FAMILY

6 Dampak Cedera Otak Traumatis pada Penyintas KDRT yang Perlu Diwaspadai

A. Firdaus
Kamis 16 Juli 2026 / 07:36
Ringkasnya gini..
  • Salah satu dampak serius yang kerap terabaikan adalah cedera otak traumatis (TBI)
  • Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak kekerasan dalam rumah tangga, tidak berhenti ketika tindakan kekerasan berakhir.
  • Cedera otak traumatis (TBI) dapat mengganggu fungsi otak.
Jakarta: Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), tidak hanya meninggalkan luka yang terlihat di tubuh, tetapi juga dapat memicu gangguan kesehatan, yang sering kali tidak disadari sejak awal. 

Salah satu dampak serius yang kerap terabaikan adalah cedera otak traumatis (TBI), yaitu kondisi yang dapat memengaruhi cara berpikir, mengingat, mengendalikan emosi, hingga menjalani aktivitas sehari-hari. 

Akibatnya, proses pemulihan korban menjadi jauh lebih berat, karena harus menghadapi trauma psikologis, sekaligus gangguan pada fungsi otak. Bahkan, sebagian penyintas baru menyadari adanya TBI setelah mengalami berbagai keluhan, yang terus muncul dalam jangka waktu lama. 
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak kekerasan dalam rumah tangga, tidak berhenti ketika tindakan kekerasan berakhir, melainkan dapat terus memengaruhi kualitas hidup korban selama bertahun-tahun, apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Dilansir dari Psychology Today, menurut Diane Roberts Stoler, Ed.D., neuropsikolog dan psikolog kesehatan bersertifikat, korban kekerasan dalam rumah tangga, yang mengalami cedera otak traumatis (TBI), sering menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan yang terlihat dari luar. 

Selain berusaha bangkit dari pengalaman kekerasan, mereka juga harus berhadapan dengan berbagai gangguan fisik, mental, dan emosional yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari hingga masa depan. Yuk simak dampaknya!
 

1. Kemampuan berpikir menurun


Cedera otak traumatis (TBI) dapat mengganggu fungsi otak, seperti menurunkan daya ingat, membuat konsentrasi menjadi lebih sulit, serta memperlambat proses berpikir. 

Kondisi ini sering membuat penyintas kesulitan menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, maupun mengambil keputusan yang tepat.
 

2. Gangguan stres pasca-trauma (PTSD)


Banyak penyintas kekerasan dalam rumah tangga, juga mengalami Gangguan Stres Pasca-Trauma (PTSD). Gejalanya dapat berupa mimpi buruk, kilas balik terhadap kejadian traumatis, hingga kondisi selalu merasa waspada atau hiperarousal. 

Jika PTSD terjadi bersamaan dengan TBI, tantangan emosional dan kognitif, yang dirasakan bisa menjadi semakin berat.
 

3. Sindrom pasca-gegar otak


Apabila gejala gegar otak atau cedera otak traumatis ringan (mTBI), tidak membaik dalam waktu satu hingga dua minggu, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi sindrom pasca-gegar otak.

Gangguan ini dapat menghambat aktivitas sehari-hari, serta memunculkan rasa frustrasi, cemas, dan ketidakpastian selama proses pemulihan.
 

4. Perubahan mood yang sulit dikendalikan


Kecemasan dan depresi menjadi kondisi yang cukup sering dialami oleh korban kekerasan dalam rumah tangga, maupun penyintas TBI. Perubahan suasana hati tersebut dapat membuat proses pemulihan menjadi lebih panjang, karena korban harus menghadapi tekanan emosional yang terus berlangsung.
 

5. Keluhan fisik yang terus muncul


Dampak TBI tidak hanya dirasakan secara mental, tetapi juga secara fisik. Sakit kepala berkepanjangan, gangguan tidur, hingga berbagai keluhan tubuh lainnya, dapat terus muncul dan menjadi pengingat atas trauma yang pernah dialami. Kondisi ini tentu berpengaruh terhadap kualitas hidup penyintas.
 

6. Efek jangka panjang yang tidak boleh diremehkan


Cedera otak traumatis (TBI) dapat menimbulkan dampak dalam jangka panjang, apabila tidak ditangani dengan baik. 

Kondisi ini, berpotensi memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan yang aman, mempertahankan pekerjaan, hingga membangun hubungan yang sehat. 

Selain itu, TBI yang tidak mendapatkan penanganan dapat menyebabkan gangguan perilaku, emosional, dan kognitif yang berlangsung dalam waktu lama.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH