlindungan dengan kondisi masing-masing.

“Jadi udara yang sehat itu penting sekali,” ujarnya.
 

Kenali Risiko, Jangan Tunggu Gejala


Dokter Linda mengatakan kanker paru di Indonesia banyak ditemukan pada kelompok usia di atas 50 tahun. Karena itu, masyarakat perlu lebih memperhatikan faktor risiko dan melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai kondisi serta tingkat risikonya.

Yang tidak kalah penting, upaya menjaga kesehatan paru sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika muncul keluhan. Menghindari rokok, mengurangi paparan polusi, serta memperhatikan kondisi lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja dapat menjadi bagian dari langkah menjaga paru tetap sehat.

Jadi, menjaga paru-paru bukan cuma urusan berhenti merokok. Udara yang kita hirup setiap hari juga penting untuk diperhatikan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH