FITNESS & HEALTH

Seharian Duduk Depan Laptop? Ini Dampaknya ke Tubuh Menurut WHO

A. Firdaus
Sabtu 29 Agustus 2026 / 19:12
Ringkasnya gini..
  • Duduk, rebahan, atau minim gerak dalam waktu lama termasuk perilaku sedentari yang berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan.
  • WHO menyebut orang yang kurang aktif memiliki risiko kematian 20–30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang cukup aktif.
  • Nggak harus langsung olahraga berat, aktivitas fisik apa pun tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.
Jakarta: Duduk depan laptop dari pagi, pindah ke kursi saat makan siang, lanjut duduk lagi sampai sore, lalu rebahan sambil scroll HP. Kalau rutinitas ini terasa familiar, bisa jadi tubuh kamu menghabiskan terlalu banyak waktu dalam kondisi sedentari.

Perilaku sedentari (sedentary behaviour) adalah kondisi ketika seseorang menghabiskan waktu dalam keadaan duduk, bersandar, atau berbaring saat sedang terjaga, dengan pengeluaran energi yang sangat rendah. Aktivitas seperti bekerja di depan meja, bepergian dengan kendaraan, menonton TV, hingga menghabiskan waktu di depan layar bisa termasuk di dalamnya.



(Ilustrasi perempuan melakukan peregangan di sela aktivitas kerja untuk mengurangi waktu duduk terlalu lama. Dok. Foto: AI)

 

Duduk seharian ternyata bukan cuma bikin pegal


Masalah dari terlalu banyak duduk bukan cuma badan terasa kaku setelah seharian kerja. WHO menyebut tingginya perilaku sedentari pada orang dewasa berkaitan dengan peningkatan risiko kematian dari berbagai penyebab, termasuk penyakit kardiovaskular dan kanker. Kebiasaan ini juga dikaitkan dengan meningkatnya kejadian penyakit kardiovaskular, kanker, dan diabetes tipe 2.

Di sisi lain, kurang aktivitas fisik juga menjadi faktor risiko berbagai penyakit tidak menular. WHO mencatat orang yang tidak cukup aktif memiliki risiko kematian 20–30 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang cukup aktif.

Jadi, kalau sehari-hari lebih banyak duduk daripada bergerak, kebiasaan tersebut memang layak mulai diperhatikan.

 

Rajin olahraga belum tentu bebas dari perilaku sedentary


Nah, ini yang sering bikin salah paham. Perilaku sedentari dan kurang olahraga bukan hal yang sama.

Seseorang bisa saja rutin olahraga, tetapi tetap menghabiskan sebagian besar hari dengan duduk. Sebaliknya, aktivitas fisik nggak selalu harus berupa workout di gym atau lari berjam-jam.

Menurut WHO, aktivitas fisik mencakup berbagai gerakan tubuh yang membutuhkan energi, termasuk berjalan kaki, bersepeda, aktivitas saat bepergian, pekerjaan rumah, hingga aktivitas yang dilakukan saat bekerja.

Artinya, kalau belum sempat olahraga, menambah gerakan dalam rutinitas harian tetap bisa jadi awal yang oke.

   

Berapa banyak aktivitas fisik yang dibutuhkan?


Untuk orang dewasa, WHO merekomendasikan setidaknya 150–300 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu, atau 75–150 menit aktivitas intensitas berat. Kombinasi keduanya juga bisa dilakukan.

Kalau angka tersebut terdengar banyak, nggak perlu langsung dipaksakan dalam sekali jalan. Aktivitas fisik bisa dibagi ke beberapa hari sesuai kemampuan dan rutinitas.

Yang juga penting, WHO menekankan bahwa setiap aktivitas fisik tetap dihitung dan sedikit aktivitas lebih baik daripada tidak sama sekali. Pedoman WHO juga menyarankan semua kelompok usia membatasi waktu sedentari.

 

Mulai dari hal kecil kalau kerja bikin duduk terus


Buat kamu yang memang harus duduk lama karena kerja atau kuliah, targetnya bukan harus langsung mengubah seluruh rutinitas.

Coba selipkan lebih banyak gerakan dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya, berjalan kaki saat memungkinkan, memilih tangga untuk jarak tertentu, atau memanfaatkan waktu luang untuk bergerak daripada terus duduk.

Intinya, jangan biarkan “seharian duduk” menjadi default setiap hari. Nggak harus langsung jadi anak gym. Yang penting, tubuh tetap punya kesempatan buat bergerak.

Desi Indasari

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH