Jakarta: Saat gempa M 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026, persoalannya bukan cuma soal bangunan yang rusak. Di balik situasi darurat itu, ada ribuan warga yang membutuhkan pertolongan medis secepat mungkin.
Ketika rumah sakit ikut terdampak, tantangannya jadi dobel. Dokter dan perawat tetap harus bekerja, pasien tetap harus dirawat, sementara fasilitas kesehatan yang biasanya menjadi tempat pertolongan juga mengalami gangguan.
| Baca juga: Gempa NTT Rusak Sejumlah Fasilitas, Operasional Fuel Terminal Reo Berangsur Normal |
Di sinilah rumah sakit lapangan mengambil peran penting. Fasilitas medis sementara ini menjadi alternatif ketika rumah sakit permanen tidak bisa beroperasi secara normal akibat gempa.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat gempa tersebut menimbulkan dampak besar di sejumlah wilayah NTT. Hingga pembaruan 21 Agustus 2026, tercatat 83 orang meninggal dunia, 986 orang luka-luka, dan lebih dari 110 ribu warga mengungsi. Data tersebut masih dapat berubah seiring proses pendataan di lapangan.
Situasinya semakin berat karena sejumlah fasilitas kesehatan juga terdampak. Salah satunya RSUD Ruteng. Kondisi ini membuat pemerintah harus mencari cara agar pelayanan kesehatan tidak ikut “lumpuh” ketika masyarakat justru sedang paling membutuhkannya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kemudian memastikan layanan kesehatan tetap berjalan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membangun rumah sakit lapangan di Ruteng dan Aeramo untuk memperkuat pelayanan bagi korban gempa.
Rumah sakit lapangan ini bukan sekadar tenda tempat orang berobat. Fasilitas di Ruteng dilengkapi ruang operasi dan sekitar 100 tempat tidur. Artinya, pasien yang membutuhkan tindakan lebih serius tetap bisa mendapatkan perawatan meskipun fasilitas rumah sakit utama terdampak.
Dan fasilitas tersebut langsung digunakan. Tim medis di Rumah Sakit Lapangan Ruteng menangani pasien yang membutuhkan operasi, termasuk seorang anak berusia 11 tahun yang menjalani tindakan medis pada 19 Agustus.
Di balik setiap pasien yang berhasil ditangani, ada tim medis yang bekerja dalam kondisi tidak biasa. Dokter, perawat, dokter spesialis, tenaga kesehatan, hingga petugas pendukung harus bekerja di tengah situasi darurat dan fasilitas yang serba terbatas.
Dokter spesialis juga ikut diterjunkan. Salah satu kebutuhan yang cukup penting adalah dokter ortopedi karena banyak korban mengalami cedera akibat tertimpa material bangunan atau dampak langsung dari gempa.
Bantuan tenaga medis tidak hanya datang dari wilayah NTT. RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar mengirim tim tanggap darurat yang terdiri dari dokter spesialis ortopedi, dokter spesialis anestesi, dan perawat, lengkap dengan obat-obatan serta perlengkapan medis.
Kemenkes juga mengerahkan 206 relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) ke NTT. Mereka membantu menjaga agar layanan kesehatan tetap berjalan ketika kebutuhan masyarakat meningkat drastis setelah bencana.
Tapi menangani korban gempa tidak berhenti pada urusan dokter dan rumah sakit. Ada juga tantangan untuk membawa pasien dari lokasi yang sulit dijangkau menuju fasilitas kesehatan. BNPB dan tim gabungan, misalnya, pernah mengevakuasi seorang penyintas dari Pulau Palue menuju Rumah Sakit TC Hillers di Maumere menggunakan helikopter Polri.
Jadi, rantai penyelamatan korban gempa sebenarnya cukup panjang. Mulai dari menemukan korban, memberikan pertolongan pertama, melakukan evakuasi, membawa pasien ke fasilitas kesehatan, melakukan operasi, sampai memberikan perawatan lanjutan. Semua bagian harus bergerak cepat karena dalam situasi bencana, waktu bisa menentukan hidup dan mati seseorang.
Yang tidak kalah penting, kondisi korban bukan cuma soal luka fisik. Trauma setelah mengalami gempa juga bisa membekas lama. Karena itu, penanganan kesehatan pascabencana juga perlu memperhatikan kondisi psikologis para penyintas.
Pada akhirnya, rumah sakit lapangan bukan sekadar fasilitas darurat. Ia menjadi semacam “backup system” ketika fasilitas kesehatan utama tidak bisa bekerja maksimal. Bersama dokter, perawat, relawan, pemerintah daerah, BNPB, Kemenkes, dan berbagai tim pendukung, mereka menjadi bagian dari sistem yang memastikan korban tidak kehilangan akses terhadap pertolongan medis.
Gempa memang bisa terjadi dalam hitungan detik. Namun, proses menyelamatkan dan memulihkan kehidupan para korban bisa berlangsung jauh lebih lama. Karena itu, semakin cepat sistem kesehatan bergerak, semakin besar peluang korban mendapatkan pertolongan tepat waktu.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda