YOUR FASHION
Jelajah Indonesia Lewat Wastra, dari Batik hingga Tenun Khas Nusantara
A. Firdaus
Sabtu 05 September 2026 / 08:26
- Pameran Jelajah Indonesia Wastra Nusantara di Grand Indonesia mengajak masyarakat mengenal batik, tenun, dan kain ikat sekaligus destinasi asalnya.
- Melalui pameran ini, batik, tenun, dan kain ikat tidak hanya diperkenalkan sebagai produk budaya.
- Bukan hanya melihat-lihat kain, pameran “Jelajah Indonesia Wastra Nusantara” juga menghadirkan sejumlah aktivitas interaktif.
Jakarta: Wastra Indonesia bukan cuma soal kain dengan motif cantik. Di balik batik, tenun, hingga kain ikat, tersimpan cerita, tradisi, dan identitas dari daerah asalnya. Hal inilah yang coba diangkat Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melalui pameran “Jelajah Indonesia Wastra Nusantara”.
Pameran tersebut digelar di Rama Atrium, East Mall Lantai 1, Grand Indonesia, Jakarta, pada 2–6 September 2026. Selama lima hari, kamu diajak mengenal kekayaan wastra sekaligus berbagai destinasi yang menjadi tempat lahirnya kain-kain khas Indonesia.
Konsep ini menjadi bagian dari upaya Kemenpar mendorong pariwisata berbasis budaya (cultural tourism) dan pengalaman (experience-based tourism). Bukan sekadar melihat koleksi kain, pengunjung juga bisa mendapatkan gambaran tentang daerah asal wastra dan pengalaman wisata yang bisa dilakukan di sana.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan wastra memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata budaya. Pasalnya, setiap kain membawa identitas, pengetahuan, tradisi, sekaligus cerita dari daerah asalnya.
“Indonesia memiliki kekayaan wastra yang luar biasa, baik sebagai identitas budaya maupun magnet pariwisata. Kami berharap sinergi ini menempatkan wastra bukan sekadar produk tekstil, melainkan jembatan yang menghubungkan wisatawan dengan keunikan destinasi di berbagai wilayah Indonesia,” kata Ni Made Ayu dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Melalui pameran ini, batik, tenun, dan kain ikat tidak hanya diperkenalkan sebagai produk budaya. Wastra juga digunakan sebagai media storytelling untuk menghubungkan masyarakat dengan destinasi wisata.
Harapannya, ketertarikan terhadap sebuah kain bisa berlanjut menjadi rasa penasaran terhadap daerah asalnya. Dari sekadar mengenal motif, masyarakat kemudian terdorong mencari tahu tentang budaya, kuliner, hingga pengalaman wisata yang ditawarkan daerah tersebut.
Untuk memperluas pengalaman pengunjung, Kemenpar menggandeng sejumlah mitra dari berbagai sektor. Salah satunya BCA yang menyediakan area pameran seluas 112 meter persegi di Rama Atrium.
Pameran ini juga mendapat dukungan dari Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) serta BINA.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Erwita Dianti mengatakan kolaborasi tersebut penting untuk memperluas ruang promosi wastra sekaligus memperkenalkan destinasi yang menjadi tempat berkembangnya kekayaan budaya Indonesia.

Jelajah Indoensia Wastra Nusantara digelar di Rama Atrium, East Mall Lantai 1, Grand Indonesia, Jakarta, pada 2–6 September 2026. Dok. Kemenpar
“Melalui dukungan area pameran dari BCA serta jaringan ritel HIPPINDO, kami dapat menyediakan ruang promosi yang lebih luas bagi keindahan wastra Indonesia. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap wastra, tetapi juga menggerakkan wisatawan nusantara untuk mengunjungi destinasi asal kain-kain tersebut,” ujar Erwita.
Sejumlah pelaku industri pariwisata juga hadir membawa cerita dari berbagai daerah. Ada Batik Warisan dari Pekalongan, Jawa Tengah, Lombok Paradise Tour & Travel yang mempromosikan Lombok, Nusa Tenggara Barat, serta Badan Otorita Borobudur yang mewakili destinasi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Selain itu, ada Jabu Bonang yang membawa promosi Danau Toba, Sumatera Utara; Ainon Holidays untuk Palembang, Sumatera Selatan; CakraMahira Bespoke Travel untuk Jakarta; 8 Island Adventure untuk Bali; serta APH Travel & MICE yang mempromosikan Sumatera Barat.
Dari sisi ritel, Batik Riana Kesuma serta Batik & Tenun Rolla turut menghadirkan koleksi batik dan tenun khas Indonesia.
Kehadiran berbagai pelaku tersebut membuat pengunjung bisa mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap. Setelah melihat koleksi wastra, mereka juga dapat mencari informasi mengenai destinasi hingga pilihan perjalanan wisata budaya di berbagai daerah.
Bukan hanya melihat-lihat kain, pameran “Jelajah Indonesia Wastra Nusantara” juga menghadirkan sejumlah aktivitas interaktif.
Pengunjung dapat mengikuti kegiatan membatik bersama perajin, menyaksikan fashion show yang menampilkan koleksi wastra khas daerah, hingga mengikuti sesi styling untuk melihat bagaimana kain tradisional bisa tampil lebih kekinian.
Peragaan busana tersebut juga menghadirkan Miss dan Mister Tourism binaan ASPPI.
