FITNESS & HEALTH
Gampang Burnout Gegara Kerja? 6 Cara Ini Ampuh Bikin Hati Happy!
Yatin Suleha
Kamis 27 Agustus 2026 / 18:41
- Burnout kerja gak cuma soal terlalu banyak pekerjaan, tetapi juga sulit lepas dari urusan kantor setelah jam kerja.
- Konsep DRAMMA menawarkan enam aspek untuk membantu mengurangi burnout dan meningkatkan kepuasan kerja.
- Jika energi terbatas, prioritaskan detachment, meaning, dan affiliation untuk membantu menciptakan pengalaman kerja yang lebih sehat.
Jakarta: Pernah gak sih, jam kerja udah kelar tapi kepala masih ruwet mikirin kerjaan kantor? Niatnya mau rebahan gemoy, eh malah kepikiran deadline.
Pas mau Me Time, notif grup kantor malah nyala. Kalau kejadiannya terus-terusan begini, waktu istirahat yang harusnya buat recharge malah berasa kerja lembur jilid dua!
Kata Lauren Florko, Ph.D. di Psychology Today, ngatasin burnout biar gak gampang stres ternyata bukan sekadar rebahan doang, Bestie.
Kita juga butuh detox mental total dari kerjaan sekaligus nge-fulfill kebutuhan psikologis kita. Nah, semua rahasia ini dirangkum rapi dalam konsep keren bernama DRAMMA!
DRAMMA merupakan singkatan dari detachment, relaxation, autonomy, mastery, meaning, dan affiliation.
Enam hal ini menggabungkan proses pemulihan setelah bekerja dengan kebutuhan psikologis yang bisa membuat pekerjaan terasa lebih memuaskan.
Jadi, kalau selama ini cara mengatasi burnout cuma dengan rebahan atau mengambil waktu istirahat, ada satu hal yang nggak boleh dilewatkan: benar-benar lepas dari pekerjaan.
Nah, ini enam bagian yang bisa diperhatikan.
Pulang kerja tapi kepala masih ngantor? Badan emang udah di rumah, tapi otak tetep mikirin deadline dan chat kantor. Gak sehat, Bestie!
Lewat konsep DRAMMA, poin pertama namanya detachment—artinya bikin jarak mental dan fisik dari kerjaan pas jam kerja kelar.
Caranya gampang: bikin boundaries tegas dan matiin notif kantor pas waktunya rebahan. Biar me time kamu bener-bener berasa!

(DRAMMA adalah enam kunci pulih dari burnout dan bikin kerjaan puas. Foto: Ilustrasi/Dok. Generate AI)
Waktu luang seharusnya memberi kesempatan untuk memulihkan energi. Karena itu, jadwalkan aktivitas yang membantu tubuh dan pikiran lebih rileks.
Gak harus sesuatu yang ribet. Yang penting, ada waktu untuk istirahat, mengurangi stres, dan menjauh sejenak dari tugas pekerjaan. Psychology Today juga menekankan pentingnya menyediakan waktu untuk relaksasi fisik maupun mental di luar pekerjaan.
Merasa punya kendali terhadap pekerjaan juga bisa membuat pengalaman bekerja terasa lebih baik.
Autonomy berarti memiliki ruang untuk mengambil keputusan dan mengatur pekerjaan dengan cara yang sesuai dengan tujuan, minat, atau nilai pribadi.
Misalnya, ketika ada kesempatan, ikut menentukan cara menyelesaikan tugas atau mencari pendekatan kerja yang paling cocok.
Intinya, bukan cuma menjalankan tugas karena "memang harus", tetapi punya ruang untuk ikut menentukan bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan.
Kerjaannya gitu-gitu mulu tiap hari? Jelas bikin gampang bosan dan burnout!
Makanya, lewat konsep mastery, kita didorong buat terus upgrade skill, nambah ilmu, atau nyobain tantangan baru biar gak jalan di tempat.
Gaji dan jabatan bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah seseorang merasa puas dengan pekerjaannya.
Meaning berkaitan dengan bagaimana pekerjaan terhubung dengan nilai, tujuan, atau sesuatu yang dianggap penting secara pribadi.
Coba lihat kembali apakah ada tugas atau proyek tertentu yang membuatmu merasa pekerjaan yang dilakukan punya dampak.
Kerja bukan cuma soal tugas, vibe circle kantor juga ngaruh banget! Lewat affiliation, kita butuh relasi positif dan support system seru di tempat kerja.
Sesibuk apa pun, jangan cuek sama rekan kerja, ya. Interaksi yang asik dijamin bikin hari-hari kerjaan jadi jauh lebih ringan!
Gak punya banyak energi? Tenang, kata Florko, fokus aja dulu ke detachment, meaning, dan affiliation.
Kuncinya, ubah mindset dari yang tadinya cuma "ih, males burnout" jadi ngebangun target positif buat kerjaanmu.
Intinya, ngatasin burnout tuh bukan cuma soal cuti atau kerja lebih sedikit, tapi gimana caranya bikin waktu istirahat bener-bener lepas dari kantor, sementara waktu kerjanya tetep bermakna, asik, dan bikin berkembang!
Desi Indasari
(FIR)
Pas mau Me Time, notif grup kantor malah nyala. Kalau kejadiannya terus-terusan begini, waktu istirahat yang harusnya buat recharge malah berasa kerja lembur jilid dua!
Kata Lauren Florko, Ph.D. di Psychology Today, ngatasin burnout biar gak gampang stres ternyata bukan sekadar rebahan doang, Bestie.
Kita juga butuh detox mental total dari kerjaan sekaligus nge-fulfill kebutuhan psikologis kita. Nah, semua rahasia ini dirangkum rapi dalam konsep keren bernama DRAMMA!
Apa itu DRAMMA?
DRAMMA merupakan singkatan dari detachment, relaxation, autonomy, mastery, meaning, dan affiliation.
Enam hal ini menggabungkan proses pemulihan setelah bekerja dengan kebutuhan psikologis yang bisa membuat pekerjaan terasa lebih memuaskan.
Jadi, kalau selama ini cara mengatasi burnout cuma dengan rebahan atau mengambil waktu istirahat, ada satu hal yang nggak boleh dilewatkan: benar-benar lepas dari pekerjaan.
Nah, ini enam bagian yang bisa diperhatikan.
1. Detachment
Pulang kerja tapi kepala masih ngantor? Badan emang udah di rumah, tapi otak tetep mikirin deadline dan chat kantor. Gak sehat, Bestie!
Lewat konsep DRAMMA, poin pertama namanya detachment—artinya bikin jarak mental dan fisik dari kerjaan pas jam kerja kelar.
Caranya gampang: bikin boundaries tegas dan matiin notif kantor pas waktunya rebahan. Biar me time kamu bener-bener berasa!

(DRAMMA adalah enam kunci pulih dari burnout dan bikin kerjaan puas. Foto: Ilustrasi/Dok. Generate AI)
2. Relaxation
Waktu luang seharusnya memberi kesempatan untuk memulihkan energi. Karena itu, jadwalkan aktivitas yang membantu tubuh dan pikiran lebih rileks.
Gak harus sesuatu yang ribet. Yang penting, ada waktu untuk istirahat, mengurangi stres, dan menjauh sejenak dari tugas pekerjaan. Psychology Today juga menekankan pentingnya menyediakan waktu untuk relaksasi fisik maupun mental di luar pekerjaan.
3. Autonomy
Merasa punya kendali terhadap pekerjaan juga bisa membuat pengalaman bekerja terasa lebih baik.
Autonomy berarti memiliki ruang untuk mengambil keputusan dan mengatur pekerjaan dengan cara yang sesuai dengan tujuan, minat, atau nilai pribadi.
Misalnya, ketika ada kesempatan, ikut menentukan cara menyelesaikan tugas atau mencari pendekatan kerja yang paling cocok.
Intinya, bukan cuma menjalankan tugas karena "memang harus", tetapi punya ruang untuk ikut menentukan bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan.
4. Mastery
Kerjaannya gitu-gitu mulu tiap hari? Jelas bikin gampang bosan dan burnout!
Makanya, lewat konsep mastery, kita didorong buat terus upgrade skill, nambah ilmu, atau nyobain tantangan baru biar gak jalan di tempat.
5. Meaning
Gaji dan jabatan bukan satu-satunya hal yang menentukan apakah seseorang merasa puas dengan pekerjaannya.
Meaning berkaitan dengan bagaimana pekerjaan terhubung dengan nilai, tujuan, atau sesuatu yang dianggap penting secara pribadi.
Coba lihat kembali apakah ada tugas atau proyek tertentu yang membuatmu merasa pekerjaan yang dilakukan punya dampak.
6. Affiliation
Kerja bukan cuma soal tugas, vibe circle kantor juga ngaruh banget! Lewat affiliation, kita butuh relasi positif dan support system seru di tempat kerja.
Sesibuk apa pun, jangan cuek sama rekan kerja, ya. Interaksi yang asik dijamin bikin hari-hari kerjaan jadi jauh lebih ringan!
Gak harus langsung semuanya
Gak punya banyak energi? Tenang, kata Florko, fokus aja dulu ke detachment, meaning, dan affiliation.
Kuncinya, ubah mindset dari yang tadinya cuma "ih, males burnout" jadi ngebangun target positif buat kerjaanmu.
Intinya, ngatasin burnout tuh bukan cuma soal cuti atau kerja lebih sedikit, tapi gimana caranya bikin waktu istirahat bener-bener lepas dari kantor, sementara waktu kerjanya tetep bermakna, asik, dan bikin berkembang!
Desi Indasari
(FIR)