FITNESS & HEALTH

Cara Penularan Kutu Rambut pada Anak dan Gejalanya yang Perlu Diketahui Orang Tua

A. Firdaus
Rabu 11 Maret 2026 / 11:15
Ringkasnya gini..
  • Sekitar 4% sarung bantal milik orang, yang terinfeksi yang masih mengandung kutu hidup.
  • Banyak orang mengira kutu rambut muncul, karena kebersihan yang buruk.
  • Yang berpindah adalah kutu hidupnya, bukan telurnya.
Jakarta: Kasus kutu kepala atau kutu rambut masih sering terjadi pada anak-anak, terutama di lingkungan sekolah atau tempat bermain. Meski terlihat sepele, kehadiran parasit kecil ini sering membuat orang tua merasa khawatir dan bingung harus berbuat apa. 

Seorang anak biasanya tertular kutu kepala dari saudara, teman sekolah, atau teman bermain yang sudah lebih dulu terinfeksi. Kutu merupakan serangga yang bergerak dengan cara merayap. Parasit ini tidak bisa melompat, terbang, atau meloncat. 

Namun, kutu dapat berpindah dari satu kepala ke kepala lain ketika dua orang berada sangat dekat. Misalnya, saat berpelukan atau tidur menggunakan bantal yang sama.
Perlu diketahui bahwa yang berpindah adalah kutu hidupnya, bukan telurnya. Telur kutu hanya bisa muncul, ketika kutu dewasa menempelkannya langsung pada batang rambut.

Kutu kepala paling sering ditemukan pada anak-anak, yang bersekolah di taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Termasuk anggota keluarga yang tinggal bersama mereka. 

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa anak perempuan lebih sering mengalami kutu rambut, dibandingkan anak laki-laki. Hal ini kemungkinan karena rambut yang lebih panjang, serta kebiasaan bermain dengan posisi kepala berdekatan.

Dilansir dari BabyCenter, menurut Shawnté James, dokter spesialis bayi baru lahir di Washington, D.C., penularan kutu rambut paling sering terjadi melalui kontak kepala yang cukup lama, misalnya saat tidur berdekatan dalam satu ruangan.

Jika rambut anak cukup panjang, mengikat rambut menjadi kuncir, kepang, atau sanggul saat terjadi wabah kutu rambut dapat membantu mengurangi risiko penularan. Rambut yang terikat biasanya lebih sulit menjadi tempat kutu berpindah.

Banyak orang mengira kutu rambut muncul, karena kebersihan yang buruk atau kondisi ekonomi tertentu. Padahal anggapan tersebut hanyalah mitos. Kutu rambut dapat hidup pada rambut bersih maupun kotor dan bisa ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk komunitas yang sangat mapan.

Oleh karena itu, ketika kutu kepala menyebar di suatu tempat, hal tersebut bukan kesalahan satu anak atau satu keluarga. Biasanya kutu memang sedang menyebar di lingkungan sekitar, seperti sekolah atau tempat bermain.

Secara teori, penularan juga bisa terjadi melalui benda yang baru saja digunakan oleh orang yang terinfeksi, misalnya topi, sisir, atau sikat rambut. Namun, cara ini jauh lebih jarang terjadi, dibandingkan penularan melalui kontak kepala langsung. 

Penelitian kecil yang dimuat dalam International Journal of Dermatology, menunjukkan bahwa hanya sekitar 4% sarung bantal milik orang, yang terinfeksi yang masih mengandung kutu hidup.

Hewan peliharaan seperti anjing atau kucing juga tidak menularkan kutu kepala manusia, sehingga tidak perlu khawatir kutu berasal dari hewan di rumah.

Gejala kutu rambut
1. Rasa gatal di kulit kepala atau sensasi seperti ada sesuatu, yang bergerak di rambut.
2. Sering menggaruk kepala, terutama di bagian belakang kepala atau di sekitar telinga. Kulit kepala terkadang baru menjadi sensitif terhadap air liur kutu setelah 4-6 minggu, sehingga rasa gatal bisa muncul agak terlambat. 
3. Luka pada kulit kepala akibat garukan. Jika luka tersebut terinfeksi bakteri, kelenjar getah bening bisa membengkak.
4. Anak menjadi lebih mudah rewel atau mudah marah.
5. Sulit tidur, karena kutu biasanya lebih aktif pada malam hari atau saat gelap.
6. Konjungtivitis (mata merah). Kondisi ini jarang terjadi, tetapi bisa muncul jika kutu berada di alis atau bulu mata dan area mata sering digosok, sehingga menimbulkan peradangan.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH