FITNESS & HEALTH

Menembus Batas Jarak: Cerita di Balik Kolaborasi Philips dan Indonesia Lewat Program SIHREN

Yatin Suleha
Minggu 30 Agustus 2026 / 23:51
Ringkasnya gini..
  • Bicara soal kesehatan, terutama urusan jantung dan stroke, waktu adalah segalanya.
  • Di negara kepulauan seluas dan sebesar Indonesia—dengan ribuan pulau—tantangan terbesar bukanlah sekadar menyediakan obat, melainkan akses.
  • Tantangan inilah yang coba diselesaikan lewat kolaborasi strategis antara pemerintah Indonesia.
Jakarta: Bicara soal kesehatan, terutama urusan jantung dan stroke, waktu adalah segalanya. Di negara kepulauan seluas dan sebesar Indonesia—dengan ribuan pulau dan wilayah yang membentang—tantangan terbesar bukanlah sekadar menyediakan obat, melainkan akses. 

Bayangkan seseorang yang harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mendapat penanganan serangan jantung di rumah sakit rujukan. Jelas, itu pertaruhan antara hidup dan mati.

Tantangan inilah yang coba diselesaikan lewat kolaborasi strategis antara pemerintah Indonesia.

Melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI di bawah kepemimpinan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin—dengan raksasa teknologi kesehatan asal Belanda, Philips, lewat inisiatif SIHREN (Strengthening Indonesia’s Cardiovascular and Stroke Care Network).
   

Makan siang yang sangat istimewa




(Sesi makan siang yang hangat bersama dengan Bert van Meurs (kiri) dan Dr. Atul Gupta (kanan). Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Dalam sebuah perbincangan mendalam yang sangat eksklusif pada, Rabu, 1 Juli 2026 silam, bertempat di Philips Innovation Campus, Best, di Belanda, Medcom adalah satu dari dua media terpilih yang mendapatkan sesi makan siang istimewa.

Bersama dengan Bert van Meurs yang merupakan Executive Vice President dan Chief Business Leader, Diagnosis & Treatment – Image Guided Therapy, dan juga member of the Royal Philips Executive Committee. 

Serta Dr. Atul Gupta, selaku The Global Chief Medical Officer for all Diagnosis and Treatment businesses di Philips.

Bert van Meurs (Leader of Image Guided Therapy di Philips, yang sudah 40 tahun berkarier dan punya sejarah panjang dengan Indonesia sejak 26 tahun lalu) bersama Dr. Atul (seorang dokter spesialis/radiolog intervensi), membedah bagaimana teknologi dan manusia berkolaborasi untuk merombak wajah layanan kesehatan Indonesia.
 

1. Menghadirkan rumah sakit lebih dekat ke pasien


Bagi Bert, Indonesia memiliki tantangan geografis yang masif karena bentuk geografisnya yang unik. Namun, tantangan ini sebenarnya mirip dengan apa yang dihadapi negara maju lain seperti Australia atau Amerika Serikat, di mana banyak populasi tinggal jauh dari pusat kota.

Melalui program SIHREN, visinya sangat jelas: membangun jaringan kesehatan yang merata. Pemerintah Indonesia bersama Philips tidak hanya sekadar mengirim alat, tapi membangun kapasitas dari hulu ke hilir.

Dalam waktu 1 tahun sejak diumumkan, sekitar 25 fasilitas kesehatan di berbagai daerah telah rampung diinstal, memberikan akses teoretis bagi jutaan masyarakat.

Tujuannya mulia: memastikan pasien stroke atau serangan jantung bisa ditangani dalam golden period (waktu emas), misalnya 90 menit untuk serangan jantung, tanpa harus selalu dirujuk jauh ke kota besar seperti Jakarta atau Surabaya.
 

2. Teknologi yang "tidak ribet" untuk dokter



(Philips mengandalkan image-guided therapy yang dibuat semudah mungkin untuk digunakan. Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Sebagai dokter yang terjun langsung di ruang operasi, Dr. Atul paham betul betapa stresnya situasi saat menangani pasien kritis di atas meja operasi. Di sinilah pentingnya desain teknologi yang intuitif.

Philips mengandalkan image-guided therapy yang dirancang sesederhana mungkin. 

Tombol-tombolnya didesain sangat ergonomis, sehingga dokter tidak perlu repot mencari menu di layar komputer. Fokus utama dokter tetap satu: pasien di hadapan mereka, bukan alatnya.
 

3. Peran AI: Bukan pengganti dokter, tapi "co-pilot"


Topik hangat yang sering jadi perdebatan adalah kehadiran Kecerdasan Buatan (AI) di dunia medis. Sebagian dokter senior yang sudah berpengalaman puluhan tahun kerap merasa skeptis, menganggap mereka tidak butuh AI karena jam terbang sudah tinggi.

Namun, Bert dan Dr. Atul melihat AI dari sudut pandang yang berbeda: AI adalah mitra kerja, bukan pengganti.

"Tujuan inti dari SIHREN adalah menghadirkan akses perawatan dan perawatan berkualitas kepada lebih banyak orang," ucap Bert van Meurs.

- Efisiensi dan kecepatan: AI membantu memproses pemindaian (MRI/CT Scan) menjadi jauh lebih cepat dan berkualitas tinggi, sehingga antrean panjang di rumah sakit bisa dipangkas.

- Jadi mata ke-2 dokter: AI bisa mendeteksi anomali tersembunyi yang kadang terlewat oleh mata manusia, misalnya memprediksi risiko fibrilasi atrium berminggu-minggu sebelumnya.

- Pemerataan keahlian: Ini yang paling penting untuk Indonesia. Di daerah yang baru memiliki fasilitas katerisasi (cath lab) dengan dokter baru lulus pelatihan, AI bertindak sebagai "co-pilot" yang memandu prosedur sesuai protokol terbaik. 

Artinya, kualitas penanganan di daerah bisa mendekati standar dokter senior di pusat kota.
 

4. Realitas layanan kesehatan dan harapan ke depan


Tak dipungkiri, sistem kesehatan publik seperti BPJS di Indonesia sangat membantu masyarakat luas secara gratis, namun sering kali diiringi dengan tantangan waktu tunggu yang panjang.

Di sisi lain, sektor swasta menawarkan kecepatan, namun biayanya tidak terjangkau oleh semua orang.
 

Philips - Better care for more people



(Bert van Meurs juga memberikan pemaparan dalam momen "Philips Pulse Connect International Media Event". Foto: Dok. Medcom.id/Yatin Suleha)

Dalam sesi yang sangat spesial ini, saya bertanya soal apa arti dari kata "Better care for more people" yang ada di Philips. 

Dalam video pembukaannya terdapat kata-kata yang sangat menyentuh yaitu "Care". Cara artinya peduli, perhatian, atau perawatan. 


"Care. A small word, but when it's needed most, it means the world. And at some point, we all need to be cared for. At Phillips, we care about care."


("Perawatan. Sebuah kata yang sederhana, namun saat sangat dibutuhkan, itu berarti segalanya. Dan pada suatu saat, kita semua perlu dirawat. Di Philips, kami peduli tentang perawatan.")

Bert van Meurs menyatakan, "Jadi ini bukan sekadar memberikan perawatan yang lebih baik. Anda bisa melupakan jutaan orang yang tidak mendapatkan perawatan itu. Jadi, ini adalah perawatan yang lebih baik untuk lebih banyak orang. Yaitu akses untuk bisa mendapatkan perawatan tersebut."

"Dan itu—sekali lagi—bukan sekadar slogan. Hal ini sangat penting karena memberikan arah bagi seluruh tim R&D (Riset & Pengembangan) kami. Dan Anda sedang berada di kampus ini. Salah satu kampus inovasi terpenting yang kami miliki di Philips."

"Ada lebih dari 3.000 orang di sini, kebanyakan dari mereka bergerak di bidang inovasi. Apa yang seharusnya mereka kerjakan? Mereka semua adalah insinyur hebat yang melihat kualitas citra yang lebih baik dan sebagainya."

"Namun, yang harus kita perhatikan adalah bagaimana kita dapat meningkatkan alur kerja (workflow) dan membuatnya lebih mudah sehingga lebih banyak pasien yang dapat dijangkau," bebernya panjang.

"Jadi, jika Anda melakukan inovasi, Anda benar-benar perlu memikirkan apa tujuan utama yang ingin kita capai. Dan itu bukan hanya tentang perawatan yang lebih baik, melainkan perawatan yang lebih baik untuk lebih banyak orang. Jadi, kami berfokus pada akses terhadap perawatan. Dan itulah cara berinovasi yang berbeda," kata Bert van Meurs.
   

Kolaborasi SIHREN



(Inisiatif ini akan membangun jaringan nasional ruang terapi berpandu citra, yang secara dramatis memperluas akses terhadap perawatan invasif minimal di berbagai rumah sakit di seluruh 38 provinsi. Foto: Ilustrasi/Dok. Philips)

Dan tentu saja, kolaborasi seperti SIHREN hadir untuk menjembatani kesenjangan ini. Dengan mempercepat proses pindai, mendemokratisasi teknologi, serta membuat prosedur medis menjadi minimal invasif (pasien bisa pulang dalam sehari atau dua hari, alih-alih dirawat dua minggu), beban sistem kesehatan secara keseluruhan dapat diringankan.

Pada akhirnya, proyek ini bukan sekadar urusan kontrak komersial jual-beli alat medis. Ini adalah misi kemanusiaan jangka panjang untuk memastikan bahwa di mana pun seorang warga Indonesia tinggal—baik di pusat Jakarta maupun di pulau-pulau terpencil—mereka berhak mendapatkan akses kesehatan jantung dan stroke yang cepat, akurat, dan menyelamatkan nyawa.

"Jadi, AI dan image-guided therapy meningkatkan akses terhadap perawatan, tetapi menurut saya, keduanya juga mempersingkat waktu perawatan dan sekali lagi, meningkatkan kapasitas, sehingga lebih banyak orang dapat diobati lebih cepat," ucap Dr. Atul.

"Jadi saya tidak berpikir dokter perlu takut pada AI, saya pikir mereka harus merangkulnya. Tetapi sebagai masyarakat dan sebuah perusahaan teknologi, kita harus memastikan AI yang tepat untuk pekerjaan yang tepat," pungkas Dr. Atul.


(Philips - Better care for more people. Video: Dok. YouTube Philips Healthcare)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH