FITNESS & HEALTH
Cuci Baju sampai Tidur Cepat Disebut “Kinda Chic”, Kok Bisa?
A. Firdaus
Rabu 26 Agustus 2026 / 08:12
- Istilah “kinda chic” viral di media sosial untuk menggambarkan hal sederhana hingga ketidaksempurnaan sebagai sesuatu yang menarik dan layak dirayakan.
- Di media sosial, gabungan keduanya punya makna yang lebih santai.
- Pesannya cukup jelas: ketidaksempurnaan bukan berarti harus disembunyikan.
Jakarta: Pernah merasa melakukan sesuatu yang sebenarnya biasa saja, tapi tiba-tiba terlihat keren ketika dilakukan dengan percaya diri? Nah, mungkin kamu sedang berada di era “kinda chic”.
Istilah ini belakangan ramai digunakan di media sosial untuk menggambarkan berbagai hal yang sebenarnya sederhana, berantakan, bahkan dianggap tidak sesuai dengan standar sosial, tetapi justru dirayakan sebagai sesuatu yang menarik.
Dilansir dari Psychology Today, frasa “kinda chic to” semakin sering muncul di TikTok, Instagram, dan berbagai platform media sosial lainnya.
Secara sederhana, “kinda” merupakan bentuk singkat dari “kind of”, sementara “chic” berarti bergaya atau elegan. Namun, di media sosial, gabungan keduanya punya makna yang lebih santai.
“Kinda chic” seolah mengatakan: memang tidak sempurna, tapi justru itu yang bikin keren.
Menariknya, hal-hal yang disebut kinda chic justru tidak selalu glamor.
Mencuci pakaian, membuang sampah, menggunakan benang gigi, sampai memilih tidur lebih awal bisa disebut sebagai sesuatu yang kinda chic.
Kenapa? Karena tren ini seolah mengajak orang untuk tidak terlalu sibuk membuat kehidupan sehari-hari terlihat sempurna.
Daripada merasa aktivitas tersebut membosankan atau tidak keren, seseorang justru bisa merayakannya sebagai bagian dari hidup yang sebenarnya.
Begitu juga dengan berbagai "kekacauan" kecil dalam kehidupan.
Menumpahkan makanan atau minuman ke pakaian, rambut yang sedang berantakan, atau gigi berubah warna setelah makan blueberry pun bisa diberi label kinda chic.
Dengan kata lain, nggak semuanya harus estetik untuk bisa dianggap menarik.
Tren ini juga mulai merambah ke urusan self-care.
Tidak minum alkohol saat pesta, meminta makanan dengan lebih sedikit garam, atau memilih menjauh dari orang yang memberikan pengaruh buruk dapat disebut kinda chic.
Di sini, istilah tersebut terasa seperti bentuk validasi bahwa pilihan sehat atau keputusan untuk menjaga batas diri tidak harus selalu dianggap membosankan.
Alih-alih mengikuti apa yang dilakukan orang lain, seseorang justru dianggap keren ketika berani memilih sesuatu yang sesuai dengan kebutuhannya.
Kinda chic juga digunakan untuk menertawakan sekaligus menantang berbagai ekspektasi sosial.
Makan sendirian di restoran? Kinda chic.
Masih lajang? Kinda chic.
Punya pekerjaan yang dianggap tidak keren? Tetap kinda chic.
Menjalani hidup sesuai ritme sendiri? Apalagi.
Tren ini pada dasarnya memberikan ruang bagi orang untuk mendefinisikan sendiri apa yang mereka anggap menarik, tanpa harus mengikuti standar yang sudah dibuat masyarakat.
Bahkan, aktris Drew Barrymore pernah menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan bahwa berada di usia 50-an tetap bisa disebut “kinda chic”.
Model Ashley Graham juga menggunakan istilah serupa ketika membahas selulit yang tidak menghalanginya tampil di panggung Victoria's Secret.
Pesannya cukup jelas: ketidaksempurnaan bukan berarti harus disembunyikan.
Meski terdengar positif, tren ini bukan berarti bebas dari kritik.
Sebagian pengguna media sosial menilai istilah kinda chic sudah terlalu sering digunakan sehingga maknanya terasa berkurang. Ada pula yang menganggap penggunaannya bisa terdengar tidak tulus.
Bahkan, dalam beberapa situasi, kinda chic dapat berubah menjadi bentuk humblebrag, yaitu membanggakan diri secara terselubung sambil seolah-olah sedang merendah.
Misalnya, seseorang mengunggah sesuatu yang sebenarnya ingin dipuji, tetapi dibungkus dengan narasi "ah, ini sih kinda chic".
Di sinilah tren media sosial bisa menjadi sedikit tricky. Sesuatu yang awalnya bertujuan merayakan keunikan diri justru dapat berubah menjadi cara baru untuk mencari validasi.
Pada akhirnya, kinda chic bisa dilihat sebagai cara baru generasi media sosial untuk mengatakan bahwa hidup tidak harus selalu terlihat sempurna agar tetap menarik.
Makan sendirian, tidur lebih cepat, punya rambut berantakan, tidak ikut pesta, atau menjalani hidup dengan ritme sendiri bukan sesuatu yang harus disembunyikan hanya karena tidak sesuai ekspektasi.
Namun, seperti tren media sosial lainnya, istilah ini tetap perlu digunakan dengan kesadaran. Jangan sampai keinginan untuk terlihat kinda chic malah membuat kita kembali mengejar validasi dari orang lain.
