FITNESS & HEALTH

Apa Itu Afasia, Gangguan yang Dialami Bruce Willis

Sri Yanti Nainggolan
Kamis 31 Maret 2022 / 10:48
Jakarta: Keluarga Bruce Willis mengumumkan bahwa aktor tersebut pensiun dari profesinya. Pemain Die Hard (1988) itu didiagnosa menderita afasia

"Kepada pendukung Bruce yang luar biasa, sebagai sebuah keluarga, kami ingin berbagi bahwa Bruce tercinta telah mengalami beberapa masalah kesehatan dan baru-baru ini didiagnosis menderita afasia, yang memengaruhi kemampuan kognitifnya," bunyi pernyataan itu, dilansir dari Variety, Kamis, 31 Maret 2022. 
 

Apa itu afasia?

Dilansir dari Alodokter, afasia adalah gangguan berkomunikasi yang disebabkan oleh kerusakan pada otak. Gangguan ini dapat memengaruhi kemampuan berbicara dan menulis, serta kemampuan memahami kata-kata saat membaca atau mendengar.

Umumnya penderita afasia akan keliru dalam memilih dan merangkai kata-kata menjadi sebuah kalimat yang benar. Namun, kondisi ini tidak memengaruhi tingkat kecerdasan dan daya ingat penderitanya.

Afasia bisa terjadi secara tiba-tiba setelah penderita mengalami stroke atau cedera kepala. Di satu sisi, afasia juga dapat terjadi secara bertahap jika disebabkan oleh tumor otak atau demensia.

Ilustrasi penderita afasia. Foto: ALodokter
Ilustrasi penderita afasia. Foto: ALodokter?
 

Penyebab afasia

Afasia bukan merupakan suatu penyakit, melainkan gejala yang menandai adanya kerusakan di bagian otak yang mengatur bahasa dan komunikasi.

Salah satu penyebab kerusakan otak yang paling sering memicu afasia adalah stroke. Saat mengalami stroke, tidak adanya aliran darah ke otak menyebabkan kematian sel otak atau kerusakan di bagian otak yang berfungsi memproses bahasa. Sekitar 25–40 persen penderita stroke akan menderita afasia.

Baca: 4 Langkah Menjaga Kesehatan Otak agar Terhindari dari Burnout

Kerusakan otak akibat cedera kepala, tumor otak, atau ensefalitis juga dapat menyebabkan afasia. Pada kasus ini, biasanya afasia akan disertai dengan gangguan lain, seperti gangguan daya ingat dan gangguan kesadaran.

Afasia juga dapat terjadi akibat penyakit yang menyebabkan penurunan fungsi sel-sel otak, misalnya demensia dan penyakit Parkinson. Pada kondisi ini, afasia akan berkembang secara bertahap seiring dengan perkembangan penyakit.
 
 

Gejala afasia

Gejala afasia dapat berbeda-beda, tergantung pada bagian otak yang rusak dan tingkat kerusakan yang terjadi. Berdasarkan gejala yang muncul, afasia dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

Afasia Wernicke (reseptif)
Afasia Wernicke dikenal dengan sebutan afasia reseptif atau sensory aphasia. Gangguan ini biasanya disebabkan oleh kerusakan otak di bagian kiri tengah. 

Pada afasia Wernicke, penderita akan kesulitan memahami atau mengerti kata-kata yang didengar atau dibaca. Akibatnya, penderita akan mengeluarkan kalimat atau kata-kata yang juga sulit dimengerti oleh lawan bicaranya.

Afasia Broca (ekspresif)
Afasia Broca dikenal juga dengan afasia ekspresif atau motor aphasia. Pada kondisi ini, penderita tahu apa yang ingin disampaikan kepada lawan bicara, tetapi kesulitan dalam mengutarakannya. Afasia Broca biasanya disebabkan oleh kerusakan otak di bagian kiri depan.

Baca: Masih Muda Sudah Pikun? Begini Cara Mencegahnya

Afasia global
Afasia global merupakan afasia paling berat dan biasanya terjadi ketika seseorang baru saja mengalami stroke. Afasia global biasanya disebabkan oleh kerusakan yang luas pada otak. 

Penderita afasia global akan kesulitan bahkan tidak mampu membaca, menulis, serta memahami perkataan orang lain.

Afasia progresif primer
Afasia progresif primer menyebabkan penurunan kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan memahami percakapan, yang terjadi secara perlahan. Afasia progresif primer jarang terjadi dan sulit ditangani.

Afasia anomik
Penderita afasia anomik atau anomia sering kali mengalami kesulitan dalam memilih dan menemukan kata-kata yang tepat ketika menulis dan berbicara.
 

Pengobatan afasia

Pengobatan afasia tergantung pada jenis afasia, bagian otak yang rusak, penyebab kerusakan otak, serta usia dan kondisi kesehatan pasien. Jika kerusakan otak tergolong ringan, afasia dapat membaik dengan sendirinya. 

Jika kondisinya cukup berat, pengobatan bisa dilakukan dengan beberapa metode yakni terapi wicara, obat-obatan untuk melancarakan darah keotak atau mencegak kelanjutan kerusakan otak, dan operasi yang bertujuan untuk mengangkat tumor di otak. 

Baca: Manfaat dari Melatih Tubuh dan Pikiran dengan Brain Gym
 

Pencegahan afasia

Belum ada cara pasti untuk mencegah terjadinya afasia. Langkah terbaik yang dapat dilakukan adalah mencegah kondisi yang dapat menyebabkan afasia. Pencegahan tersebut dapat dilakukan dengan menjalani gaya hidup sehat, seperti:
  • Berhenti merokok
  • Menghindari konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan
  • Menjaga berat badan agar tetap ideal dan terhindar dari obesitas
  • Melakukan olahraga secara teratur setidaknya 30 menit setiap hari
  • Menjaga pikiran tetap aktif, misalnya dengan membaca atau menulis

(SYN)

MOST SEARCH