FAMILY
Cegah Stunting Lewat 1000 HPK, Wamenkes Ajak Para Ayah Jadi Suami Siaga
Yatin Suleha
Minggu 30 Agustus 2026 / 10:07
- Urusan kesehatan dan gizi anak sekarang tuh bukan cuma tugas ibu doang.
- Di zaman sekarang, peran aktif suami itu penting banget buat ngebentuk fisik dan kecerdasan anak sejak dari dalam kandungan.
- Pesan ini disampein langsung sama Wamenkes pas lagi berkunjung ke Kota Bogor buat ngecek langsung jalannya CKG Anak Sekolah dan HPK
Jakarta: Urusan kesehatan dan gizi anak sekarang tuh bukan cuma tugas ibu doang. Di zaman sekarang, peran aktif suami itu penting banget buat ngebentuk fisik dan kecerdasan anak sejak dari dalam kandungan.
Pesan ini disampein langsung sama Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI pas lagi berkunjung ke Kota Bogor buat ngecek langsung jalannya Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah dan program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) pada Jumat kemarin.
Di kunjungan kerja lintas sektor ini, Wamenkes juga ditemenin sama jajaran pejabat penting lainnya, mulai dari Wamendikdasmen Fajar Riza, Wamen PPPA Veronica Tan, Sesmenko PMK Imam Machdi, sampai Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan, Ade Kadarisman.
Program 1.000 HPK merupakan masa keemasan yang dihitung mulai dari 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari saat anak berusia di bawah 2 tahun (Baduta).
Fase ini sangat menentukan karena perkembangan otak anak terjadi secara maksimal. Fokus program tersebut adalah mencegah stunting, menurunkan kematian ibu dan bayi, serta memastikan tumbuh kembang anak optimal.
Untuk itu keberhasilan 1000 HPK perlu dipersiapkan sejak remaja, calon pengantin,dan pasangan usia subur (PUS).
Wamenkes Dante memaparkan, guna menekan angka stunting serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia, pemerintah menetapkan 4 target intervensi kunci dalam program 1.000 HPK.

(Wamenkes Dante juga gaungkan gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif kesehatan anak. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
(1) Fase sebelum hamil: Menargetkan kesehatan remaja putri dan skrining calon pengantin agar siap secara fisik;
(2) Masa kehamilan, persalinan, dan bayi baru lahir: Memastikan ibu hamil mendapat pemeriksaan USG dan persalinan di fasilitas yang aman.
(3) Periode baduta: Fokus pada ASI eksklusif, pemenuhan gizi, imunisasi, dan pemantauan tumbuh kembang, dan
(4) Penguatan layanan kesehatan: Memastikan Puskesmas dan Rumah Sakit siap secara fasilitas maupun pembiayaan.
Namun, lanjut Wamenkes Dante, program ini tidak akan sukses tanpa dukungan keluarga yang solid. Wamenkes menggaungkan pentingnya Fatherhood Movement (Gerakan Keayahan) sebagai pendukung utama 1.000 HPK.
"Perkembangan otak justru terjadi paling besar itu di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years ini sangat penting," ujar Wamenkes Dante.
"Kita juga menginisiasi gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif dalam pemenuhan kesehatan anak. Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat," tambah Wamenkes Dante.
Senada dengan hal tersebut, Wamen PPPA, Veronica Tan, juga menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor yang dilakukan pemerintah ibarat botol dan tutupnya—harus klop dan pas dengan implementasi di tingkat rumah tangga.
"Kualitas pendidikan dan kesehatan sangat bergantung pada fondasi keluarga. Terkadang orang tua sibuk, anak juga sibuk."
"Maka yang terpenting adalah membangun quality time (waktu berkualitas) antara bapak, ibu, dan anak. Kembalikan lagi kebiasaan makan masakan rumah, bukan makanan instan, sebagai fondasi hidup sehat yang kuat," pungkas Wamen PPPA Veronica.
Sebelum melangsungkan dialog interaktif dengan lintas pemangku kepentingan rombongan kementerian terlebih dahulu melakukan serangkaian peninjauan langsung ke lapangan.
Rangkaian kunjungan diawali di Puskesmas Tanah Sereal untuk meninjau pelayanan pemeriksaan rutin ibu hamil / Antenatal Care (ANC), melihat pelayanan pertumbuhan dan perkembangan anak baduta, serta pelaksanaan imunisasi bayi.
Selanjutnya, rombongan bergerak untuk meninjau tes kebugaran para siswa di lapangan dan melihat langsung proses pemeriksaan CKG di ruang-ruang kelas SMPN 5 Kota Bogor.
(TIN)
Pesan ini disampein langsung sama Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI pas lagi berkunjung ke Kota Bogor buat ngecek langsung jalannya Cek Kesehatan Gratis (CKG) Anak Sekolah dan program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) pada Jumat kemarin.
Di kunjungan kerja lintas sektor ini, Wamenkes juga ditemenin sama jajaran pejabat penting lainnya, mulai dari Wamendikdasmen Fajar Riza, Wamen PPPA Veronica Tan, Sesmenko PMK Imam Machdi, sampai Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan, Ade Kadarisman.
Program 1.000 HPK merupakan masa keemasan yang dihitung mulai dari 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari saat anak berusia di bawah 2 tahun (Baduta).
Fase ini sangat menentukan karena perkembangan otak anak terjadi secara maksimal. Fokus program tersebut adalah mencegah stunting, menurunkan kematian ibu dan bayi, serta memastikan tumbuh kembang anak optimal.
Untuk itu keberhasilan 1000 HPK perlu dipersiapkan sejak remaja, calon pengantin,dan pasangan usia subur (PUS).
Wamenkes Dante memaparkan, guna menekan angka stunting serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia, pemerintah menetapkan 4 target intervensi kunci dalam program 1.000 HPK.
Keempat target tersebut meliputi:

(Wamenkes Dante juga gaungkan gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif kesehatan anak. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
(1) Fase sebelum hamil: Menargetkan kesehatan remaja putri dan skrining calon pengantin agar siap secara fisik;
(2) Masa kehamilan, persalinan, dan bayi baru lahir: Memastikan ibu hamil mendapat pemeriksaan USG dan persalinan di fasilitas yang aman.
(3) Periode baduta: Fokus pada ASI eksklusif, pemenuhan gizi, imunisasi, dan pemantauan tumbuh kembang, dan
(4) Penguatan layanan kesehatan: Memastikan Puskesmas dan Rumah Sakit siap secara fasilitas maupun pembiayaan.
Gerakan keAyahan
Namun, lanjut Wamenkes Dante, program ini tidak akan sukses tanpa dukungan keluarga yang solid. Wamenkes menggaungkan pentingnya Fatherhood Movement (Gerakan Keayahan) sebagai pendukung utama 1.000 HPK.
"Perkembangan otak justru terjadi paling besar itu di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years ini sangat penting," ujar Wamenkes Dante.
"Kita juga menginisiasi gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif dalam pemenuhan kesehatan anak. Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat," tambah Wamenkes Dante.
Senada dengan hal tersebut, Wamen PPPA, Veronica Tan, juga menekankan bahwa kolaborasi lintas sektor yang dilakukan pemerintah ibarat botol dan tutupnya—harus klop dan pas dengan implementasi di tingkat rumah tangga.
"Kualitas pendidikan dan kesehatan sangat bergantung pada fondasi keluarga. Terkadang orang tua sibuk, anak juga sibuk."
"Maka yang terpenting adalah membangun quality time (waktu berkualitas) antara bapak, ibu, dan anak. Kembalikan lagi kebiasaan makan masakan rumah, bukan makanan instan, sebagai fondasi hidup sehat yang kuat," pungkas Wamen PPPA Veronica.
Sebelum melangsungkan dialog interaktif dengan lintas pemangku kepentingan rombongan kementerian terlebih dahulu melakukan serangkaian peninjauan langsung ke lapangan.
Rangkaian kunjungan diawali di Puskesmas Tanah Sereal untuk meninjau pelayanan pemeriksaan rutin ibu hamil / Antenatal Care (ANC), melihat pelayanan pertumbuhan dan perkembangan anak baduta, serta pelaksanaan imunisasi bayi.
Selanjutnya, rombongan bergerak untuk meninjau tes kebugaran para siswa di lapangan dan melihat langsung proses pemeriksaan CKG di ruang-ruang kelas SMPN 5 Kota Bogor.
(TIN)