Sebab, kalau dipikir-pikir, melakukan sesuatu karena memang nyaman dan sesuai dengan diri sendiri mungkin sudah cukup chic, tanpa perlu diberi label apa pun.
(FIR)
Istilah ini belakangan ramai digunakan di media sosial untuk menggambarkan berbagai hal yang sebenarnya sederhana, berantakan, bahkan dianggap tidak sesuai dengan standar sosial, tetapi justru dirayakan sebagai sesuatu yang menarik.
Dilansir dari Psychology Today, frasa “kinda chic to” semakin sering muncul di TikTok, Instagram, dan berbagai platform media sosial lainnya.
Secara sederhana, “kinda” merupakan bentuk singkat dari “kind of”, sementara “chic” berarti bergaya atau elegan. Namun, di media sosial, gabungan keduanya punya makna yang lebih santai.
“Kinda chic” seolah mengatakan: memang tidak sempurna, tapi justru itu yang bikin keren.
Dari Cuci Baju sampai Tidur Cepat
Menariknya, hal-hal yang disebut kinda chic justru tidak selalu glamor.
Mencuci pakaian, membuang sampah, menggunakan benang gigi, sampai memilih tidur lebih awal bisa disebut sebagai sesuatu yang kinda chic.
Kenapa? Karena tren ini seolah mengajak orang untuk tidak terlalu sibuk membuat kehidupan sehari-hari terlihat sempurna.
Daripada merasa aktivitas tersebut membosankan atau tidak keren, seseorang justru bisa merayakannya sebagai bagian dari hidup yang sebenarnya.
Begitu juga dengan berbagai "kekacauan" kecil dalam kehidupan.
Menumpahkan makanan atau minuman ke pakaian, rambut yang sedang berantakan, atau gigi berubah warna setelah makan blueberry pun bisa diberi label kinda chic.
Dengan kata lain, nggak semuanya harus estetik untuk bisa dianggap menarik.
Merawat Diri Juga Bisa “Kinda Chic”
Tren ini juga mulai merambah ke urusan self-care.
Tidak minum alkohol saat pesta, meminta makanan dengan lebih sedikit garam, atau memilih menjauh dari orang yang memberikan pengaruh buruk dapat disebut kinda chic.
Di sini, istilah tersebut terasa seperti bentuk validasi bahwa pilihan sehat atau keputusan untuk menjaga batas diri tidak harus selalu dianggap membosankan.
Alih-alih mengikuti apa yang dilakukan orang lain, seseorang justru dianggap keren ketika berani memilih sesuatu yang sesuai dengan kebutuhannya.
Nggak Harus Ikut Standar Sosial
Kinda chic juga digunakan untuk menertawakan sekaligus menantang berbagai ekspektasi sosial.
Makan sendirian di restoran? Kinda chic.
Masih lajang? Kinda chic.
Punya pekerjaan yang dianggap tidak keren? Tetap kinda chic.
Menjalani hidup sesuai ritme sendiri? Apalagi.
Tren ini pada dasarnya memberikan ruang bagi orang untuk mendefinisikan sendiri apa yang mereka anggap menarik, tanpa harus mengikuti standar yang sudah dibuat masyarakat.
Bahkan, aktris Drew Barrymore pernah menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan bahwa berada di usia 50-an tetap bisa disebut “kinda chic”.
Model Ashley Graham juga menggunakan istilah serupa ketika membahas selulit yang tidak menghalanginya tampil di panggung Victoria's Secret.
Pesannya cukup jelas: ketidaksempurnaan bukan berarti harus disembunyikan.
Tapi, “Kinda Chic” Juga Bisa Bikin Orang Ilfeel
Meski terdengar positif, tren ini bukan berarti bebas dari kritik.
Sebagian pengguna media sosial menilai istilah kinda chic sudah terlalu sering digunakan sehingga maknanya terasa berkurang. Ada pula yang menganggap penggunaannya bisa terdengar tidak tulus.
Bahkan, dalam beberapa situasi, kinda chic dapat berubah menjadi bentuk humblebrag, yaitu membanggakan diri secara terselubung sambil seolah-olah sedang merendah.
Misalnya, seseorang mengunggah sesuatu yang sebenarnya ingin dipuji, tetapi dibungkus dengan narasi "ah, ini sih kinda chic".
Di sinilah tren media sosial bisa menjadi sedikit tricky. Sesuatu yang awalnya bertujuan merayakan keunikan diri justru dapat berubah menjadi cara baru untuk mencari validasi.
Jadi, Sebenarnya “Kinda Chic” Itu Apa?
Pada akhirnya, kinda chic bisa dilihat sebagai cara baru generasi media sosial untuk mengatakan bahwa hidup tidak harus selalu terlihat sempurna agar tetap menarik.
Makan sendirian, tidur lebih cepat, punya rambut berantakan, tidak ikut pesta, atau menjalani hidup dengan ritme sendiri bukan sesuatu yang harus disembunyikan hanya karena tidak sesuai ekspektasi.
Namun, seperti tren media sosial lainnya, istilah ini tetap perlu digunakan dengan kesadaran. Jangan sampai keinginan untuk terlihat kinda chic malah membuat kita kembali mengejar validasi dari orang lain.
Sebab, kalau dipikir-pikir, melakukan sesuatu karena memang nyaman dan sesuai dengan diri sendiri mungkin sudah cukup chic, tanpa perlu diberi label apa pun.
(FIR)