FITNESS & HEALTH

Indonesia Cetak Sejarah, Operasi Janin Terbuka Pertama Berhasil Dilakukan

A. Firdaus
Jumat 28 Agustus 2026 / 09:13
Ringkasnya gini..
  • Indonesia berhasil melakukan open fetal surgery pertama untuk menangani spina bifida pada janin. Simak proses dan terobosan layanan kedokteran ini.
  • Myelomeningocele merupakan kelainan bawaan ketika tulang belakang dan jaringan saraf janin tidak menutup sempurna selama perkembangan di dalam kandungan.
  • Kolaborasi Indonesia dan Australia ini diharapkan tidak berhenti pada satu tindakan.
Jakarta: Indonesia mencatat tonggak baru dalam dunia kedokteran. Untuk pertama kalinya, open fetal surgery atau operasi janin terbuka dilakukan di dalam negeri untuk menangani myelomeningocele, salah satu bentuk paling berat dari spina bifida.

Operasi bersejarah tersebut dilakukan tim multidisiplin RSAB Harapan Kita bersama tim Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia, pada Selasa, 25 Agustus 2026. Prosedur ini kemudian dipaparkan dalam konferensi pers di RSAB Harapan Kita, Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dante Saksono Harbuwono menyebut keberhasilan ini menjadi salah satu terobosan penting dalam perkembangan kedokteran Indonesia, khususnya untuk menangani kelainan bawaan sejak bayi masih berada di dalam kandungan.
 

“Ini adalah operasi pertama di Indonesia, fetal open surgery, artinya operasi janin secara terbuka ketika masih berada di dalam kandungan. Ini merupakan terobosan yang luar biasa dan semuanya dilakukan oleh dokter-dokter Indonesia.”
 

Seperti Apa Operasi Janin Terbuka?


Myelomeningocele merupakan kelainan bawaan ketika tulang belakang dan jaringan saraf janin tidak menutup sempurna selama perkembangan di dalam kandungan.

Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan fungsi saraf, kelumpuhan, gangguan kandung kemih dan usus, hingga meningkatkan risiko hidrosefalus.

Kelainan tersebut sebenarnya dapat diketahui sejak masa kehamilan melalui pemeriksaan USG fetomaternal. Setelah diagnosis dan berbagai pemeriksaan dilakukan, termasuk skrining kelainan genetik, dokter dapat mempertimbangkan tindakan bedah janin sesuai kondisi pasien.

Pada open fetal surgery, ibu terlebih dahulu mendapatkan anestesi. Dokter kemudian membuka rahim secara terkontrol untuk mengakses janin dan memperbaiki kelainan myelomeningocele.

Setelah prosedur selesai, janin dikembalikan ke dalam rahim. Rahim kemudian ditutup dan ditempatkan kembali ke dalam tubuh ibu.

Prof. Dante mengatakan keberhasilan ini menunjukkan kemampuan tenaga kesehatan dan teknologi kedokteran Indonesia semakin berkembang. Layanan yang sebelumnya banyak dilakukan di luar negeri kini mulai bisa dikerjakan di dalam negeri.
 

Bukan Operasi Biasa, Banyak Dokter Terlibat


Ketua Tim Obstetri dan Ginekologi RSAB Harapan Kita, dr. Gatot Abdurrazak, mengatakan kemampuan terapi janin di rumah sakit tersebut telah dibangun selama bertahun-tahun.

RSAB Harapan Kita bahkan telah melakukan transfusi intrauterin sejak 2005 dan mengembangkan tindakan fetoskopik sejak 2011. Berbagai layanan fetal treatment juga telah dikembangkan, termasuk vesicoamniotic shunting, thoracoamniotic shunting, hingga fetoskopik laser untuk menangani twin-to-twin transfusion syndrome (TTTS).

Hingga kini, sekitar 200 kasus fetoskopik laser telah ditangani di RSAB Harapan Kita.

Untuk kasus operasi pertama ini, pasien dirujuk ketika usia kehamilan mencapai 18 minggu dengan diagnosis spina bifida. Menurut dr. Gatot, tindakan harus dilakukan dalam rentang waktu tertentu karena prosedur tersebut hanya memungkinkan dilakukan hingga usia kehamilan sekitar 26 minggu.

Sementara itu, Ketua Tim Bedah Saraf RSAB Harapan Kita dr. Alfi Aulia Rahmah menjelaskan myelomeningocele merupakan bentuk spina bifida yang paling berat.

Perbaikan kelainan sejak bayi masih berada di dalam kandungan diharapkan dapat mengurangi kerusakan saraf dan menurunkan risiko komplikasi jangka panjang, termasuk hidrosefalus.

Namun, prosedur ini membutuhkan kerja sama banyak bidang. Selain dokter bedah saraf, ada dokter fetomaternal, obstetri dan ginekologi, anestesi, perawat, serta berbagai tenaga kesehatan lainnya.

“Pada tindakan intrauterin, yang krusial adalah bagaimana menjaga janin tetap stabil. Apabila janin tidak stabil, operasi harus dihentikan,” jelas dr. Alfi.
 

Sempat Rasakan Gempa, Operasi Tetap Berjalan


Operasi tersebut juga melibatkan tim dari Mater Mothers’ Hospital, Brisbane, Australia. Maternal Fetal Medicine Dr. Glenn Radford mengatakan prosedur pertama yang dilakukan bersama tim Indonesia tersebut berjalan baik tanpa komplikasi.

Kolaborasi Indonesia dan Australia ini diharapkan tidak berhenti pada satu tindakan. Kerja sama akan terus dikembangkan untuk memperkuat kemampuan tenaga kesehatan Indonesia sehingga layanan fetal surgery nantinya dapat dilakukan secara mandiri.

Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, mengatakan tim RSAB telah dipersiapkan untuk melanjutkan layanan tersebut setelah tim Australia kembali ke negaranya.

“Multidisiplin kami sudah siap. Setelah ini RSAB akan melanjutkan dengan pasien-pasien berikutnya dan juga menularkan kemampuan ini ke rumah sakit-rumah sakit lain yang memiliki keunggulan di bidang fetomaternal,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan juga berencana memperluas kemampuan layanan tersebut melalui program pengampuan. Dengan begitu, rumah sakit lain yang memiliki kapasitas di bidang fetomaternal dapat ikut mengembangkan layanan serupa.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan kesehatan ibu dan anak berteknologi tinggi di Indonesia.

Keberhasilan operasi janin terbuka pertama untuk myelomeningocele pun menjadi sinyal bahwa semakin banyak layanan kedokteran canggih bisa dilakukan di dalam negeri. Harapannya, masyarakat tidak lagi harus pergi ke luar negeri untuk mendapatkan sejumlah layanan medis berteknologi tinggi.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH