FITNESS & HEALTH
Diet Nggak Ribet! Hitung Kalori Cuma Lewat Chat WhatsApp
A. Firdaus
Kamis 30 April 2026 / 15:14
- Potensi pasar kebugaran digital Tanah Air juga terus meningkat.
- Berbeda dari aplikasi kebugaran pada umumnya, Kalg tidak mengharuskan pengguna mengunduh aplikasi baru.
- Kalg juga menawarkan pendekatan berbeda dalam program penurunan berat badan.
Jakarta: Di tengah menjamurnya aplikasi pelacak kalori seperti Lose It!, Simple Life, dan MyFitnessPal yang populer di Amerika Serikat dan Eropa, Indonesia justru menghadapi tantangan kesehatan yang tak kalah serius. Data UNICEF menunjukkan 1 dari 5 anak sekolah dan 1 dari 3 orang dewasa di Indonesia mengalami kelebihan berat badan.
Di sisi lain, potensi pasar kebugaran digital Tanah Air juga terus meningkat. Nilainya diproyeksikan tumbuh dari US$ 3,8 miliar pada 2025 menjadi US$ 12,7 miliar pada 2031. Melihat peluang sekaligus tantangan ini, Kalg hadir sebagai solusi lokal dengan pendekatan berbeda.
Berbeda dari aplikasi kebugaran pada umumnya, Kalg tidak mengharuskan pengguna mengunduh aplikasi baru. Platform ini memanfaatkan popularitas WhatsApp yang digunakan oleh sekitar 90 persen pengguna internet di Indonesia, dengan durasi pemakaian harian hampir dua jam.
Melalui Kalg, kamu cukup mengirim foto atau deskripsi makanan via WhatsApp. Teknologi kecerdasan buatan kemudian akan menghitung estimasi kalori secara akurat, termasuk untuk makanan khas Indonesia seperti Rendang, Nasi Goreng, hingga jajanan pasar.
“Tantangan utama di Indonesia bukan pada teknologinya, melainkan resistensi untuk mengunduh aplikasi baru. Kami membuat Kalg hadir secara seamless di WhatsApp, platform yang sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat,” ujar Chandra Ishano, Founder Kalg.
Tak hanya itu, Kalg juga menawarkan pendekatan berbeda dalam program penurunan berat badan. Alih-alih sistem langganan tanpa batas waktu, Kalg menghadirkan program yang dirancang sesuai target pengguna. Misalnya, tiga bulan untuk target penurunan berat badan yang cepat, atau hingga enam bulan untuk target yang lebih bertahap.
“Kami ingin memberikan kepastian kepada pengguna, bukan komitmen berlangganan tanpa akhir,” kata Luthfi Hariz, Head of Engineering & Product Kalg.
Dengan pendekatan berbasis kebiasaan pengguna ini, Kalg dinilai berpotensi mendorong perubahan gaya hidup sehat yang lebih inklusif dan mudah diakses. Inovasi ini juga menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan obesitas di Indonesia, sekaligus memanfaatkan pertumbuhan ekosistem digital yang kian pesat.
Ke depan, solusi seperti Kalg dapat menjadi alternatif praktis bagi masyarakat yang ingin memulai hidup sehat tanpa hambatan teknis, cukup dari aplikasi yang sudah ada di genggaman sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Di sisi lain, potensi pasar kebugaran digital Tanah Air juga terus meningkat. Nilainya diproyeksikan tumbuh dari US$ 3,8 miliar pada 2025 menjadi US$ 12,7 miliar pada 2031. Melihat peluang sekaligus tantangan ini, Kalg hadir sebagai solusi lokal dengan pendekatan berbeda.
Berbeda dari aplikasi kebugaran pada umumnya, Kalg tidak mengharuskan pengguna mengunduh aplikasi baru. Platform ini memanfaatkan popularitas WhatsApp yang digunakan oleh sekitar 90 persen pengguna internet di Indonesia, dengan durasi pemakaian harian hampir dua jam.
Melalui Kalg, kamu cukup mengirim foto atau deskripsi makanan via WhatsApp. Teknologi kecerdasan buatan kemudian akan menghitung estimasi kalori secara akurat, termasuk untuk makanan khas Indonesia seperti Rendang, Nasi Goreng, hingga jajanan pasar.
“Tantangan utama di Indonesia bukan pada teknologinya, melainkan resistensi untuk mengunduh aplikasi baru. Kami membuat Kalg hadir secara seamless di WhatsApp, platform yang sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat,” ujar Chandra Ishano, Founder Kalg.
Tak hanya itu, Kalg juga menawarkan pendekatan berbeda dalam program penurunan berat badan. Alih-alih sistem langganan tanpa batas waktu, Kalg menghadirkan program yang dirancang sesuai target pengguna. Misalnya, tiga bulan untuk target penurunan berat badan yang cepat, atau hingga enam bulan untuk target yang lebih bertahap.
“Kami ingin memberikan kepastian kepada pengguna, bukan komitmen berlangganan tanpa akhir,” kata Luthfi Hariz, Head of Engineering & Product Kalg.
Dengan pendekatan berbasis kebiasaan pengguna ini, Kalg dinilai berpotensi mendorong perubahan gaya hidup sehat yang lebih inklusif dan mudah diakses. Inovasi ini juga menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan obesitas di Indonesia, sekaligus memanfaatkan pertumbuhan ekosistem digital yang kian pesat.
Ke depan, solusi seperti Kalg dapat menjadi alternatif praktis bagi masyarakat yang ingin memulai hidup sehat tanpa hambatan teknis, cukup dari aplikasi yang sudah ada di genggaman sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)