FITNESS & HEALTH
Tidur Sudah Cukup tapi Tetap Ngantuk? Bisa Jadi Bukan soal Kurang Jam Tidur
A. Firdaus
Sabtu 29 Agustus 2026 / 19:00
- Tidur cukup bukan cuma soal jumlah jam, tetapi juga kualitas dan keteraturan tidur.
- Tetap ngantuk setelah tidur cukup bisa berkaitan dengan tidur yang sering terbangun, jadwal tidur berantakan, obat tertentu, atau gangguan tidur.
- Kalau rasa kantuk terus muncul sampai mengganggu aktivitas, kondisi ini sebaiknya nggak diabaikan.
Jakarta: Sudah tidur 7–8 jam, tapi pas bangun rasanya masih pengin narik selimut lagi? Siang baru duduk sebentar, mata mulai berat. Padahal kalau dihitung, durasi tidurmu sebenarnya sudah cukup.
Nah, ternyata tidur cukup nggak cuma soal berapa lama kamu berada di kasur. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), lembaga kesehatan masyarakat federal Amerika Serikat, menyebut orang dewasa usia 18–60 tahun membutuhkan setidaknya 7 jam tidur setiap malam. Namun, kualitas tidur juga nggak kalah penting. Tidur yang berkualitas berarti cukup, tidak sering terputus, dan membuat tubuh terasa lebih segar setelah bangun.
Jadi, kalau sudah tidur cukup tapi masih ngantuk, jangan buru-buru menyalahkan kopi. Ada beberapa hal yang bisa jadi penyebabnya.

(Ilustrasi seseorang yang tetap merasa mengantuk meski sudah tidur cukup. Dok. Foto: AI)
Coba ingat lagi bagaimana tidurmu semalam. Apakah benar-benar pulas atau justru beberapa kali terbangun?
CDC memasukkan sering terbangun di malam hari dan tetap merasa lelah meski sudah tidur cukup sebagai tanda kualitas tidur yang buruk. Jadi, durasi delapan jam belum tentu berarti tubuh mendapatkan istirahat yang optimal.
Kalau ini sering terjadi, perhatikan juga apakah kamu sulit tidur kembali setelah terbangun atau justru bangun terlalu pagi.
Weekday tidur jam 11 malam, weekend baru merem jam 3 pagi karena maraton series? Tubuh bisa ikut bingung.
CDC menyarankan menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten, termasuk pada akhir pekan. Mendapatkan cukup cahaya alami pada pagi atau siang hari dan tetap aktif di siang hari juga bisa membantu mendukung pola tidur yang lebih baik.
Perubahan jadwal kerja, jet lag, atau pola tidur yang terus bergeser juga dapat mengganggu siklus tidur-bangun.
Kalau sudah tidur cukup tetapi rasa kantuk berlebihan tetap muncul, salah satu kemungkinan yang perlu diperhatikan adalah sleep apnea.
Sleep apnea merupakan kondisi ketika napas berhenti dan kembali berulang kali saat tidur. Gangguan ini bisa membuat kualitas tidur terganggu dan menyebabkan kantuk atau kelelahan pada siang hari.
Tanda yang bisa muncul antara lain mendengkur keras, napas berhenti saat tidur, terbangun sambil megap-megap, mulut kering, sakit kepala pada pagi hari, dan mengantuk berlebihan di siang hari.
Yang bikin tricky, orang yang mengalaminya belum tentu sadar kalau tidurnya sering terganggu. Kadang justru pasangan atau orang serumah yang pertama kali menyadarinya.
Obat, kafein, dan alkohol juga bisa berpengaruh
Kualitas tidur ternyata bisa dipengaruhi hal-hal yang kelihatannya sepele. Mayo Clinic menyebut obat tertentu, kafein, alkohol, perubahan jadwal kerja, hingga kondisi kesehatan tertentu dapat memengaruhi tidur.
Jadi, kalau akhir-akhir ini kamu sering ngantuk, coba lihat juga kebiasaan sebelum tidur. Bisa saja masalahnya bukan kurang lama tidur, tetapi ada sesuatu yang mengganggu kualitas istirahat.
Sesekali bangun dalam kondisi lelah tentu bukan sesuatu yang aneh. Namun, kalau kamu sering nggak merasa segar setelah bangun atau terus mengalami kantuk berlebihan di siang hari, Mayo Clinic menyarankan untuk membicarakannya dengan tenaga kesehatan.
Apalagi kalau rasa kantuk sampai bikin sulit fokus saat bekerja, belajar, atau muncul ketika sedang berkendara. Jangan dipaksakan dengan mengandalkan kopi terus-menerus.
Intinya, tidur cukup bukan cuma perkara mengejar angka tujuh atau delapan jam. Kalau tubuh tetap terasa “low battery” meski durasi tidur sudah cukup, coba lihat kualitas dan pola tidurmu. Bisa jadi, itu yang selama ini bikin kamu tetap ngantuk.
Desi Indasari
(FIR)
Nah, ternyata tidur cukup nggak cuma soal berapa lama kamu berada di kasur. Centers for Disease Control and Prevention (CDC), lembaga kesehatan masyarakat federal Amerika Serikat, menyebut orang dewasa usia 18–60 tahun membutuhkan setidaknya 7 jam tidur setiap malam. Namun, kualitas tidur juga nggak kalah penting. Tidur yang berkualitas berarti cukup, tidak sering terputus, dan membuat tubuh terasa lebih segar setelah bangun.
Jadi, kalau sudah tidur cukup tapi masih ngantuk, jangan buru-buru menyalahkan kopi. Ada beberapa hal yang bisa jadi penyebabnya.

(Ilustrasi seseorang yang tetap merasa mengantuk meski sudah tidur cukup. Dok. Foto: AI)
Tidur 8 jam, tapi sering kebangun?
Coba ingat lagi bagaimana tidurmu semalam. Apakah benar-benar pulas atau justru beberapa kali terbangun?
CDC memasukkan sering terbangun di malam hari dan tetap merasa lelah meski sudah tidur cukup sebagai tanda kualitas tidur yang buruk. Jadi, durasi delapan jam belum tentu berarti tubuh mendapatkan istirahat yang optimal.
Kalau ini sering terjadi, perhatikan juga apakah kamu sulit tidur kembali setelah terbangun atau justru bangun terlalu pagi.
Jadwal tidur berantakan juga bisa jadi biang kerok
Weekday tidur jam 11 malam, weekend baru merem jam 3 pagi karena maraton series? Tubuh bisa ikut bingung.
CDC menyarankan menjaga jadwal tidur dan bangun yang konsisten, termasuk pada akhir pekan. Mendapatkan cukup cahaya alami pada pagi atau siang hari dan tetap aktif di siang hari juga bisa membantu mendukung pola tidur yang lebih baik.
Perubahan jadwal kerja, jet lag, atau pola tidur yang terus bergeser juga dapat mengganggu siklus tidur-bangun.
Bisa jadi ada gangguan tidur yang nggak kamu sadari
Kalau sudah tidur cukup tetapi rasa kantuk berlebihan tetap muncul, salah satu kemungkinan yang perlu diperhatikan adalah sleep apnea.
Sleep apnea merupakan kondisi ketika napas berhenti dan kembali berulang kali saat tidur. Gangguan ini bisa membuat kualitas tidur terganggu dan menyebabkan kantuk atau kelelahan pada siang hari.
Tanda yang bisa muncul antara lain mendengkur keras, napas berhenti saat tidur, terbangun sambil megap-megap, mulut kering, sakit kepala pada pagi hari, dan mengantuk berlebihan di siang hari.
Yang bikin tricky, orang yang mengalaminya belum tentu sadar kalau tidurnya sering terganggu. Kadang justru pasangan atau orang serumah yang pertama kali menyadarinya.
Obat, kafein, dan alkohol juga bisa berpengaruh
Kualitas tidur ternyata bisa dipengaruhi hal-hal yang kelihatannya sepele. Mayo Clinic menyebut obat tertentu, kafein, alkohol, perubahan jadwal kerja, hingga kondisi kesehatan tertentu dapat memengaruhi tidur.
Jadi, kalau akhir-akhir ini kamu sering ngantuk, coba lihat juga kebiasaan sebelum tidur. Bisa saja masalahnya bukan kurang lama tidur, tetapi ada sesuatu yang mengganggu kualitas istirahat.
Kapan rasa ngantuk perlu diperiksa?
Sesekali bangun dalam kondisi lelah tentu bukan sesuatu yang aneh. Namun, kalau kamu sering nggak merasa segar setelah bangun atau terus mengalami kantuk berlebihan di siang hari, Mayo Clinic menyarankan untuk membicarakannya dengan tenaga kesehatan.
Apalagi kalau rasa kantuk sampai bikin sulit fokus saat bekerja, belajar, atau muncul ketika sedang berkendara. Jangan dipaksakan dengan mengandalkan kopi terus-menerus.
Intinya, tidur cukup bukan cuma perkara mengejar angka tujuh atau delapan jam. Kalau tubuh tetap terasa “low battery” meski durasi tidur sudah cukup, coba lihat kualitas dan pola tidurmu. Bisa jadi, itu yang selama ini bikin kamu tetap ngantuk.
Desi Indasari
(FIR)