Ada pula diskusi interaktif bersama pelaku industri pariwisata dan berbagai aktivitas ringan seperti kuis yang bisa diikuti pengunjung.
Lewat rangkaian kegiatan tersebut, wastra coba ditempatkan bukan sebagai sesuatu yang hanya disimpan atau dikenakan pada acara tertentu. Kain tradisional justru bisa menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari sekaligus pintu untuk mengenal lebih dekat budaya dan destinasi Indonesia.
(FIR)
Pameran tersebut digelar di Rama Atrium, East Mall Lantai 1, Grand Indonesia, Jakarta, pada 2–6 September 2026. Selama lima hari, kamu diajak mengenal kekayaan wastra sekaligus berbagai destinasi yang menjadi tempat lahirnya kain-kain khas Indonesia.
Konsep ini menjadi bagian dari upaya Kemenpar mendorong pariwisata berbasis budaya (cultural tourism) dan pengalaman (experience-based tourism). Bukan sekadar melihat koleksi kain, pengunjung juga bisa mendapatkan gambaran tentang daerah asal wastra dan pengalaman wisata yang bisa dilakukan di sana.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan wastra memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata budaya. Pasalnya, setiap kain membawa identitas, pengetahuan, tradisi, sekaligus cerita dari daerah asalnya.
“Indonesia memiliki kekayaan wastra yang luar biasa, baik sebagai identitas budaya maupun magnet pariwisata. Kami berharap sinergi ini menempatkan wastra bukan sekadar produk tekstil, melainkan jembatan yang menghubungkan wisatawan dengan keunikan destinasi di berbagai wilayah Indonesia,” kata Ni Made Ayu dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Melalui pameran ini, batik, tenun, dan kain ikat tidak hanya diperkenalkan sebagai produk budaya. Wastra juga digunakan sebagai media storytelling untuk menghubungkan masyarakat dengan destinasi wisata.
Harapannya, ketertarikan terhadap sebuah kain bisa berlanjut menjadi rasa penasaran terhadap daerah asalnya. Dari sekadar mengenal motif, masyarakat kemudian terdorong mencari tahu tentang budaya, kuliner, hingga pengalaman wisata yang ditawarkan daerah tersebut.
Wastra Bertemu Destinasi Wisata
Untuk memperluas pengalaman pengunjung, Kemenpar menggandeng sejumlah mitra dari berbagai sektor. Salah satunya BCA yang menyediakan area pameran seluas 112 meter persegi di Rama Atrium.
Pameran ini juga mendapat dukungan dari Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) serta BINA.
Asisten Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata Erwita Dianti mengatakan kolaborasi tersebut penting untuk memperluas ruang promosi wastra sekaligus memperkenalkan destinasi yang menjadi tempat berkembangnya kekayaan budaya Indonesia.

Jelajah Indoensia Wastra Nusantara digelar di Rama Atrium, East Mall Lantai 1, Grand Indonesia, Jakarta, pada 2–6 September 2026. Dok. Kemenpar
“Melalui dukungan area pameran dari BCA serta jaringan ritel HIPPINDO, kami dapat menyediakan ruang promosi yang lebih luas bagi keindahan wastra Indonesia. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap wastra, tetapi juga menggerakkan wisatawan nusantara untuk mengunjungi destinasi asal kain-kain tersebut,” ujar Erwita.
Sejumlah pelaku industri pariwisata juga hadir membawa cerita dari berbagai daerah. Ada Batik Warisan dari Pekalongan, Jawa Tengah, Lombok Paradise Tour & Travel yang mempromosikan Lombok, Nusa Tenggara Barat, serta Badan Otorita Borobudur yang mewakili destinasi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Selain itu, ada Jabu Bonang yang membawa promosi Danau Toba, Sumatera Utara; Ainon Holidays untuk Palembang, Sumatera Selatan; CakraMahira Bespoke Travel untuk Jakarta; 8 Island Adventure untuk Bali; serta APH Travel & MICE yang mempromosikan Sumatera Barat.
Dari sisi ritel, Batik Riana Kesuma serta Batik & Tenun Rolla turut menghadirkan koleksi batik dan tenun khas Indonesia.
Kehadiran berbagai pelaku tersebut membuat pengunjung bisa mendapatkan pengalaman yang lebih lengkap. Setelah melihat koleksi wastra, mereka juga dapat mencari informasi mengenai destinasi hingga pilihan perjalanan wisata budaya di berbagai daerah.
Ada Fashion Show hingga Belajar Membatik
Bukan hanya melihat-lihat kain, pameran “Jelajah Indonesia Wastra Nusantara” juga menghadirkan sejumlah aktivitas interaktif.
Pengunjung dapat mengikuti kegiatan membatik bersama perajin, menyaksikan fashion show yang menampilkan koleksi wastra khas daerah, hingga mengikuti sesi styling untuk melihat bagaimana kain tradisional bisa tampil lebih kekinian.
Peragaan busana tersebut juga menghadirkan Miss dan Mister Tourism binaan ASPPI.
Ada pula diskusi interaktif bersama pelaku industri pariwisata dan berbagai aktivitas ringan seperti kuis yang bisa diikuti pengunjung.
Lewat rangkaian kegiatan tersebut, wastra coba ditempatkan bukan sebagai sesuatu yang hanya disimpan atau dikenakan pada acara tertentu. Kain tradisional justru bisa menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari sekaligus pintu untuk mengenal lebih dekat budaya dan destinasi Indonesia.
(FIR)