FITNESS & HEALTH

KDRT & Trauma Otak: Bahaya 'Invisible' yang Sering Kita Lewatkan

Yatin Suleha
Rabu 15 Juli 2026 / 16:36
Ringkasnya gini..
  • Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukan sekadar masalah domestik; ini adalah krisis global dengan dampak yang luar biasa besar.
  • Merujuk pada data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), prevalensinya pun cukup mencengangkan.
  • KDRT merupakan krisis global yang sering menyebabkan cedera otak traumatis bagi penyintasnya.
Jakarta: Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukan sekadar masalah domestik; ini adalah krisis global dengan dampak yang luar biasa besar. 

Merujuk pada data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), prevalensinya pun cukup mencengangkan: diperkirakan satu dari tiga perempuan dan satu dari empat laki-laki pernah mengalami kekerasan oleh pasangan mereka sepanjang hidupnya.

Angka ini mencakup spektrum kekerasan yang luas, mulai dari fisik, emosional, hingga psikologis. Namun, ada satu dampak krusial yang kerap luput dari perhatian banyak orang: cedera otak traumatis (Traumatic Brain Injury atau TBI).
 
Neuropsikolog Diane Roberts Stoler, Ed.D., menekankan bahwa di balik luka fisik yang tampak, ada kerusakan fungsi otak yang sering tidak disadari oleh penyintas maupun lingkungan sekitarnya. Padahal, jika diabaikan, kondisi ini bisa memicu gangguan kesehatan jangka panjang yang serius.
 

Apa itu TBI dalam konteks KDRT?




(KDRT merupakan krisis global yang sering menyebabkan cedera otak traumatis tersembunyi bagi para penyintasnya. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

TBI adalah cedera akibat benturan keras, guncangan, atau luka di area kepala, wajah, atau leher. Dalam banyak kasus KDRT, area-area inilah yang sering menjadi sasaran serangan. 

Karena gejalanya sering kali tidak terlihat secara fisik (seperti memar atau luka terbuka), banyak penyintas tidak menyadari bahwa otak mereka sebenarnya sedang mengalami trauma.

Mengapa isu ini penting? Memahami kaitan antara TBI dan KDRT sangat mendesak, terutama dalam rangka Bulan Kesadaran Kekerasan Dalam Rumah Tangga setiap Oktober.

Semakin dini kita menyadari dampak ini, semakin cepat pula penyintas mendapatkan penanganan medis yang tepat. Edukasi mengenai hal ini pun menjadi langkah kunci untuk membangun sistem dukungan yang lebih baik dan upaya pencegahan di masa depan.
 

Siapa yang paling terdampak?


Data menunjukkan adanya ketimpangan gender yang cukup tajam dalam kasus TBI akibat KDRT, di mana perempuan menjadi kelompok yang paling rentan. 

Kerentanan ini menuntut kita untuk menyediakan sistem perlindungan dan penanganan yang lebih inklusif dan komprehensif bagi setiap penyintas.
   

Pesan penting


Mengenali tanda-tanda cedera otak adalah langkah awal untuk membantu penyintas mendapatkan hak mereka atas kesehatan dan pemulihan yang layak. Jangan abaikan dampak yang tidak terlihat.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH