FITNESS & HEALTH

Bukan Tugas yang Kebanyakan, tapi 'Maksudnya Gimana Dah?' yang Bikin Stres!

Yatin Suleha
Kamis 27 Agustus 2026 / 18:55
Ringkasnya gini..
  • Stres kerja nggak selalu disebabkan terlalu banyak tugas, tetapi bisa muncul karena ekspektasi dan tanggung jawab yang nggak jelas.
  • Kondisi role ambiguity dapat menguras energi mental karena pekerja terus menebak tugas, prioritas, hingga ukuran keberhasilan.
  • Kejelasan soal tujuan, tanggung jawab, kewenangan, dan prioritas bisa membantu mengurangi stres sekaligus meningkatkan produktivitas kerja.
Jakarta: Pernah gak sih pulang kerja capek banget padahal tugas gak seberapa? Bisa jadi bukan karena kebanyakan kerjaan, tapi gara-gara role ambiguity alias ketidakjelasan peran!

Bingung mau ngapain, ukurannya apa, atau batasan kerjanya gimana—ini bener-bener ngerusak mental.

Riset Psychology Today bahkan bilang, jobdesk yang gak jelas jauh lebih bikin stres dibanding sekadar overwork. Red flag banget buat kewarasan!

 

Kata Soren Kaplan, Ph.D. di Psychology Today, dari hasil riset puluhan tahun yang ngelibatin hampir 800 ribu pekerja, ada 3 sumber stres utama:

1. Role overload (kebanyakan tugas)
2. Role conflict (bingung gara-gara tuntutan nabrak satu sama lain), dan
3. Role ambiguity (jobdesk gak jelas)

Nah, juaranya dalam bikin stres, burnout, dan bikin urge buat resign ternyata jatuh ke si role ambiguity ini!

Masalahnya, hal kayak gini tuh sering silent killer. Pas kita gak tahu standar kerjaan yang bener tuh kayak gimana, energi mental yang harusnya bisa dipakai buat creative thinking atau collab seru-seruan, malah abis tak bersisa cuma buat main tebak-tebakan maunya atasan apa. Capek bener!
 

Kerjaan sekarang makin ribet dan bikin bingung, kenapa sih?



(Ketidakjelasan peran sebenarnya bukan masalah baru. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Ketidakjelasan peran sebenarnya bukan masalah baru. Namun, perubahan di dunia kerja membuat batas tanggung jawab seseorang semakin mudah kabur.

Salah satunya PHK juga dapat memperlebar lingkup pekerjaan karyawan yang masih bertahan.

Ketika jumlah tenaga kerja berkurang, tugas orang yang keluar bisa saja dibagi kepada anggota tim lain.

Namun, pembagian tersebut belum tentu diikuti perubahan jabatan atau ruang lingkup pekerjaan.

Akibatnya, seseorang bisa menjalankan tugas yang sebelumnya dikerjakan beberapa orang, tetapi secara formal tetap berada dalam posisi yang sama.

 

Gimana cara ngurangi stres kerja?


1. Seperti apa ukuran keberhasilannya?

Coba bayangkan enam bulan ke depan. Hasil seperti apa yang bisa membuatmu berkata, “Oke, ini memang yang ingin dicapai”?

Kalau jawabannya masih samar, bisa jadi ada ekspektasi pekerjaan yang belum cukup jelas.

2. Keputusan apa yang menjadi tanggung jawabmu?

Tahu tugas saja belum tentu cukup. Seseorang juga perlu tahu keputusan mana yang bisa diambil sendiri dan mana yang membutuhkan persetujuan atasan.

Batas kewenangan yang jelas membantu karyawan memahami apa yang berada dalam kendalinya.

 
3. Bagaimana menentukan prioritas ketika semuanya berubah?

Prioritas pekerjaan bisa berubah, terutama ketika perusahaan sedang menghadapi perubahan atau ketidakpastian.

Karena itu, tim perlu punya cara yang jelas untuk menentukan mana yang benar-benar penting dan mendesak. Dengan begitu, nggak semua hal otomatis dianggap sebagai keadaan darurat.



Desi Indasari

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH