FITNESS & HEALTH

Ternyata Stres Ayah sebelum Punya Anak Bisa Berdampak ke Tumbuh Kembang Si Kecil

A. Firdaus
Jumat 29 Mei 2026 / 15:10
Ringkasnya gini..
  • Stres berkepanjangan yang dialami ayah sebelum pembuahan dapat memengaruhi pertumbuhan awal keturunan melalui perubahan biologis pada sperma.
  • Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh stres sebelum pembuahan tidak terjadi melalui perubahan DNA.
  • Temuan ini memperlihatkan bahwa sperma membawa lebih dari sekadar informasi genetik.
Jakarta: Selama ini perhatian terhadap persiapan kehamilan lebih banyak berfokus pada kesehatan ibu. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi kesehatan calon ayah, termasuk tingkat stres yang dialami sebelum pembuahan, juga dapat berpengaruh pada perkembangan anak.

Penelitian dari Universitas Colorado Anschutz di Amerika Serikat menemukan bahwa stres berkepanjangan yang dialami ayah sebelum pembuahan dapat memengaruhi pertumbuhan awal keturunan melalui perubahan biologis pada sperma.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal iScience tersebut menunjukkan adanya peningkatan molekul RNA non-coding kecil yang responsif terhadap stres, yaitu let-7f-5p, dalam garis keturunan ayah. Molekul ini ditemukan meningkat ketika seseorang mengalami tekanan atau stres dalam jangka waktu lama.
 
Menariknya, para peneliti menemukan bahwa molekul tersebut dapat memengaruhi perkembangan embrio pada tahap paling awal, yang kemudian berdampak pada pertumbuhan setelah lahir.
 

Bukan perubahan DNA


Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh stres sebelum pembuahan tidak terjadi melalui perubahan DNA, melainkan melalui sinyal biologis yang dibawa oleh sperma.

Dalam studi yang dilakukan pada tikus, para ilmuwan meningkatkan kadar let-7f-5p pada sel telur yang telah dibuahi untuk meniru efek biologis stres pada ayah. Hasilnya, anak tikus jantan yang terpapar kadar molekul lebih tinggi menunjukkan pertumbuhan tubuh yang lebih besar dan tulang yang lebih panjang meski memiliki pola makan normal.

Penulis utama penelitian, Tracy Bale, PhD, mengatakan temuan ini memperlihatkan bahwa sperma membawa lebih dari sekadar informasi genetik.

"Sperma tidak hanya membawa informasi genetik, tetapi juga sinyal biologis yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup seseorang, termasuk stres," ujar Bale.

Menurutnya, pengalaman hidup seorang ayah dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan awal anak hingga kesehatan jangka panjangnya.
 

Stres berkepanjangan bisa meninggalkan jejak biologis


Ketua Departemen Psikiatri Universitas Colorado Anschutz, Neill Epperson, menambahkan bahwa penelitian ini semakin memperkuat bukti bahwa kondisi biologis sebelum pembuahan dapat berubah mengikuti pengalaman hidup seseorang.

Para peneliti menjelaskan bahwa stres yang berlangsung lama atau terjadi berulang kali berpotensi memicu perubahan biologis yang dapat memengaruhi perkembangan awal anak.

Beberapa contoh sumber stres yang disebutkan dalam penelitian ini antara lain merawat anggota keluarga yang sakit parah, tekanan pekerjaan yang tinggi, hingga masalah keuangan yang berkepanjangan.

"Stres berkepanjangan dapat meningkatkan kadar molekul tertentu dalam sperma. Molekul tersebut kemudian mungkin memengaruhi bagaimana tubuh anak berkembang sebelum lahir," jelas Bale.

Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti dorongan halus yang terjadi sejak awal kehidupan dan baru terlihat dampaknya pada tahap perkembangan berikutnya.
 

Pentingnya menjaga kesehatan mental calon orang tua


Meski penelitian ini masih terus dikembangkan, para peneliti menekankan pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental sebelum merencanakan kehamilan.

Mengelola stres, mendapatkan tidur yang cukup, menjaga pola makan sehat, serta mencari dukungan saat menghadapi masa sulit dinilai dapat membantu menciptakan kondisi biologis yang lebih baik bagi calon orang tua.

Penelitian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa persiapan kehamilan bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga melibatkan peran ayah dalam menjaga kesehatan tubuh dan mental demi mendukung tumbuh kembang anak sejak awal kehidupan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH