FITNESS & HEALTH

Operasi Tetap Jalan meski Gempa Susulan, Kemenkes Dirikan RS Lapangan di NTT

A. Firdaus
Jumat 28 Agustus 2026 / 07:03
Ringkasnya gini..
  • Kemenkes mendirikan dua RS lapangan berbasis inflatable di NTT untuk memastikan layanan medis dan operasi korban gempa tetap aman meski ada gempa susulan.
  • lebih dari 185 ribu warga kini tersebar di 444 titik pengungsian.
  • Sebanyak 207 relawan medis dari pusat telah diberangkatkan untuk memperkuat kapasitas 70 rumah sakit.
Jakarta: Penanganan korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dilakukan. Di tengah kondisi sejumlah fasilitas kesehatan yang rusak dan ancaman gempa susulan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendirikan dua rumah sakit (RS) lapangan berbasis tenda udara atau inflatable.

RS lapangan tersebut didirikan di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, dan RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai. Fasilitas ini memungkinkan tenaga medis tetap memberikan layanan, termasuk melakukan tindakan operasi, tanpa menggunakan bangunan yang berisiko terdampak gempa susulan.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan hingga Rabu, 26 Agustus 2026, gempa tersebut telah menyebabkan 105 orang meninggal dunia. Sebanyak 385 korban mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan intensif, sementara 1.287 orang mengalami luka ringan.

Di sisi lain, lebih dari 185 ribu warga kini tersebar di 444 titik pengungsian.

“Ketika bangunan faskes rusak atau retak, pelayanan harus dipindahkan ke lokasi yang lebih aman agar keselamatan pasien dan tenaga kesehatan tetap terjamin,” kata Agus dalam keterangan tertulis, Kamis (27/08/2026).

Salah satu RS lapangan di Aeramo bahkan sudah digunakan untuk menangani pasien. Hingga Selasa, 25 Agustus, fasilitas tersebut telah melakukan tindakan operasi terhadap delapan pasien.
 

Operasi Tetap Dilakukan saat Gempa Susulan


Penggunaan RS lapangan menjadi penting karena penanganan korban gempa tidak bisa menunggu hingga seluruh fasilitas kesehatan kembali normal.

Dokter Alfin Bakhtiar Ilhami, Chief Resident Orthopaedi & Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), bersama tim dari RSUD Dr. Soetomo, melaporkan telah menangani 18 pasien dalam sepekan terakhir di RS lapangan.

Dari jumlah tersebut, empat pasien mendapat perawatan konservatif, sedangkan 14 pasien lainnya harus menjalani operasi.

Salah satu kasus yang ditangani cukup kompleks, yakni pasien dengan patah tulang multipel pada tulang selangka, lengan bawah, dan pergelangan kaki. Operasi harus dilakukan pada tiga bagian tubuh sekaligus.

Menariknya, gempa susulan sempat terasa ketika tindakan berlangsung. Namun, operasi tetap dapat dilanjutkan karena tim bekerja di dalam RS lapangan dengan struktur inflatable.

“Ini merupakan operasi yang kompleks karena menangani tiga bagian tubuh secara bersamaan. Di tengah tindakan, kami bahkan sempat merasakan gempa susulan. Namun, karena kami beroperasi di dalam RS lapangan berstruktur balon (inflatable), tindakan tetap dapat dilanjutkan dengan aman dan hasil maksimal,” ujar dr. Alfin.
 

Ratusan Tenaga Medis Dikerahkan


Selain menyediakan fasilitas sementara, Kemenkes juga memperkuat tenaga kesehatan di wilayah terdampak.

Sebanyak 207 relawan medis dari pusat telah diberangkatkan untuk memperkuat kapasitas 70 rumah sakit dan 444 puskesmas di daerah terdampak. Sebanyak 78 relawan tambahan juga akan ditugaskan selama 14 hari ke depan.

Mobilisasi tenaga kesehatan lintas profesi tersebut dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC). Tenaga yang dikerahkan mencakup dokter spesialis, termasuk bedah dan ortopedi, hingga tenaga gizi dan sanitasi.

Langkah ini dilakukan agar kebutuhan layanan kesehatan di tengah situasi darurat tetap terpenuhi, sekaligus mengisi kekosongan tenaga pada fasilitas kesehatan yang terdampak bencana.
 

ISPA Jadi Keluhan Terbanyak di Pengungsian


Penanganan pascagempa tidak hanya berfokus pada korban luka. Kondisi di lokasi pengungsian juga menjadi perhatian karena berpotensi memicu masalah kesehatan lain.

Kemenkes mencatat Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi keluhan yang paling banyak ditemukan, dengan 9.668 kasus.

Selain itu, terdapat 35 kasus gigitan hewan penular rabies di Nagekeo. Seluruh kasus tersebut telah ditangani dengan pemberian vaksinasi lengkap.

Kemenkes juga memastikan ketersediaan logistik medis, alat kesehatan, serta sistem rujukan pasien tetap terjaga selama masa tanggap darurat.

Dengan begitu, meski sejumlah fasilitas kesehatan mengalami kerusakan, layanan medis bagi korban gempa di NTT tetap dapat berjalan dan pasien yang membutuhkan tindakan segera tetap mendapat penanganan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH