FITNESS & HEALTH
Dialami Komedian Temon, Seberapa Bahaya Serangan Jantung dan Hipertensi?
Aulia Putriningtias
Selasa 14 Juli 2026 / 15:51
- Komedian Simson Rarameha Ngadang atau yang lebih dikenal dengan 'Temon' meninggal diketahui karena serangan jantung.
- Sebelumnya diketahui bahwa komedian legendaris satu ini memiliki riwayat penyakit hipertensi atau darah tinggi.
- Tekanan darah tinggi atau hipertensi dikenal sebagai penyebab utama dari serangan jantung.
Jakarta: Komedian Simson Rarameha Ngadang atau yang lebih dikenal dengan 'Temon' meninggal pada Minggu, 12 Juli 2026 kemarin. Penyebabnya diketahui karena serangan jantung.
Sebelumnya diketahui bahwa komedian legendaris satu ini memiliki riwayat penyakit hipertensi atau darah tinggi. Hipertensi dan serangan jantung memiliki satu benang merah yang terhubung.
Kepergian Temon mengingatkan kita bukan hanya karya-karyanya, tetapi juga perihal kesehatan. Namun, seberbahaya apakah hipertensi dan serangan jantung sebenarnya?
Tekanan darah tinggi atau hipertensi dikenal sebagai penyebab utama dari serangan jantung. Kondisi ini tak jarang disebut sebagai 'silent killer' sebab minimnya keluhan.
Seseorang didiagnosis hipertensi jika hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan hasil tekanan sistol (angka yang pertama) ≥ 140 mmHg dan/atau tekanan diastol (angka yang kedua) ≥ 90 mmHg pada lebih dari 1(satu) kali kunjungan.
Sementara itu, serangan jantung adalah kondisi yang terjadi saat aliran darah ke jantung berkurang atau tersumbat secara drastis. Penyumbatan ini biasanya disebabkan oleh penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain di arteri jantung (koroner).
Dikarenakan sebagai 'silent killer', inilah yang membuat kerusakan seiring terjadi waktu demi waktu. Seorang Kardiolog dari Amrita Hospital, dr. Ashish Kumar, dikutip dalam Times of India, kerusakan jantung karena hipertensi sering tidak disadari.
"Bukan kematian mendadak yang membuat tekanan darah tinggi berbahaya; melainkan kerusakan yang terjadi seiring waktu," katanya.
"Sebelum serangan jantung, stroke, atau gagal ginjal, tubuh hampir selalu mengirimkan sinyal-sinyal kecil," lanjutnya.
Hipertensi dapat memberikan beban kerja jantung menjadi lebih berat. Jantung harus memompa darah ke seluruh tubuh dengan melawan tekanan yang jauh lebih tinggi. Tekanan yang harus dilawan jantung ini dikenal sebagai afterload.
Kemudian, jantung bisa menebal, di mana otot jantung, terutama di bilik kiri (ventrikel kiri) akan bekerja ekstra keras dan menebal (hipertrofi). Penebalan ini pada awalnya adalah kompensasi untuk meningkatkan kekuatan pompa.
Hipertensi bukanlah sekadar kondisi medis, melainkan faktor risiko ganda yang merusak sistem kardiovaskular. Jadi, penting sekali untuk selalu berkonsultasi ketika memiliki tanda-tanda hipertensi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Sebelumnya diketahui bahwa komedian legendaris satu ini memiliki riwayat penyakit hipertensi atau darah tinggi. Hipertensi dan serangan jantung memiliki satu benang merah yang terhubung.
Kepergian Temon mengingatkan kita bukan hanya karya-karyanya, tetapi juga perihal kesehatan. Namun, seberbahaya apakah hipertensi dan serangan jantung sebenarnya?
Hubungan hipertensi dan serangan jantung
Tekanan darah tinggi atau hipertensi dikenal sebagai penyebab utama dari serangan jantung. Kondisi ini tak jarang disebut sebagai 'silent killer' sebab minimnya keluhan.
Seseorang didiagnosis hipertensi jika hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan hasil tekanan sistol (angka yang pertama) ≥ 140 mmHg dan/atau tekanan diastol (angka yang kedua) ≥ 90 mmHg pada lebih dari 1(satu) kali kunjungan.
Sementara itu, serangan jantung adalah kondisi yang terjadi saat aliran darah ke jantung berkurang atau tersumbat secara drastis. Penyumbatan ini biasanya disebabkan oleh penumpukan lemak, kolesterol, dan zat lain di arteri jantung (koroner).
Dikarenakan sebagai 'silent killer', inilah yang membuat kerusakan seiring terjadi waktu demi waktu. Seorang Kardiolog dari Amrita Hospital, dr. Ashish Kumar, dikutip dalam Times of India, kerusakan jantung karena hipertensi sering tidak disadari.
"Bukan kematian mendadak yang membuat tekanan darah tinggi berbahaya; melainkan kerusakan yang terjadi seiring waktu," katanya.
"Sebelum serangan jantung, stroke, atau gagal ginjal, tubuh hampir selalu mengirimkan sinyal-sinyal kecil," lanjutnya.
Hipertensi dapat memberikan beban kerja jantung menjadi lebih berat. Jantung harus memompa darah ke seluruh tubuh dengan melawan tekanan yang jauh lebih tinggi. Tekanan yang harus dilawan jantung ini dikenal sebagai afterload.
Kemudian, jantung bisa menebal, di mana otot jantung, terutama di bilik kiri (ventrikel kiri) akan bekerja ekstra keras dan menebal (hipertrofi). Penebalan ini pada awalnya adalah kompensasi untuk meningkatkan kekuatan pompa.
Hipertensi bukanlah sekadar kondisi medis, melainkan faktor risiko ganda yang merusak sistem kardiovaskular. Jadi, penting sekali untuk selalu berkonsultasi ketika memiliki tanda-tanda hipertensi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)