FITNESS & HEALTH
Cedera Otak akibat KDRT: 3 Langkah Penting untuk Membantu Proses Pemulihan Penyintas
A. Firdaus
Kamis 16 Juli 2026 / 08:08
- Banyak penyintas membutuhkan dukungan yang menyeluruh.
- Kondisi ini masih sering tidak terdeteksi, karena gejalanya dianggap sebagai respons biasa setelah mengalami kekerasan.
- Kepedulian dari tenaga kesehatan, keluarga, lingkungan sekitar, hingga masyarakat luas memiliki peran yang sangat penting.
Jakarta: Cedera otak traumatis (TBI) akibat Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengobati luka fisik.
Banyak penyintas membutuhkan dukungan yang menyeluruh, karena mereka juga menghadapi trauma emosional, gangguan fungsi otak, hingga kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, kondisi ini masih sering tidak terdeteksi, karena gejalanya dianggap sebagai respons biasa setelah mengalami kekerasan.
Padahal, semakin cepat TBI dikenali dan ditangani, semakin besar peluang penyintas untuk menjalani proses pemulihan dengan lebih baik.
Oleh karena itu, kepedulian dari tenaga kesehatan, keluarga, lingkungan sekitar, hingga masyarakat luas memiliki peran yang sangat penting.
Membangun sistem dukungan yang aman dan penuh empati, dapat membantu penyintas merasa lebih nyaman untuk mencari pertolongan, sekaligus mencegah dampak yang lebih serius di kemudian hari.
Dilansir dari Psychology Today, menurut Diane Roberts Stoler, Ed.D., neuropsikolog dan psikolog kesehatan bersertifikat, meningkatkan kesadaran mengenai hubungan antara cedera otak traumatis (TBI), dan kekerasan dalam rumah tangga merupakan langkah awal yang sangat penting.
Namun, kesadaran saja tidak cukup. Diperlukan tindakan nyata agar para penyintas memperoleh perlindungan, pendampingan, dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Beberapa upaya berikut dapat menjadi bagian dari solusi, untuk memberikan dukungan yang lebih optimal.
Para profesional dan penyedia layanan kesehatan perlu melakukan penilaian, terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga secara universal serta menjalin kolaborasi, dengan berbagai program penanggulangan kekerasan dalam rumah tangga.
Langkah ini dapat membantu penyintas memperoleh akses, terhadap layanan dan dukungan yang mereka perlukan sejak dini.
Proses penilaian terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga perlu dilakukan dengan penuh empati, rasa hormat, dan kepekaan.
Tidak semua penyintas siap menceritakan pengalaman yang mereka alami dalam waktu singkat. Oleh karena itu, pendekatan yang memahami trauma menjadi sangat penting, agar fokus penanganan diarahkan pada pengalaman yang dialami korban, bukan pada penilaian terhadap kondisi dirinya.
Upaya pencegahan perlu dilakukan secara berkelanjutan, untuk memutus rantai kekerasan dalam rumah tangga, sekaligus mengurangi risiko terjadinya cedera otak traumatis (TBI) pada para penyintas.
Edukasi kepada masyarakat, peningkatan kesadaran mengenai bahaya KDRT, serta dukungan dari lingkungan sekitar menjadi bagian penting, dalam menciptakan ruang yang lebih aman, dan mencegah terulangnya kekerasan di masa depan.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Banyak penyintas membutuhkan dukungan yang menyeluruh, karena mereka juga menghadapi trauma emosional, gangguan fungsi otak, hingga kesulitan menjalani kehidupan sehari-hari.
Sayangnya, kondisi ini masih sering tidak terdeteksi, karena gejalanya dianggap sebagai respons biasa setelah mengalami kekerasan.
Padahal, semakin cepat TBI dikenali dan ditangani, semakin besar peluang penyintas untuk menjalani proses pemulihan dengan lebih baik.
Oleh karena itu, kepedulian dari tenaga kesehatan, keluarga, lingkungan sekitar, hingga masyarakat luas memiliki peran yang sangat penting.
Membangun sistem dukungan yang aman dan penuh empati, dapat membantu penyintas merasa lebih nyaman untuk mencari pertolongan, sekaligus mencegah dampak yang lebih serius di kemudian hari.
Dilansir dari Psychology Today, menurut Diane Roberts Stoler, Ed.D., neuropsikolog dan psikolog kesehatan bersertifikat, meningkatkan kesadaran mengenai hubungan antara cedera otak traumatis (TBI), dan kekerasan dalam rumah tangga merupakan langkah awal yang sangat penting.
Namun, kesadaran saja tidak cukup. Diperlukan tindakan nyata agar para penyintas memperoleh perlindungan, pendampingan, dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Beberapa upaya berikut dapat menjadi bagian dari solusi, untuk memberikan dukungan yang lebih optimal.
1. Penilaian universal
Para profesional dan penyedia layanan kesehatan perlu melakukan penilaian, terhadap kasus kekerasan dalam rumah tangga secara universal serta menjalin kolaborasi, dengan berbagai program penanggulangan kekerasan dalam rumah tangga.
Langkah ini dapat membantu penyintas memperoleh akses, terhadap layanan dan dukungan yang mereka perlukan sejak dini.
2. Pendekatan yang memahami trauma
Proses penilaian terhadap korban kekerasan dalam rumah tangga perlu dilakukan dengan penuh empati, rasa hormat, dan kepekaan.
Tidak semua penyintas siap menceritakan pengalaman yang mereka alami dalam waktu singkat. Oleh karena itu, pendekatan yang memahami trauma menjadi sangat penting, agar fokus penanganan diarahkan pada pengalaman yang dialami korban, bukan pada penilaian terhadap kondisi dirinya.
3. Pencegahan
Upaya pencegahan perlu dilakukan secara berkelanjutan, untuk memutus rantai kekerasan dalam rumah tangga, sekaligus mengurangi risiko terjadinya cedera otak traumatis (TBI) pada para penyintas.
Edukasi kepada masyarakat, peningkatan kesadaran mengenai bahaya KDRT, serta dukungan dari lingkungan sekitar menjadi bagian penting, dalam menciptakan ruang yang lebih aman, dan mencegah terulangnya kekerasan di masa depan.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)