FITNESS & HEALTH
Nggak Cuma Lari, Ini Cara Yad & Irma Nge-push Limit Diri
A. Firdaus
Kamis 30 April 2026 / 14:10
- Lari bukan sekadar olahraga, melainkan perjalanan membangun konsistensi.
- Irma Handayani, pelari maraton asal Kalimantan Timur, terus menjaga konsistensi di berbagai ajang internasional.
- Meski datang dari latar belakang berbeda, Yad dan Irma punya satu kesamaan.
Jakarta: Bagi sebagian orang, lari mungkin hanya soal mencapai garis finis. Tapi buat Yad Hapizudin dan Irma Handayani, setiap langkah punya makna lebih dalam. Lari bukan sekadar olahraga, melainkan perjalanan membangun konsistensi, keberanian, dan mental untuk terus melampaui batas diri.
Dua atlet kebanggaan Indonesia yang didukung PUMA Indonesia ini terus menunjukkan performa impresif, baik di level nasional maupun internasional.
Yad, pelari asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dikenal sebagai spesialis nomor 1.500 meter. Namanya makin bersinar setelah meraih juara pertama di Singapore Open Track and Field Championships 2026. Ia juga mencatatkan waktu personal terbaik 15 menit 8 detik di Adhyaksa International Run 2026 untuk jarak 5 km, sekaligus mempertegas potensinya sebagai salah satu pelari muda unggulan.
Sementara itu, Irma Handayani, pelari maraton asal Kalimantan Timur, terus menjaga konsistensi di berbagai ajang internasional. Salah satunya saat tampil di Daegu Marathon 2026 di Korea Selatan dengan catatan waktu 2 jam 56 menit 1 detik.
Bagi keduanya, garis finis bukanlah akhir. Justru jadi titik awal untuk target berikutnya—baik dari sisi waktu, performa, maupun kekuatan mental.
Perjalanan Yad dimulai dari hal sederhana: ikut ekstrakurikuler di sekolah. Ia sempat menjalani latihan silat dan lari secara bersamaan sejak usia 12 tahun. Namun, kemenangan di kompetisi atletik pelajar jadi titik balik yang mengubah hidupnya.
“Awalnya cuma ikut-ikutan, tapi setelah menang, aku jadi ngerasa ini bukan sekadar aktivitas,” ujarnya.
Sejak saat itu, Yad mulai serius menekuni lari. Ia pun menyadari bahwa menjadi atlet bukan hanya soal fisik, tapi juga komitmen. Rasa jenuh dalam latihan jadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasinya, Yad selalu menetapkan target baru agar tetap termotivasi.
Dari latihan dengan perlengkapan seadanya hingga menghadapi cedera, semua proses itu membentuk mentalnya. Kini, setelah berbagai prestasi diraih, Yad menargetkan untuk memecahkan rekor nomor 1.500 meter di kategori senior.
Cerita serupa juga datang dari Irma. Ia memulai dari keterbatasan, bahkan pernah mengikuti lomba tanpa sepatu.
“Dulu aku pernah lari tanpa sepatu. Dari situ aku tertantang buat terus berkembang,” ungkapnya.
Bagi Irma, lari adalah gaya hidup yang menuntut komitmen tinggi. Ia harus rela mengorbankan waktu istirahat hingga momen bersama orang terdekat demi menjaga performa. Namun dari situlah ia menemukan motivasi untuk terus berkembang.
Meski sudah merasakan berbagai pencapaian, termasuk momen berkesan di Pekan Olahraga Nasional (PON), Irma tetap memegang prinsip sederhana: menikmati proses.
Meski datang dari latar belakang berbeda, Yad dan Irma punya satu kesamaan: dorongan untuk terus berkembang.
Mereka paham bahwa performa tidak dibangun secara instan. Dibutuhkan latihan terstruktur, mulai dari interval hingga long run, serta konsistensi yang dijaga setiap hari.
Seiring meningkatnya intensitas latihan, kebutuhan mereka juga berkembang—bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga efisiensi dan responsivitas dalam setiap langkah.
Dalam perjalanan mereka, dukungan juga datang dari perlengkapan yang tepat. PUMA menghadirkan sepatu lari dengan konsep speed for everyday untuk mendukung berbagai fase latihan hingga race day.
Bagi Yad, responsivitas jadi faktor penting, terutama saat memasuki kilometer terakhir.
“Di 2 km terakhir biasanya adu speed. Jadi butuh sepatu yang tetap responsif dan stabil,” jelasnya.
Sepatu seperti Deviate 4 dilengkapi teknologi NITRO™ Foam untuk energy return optimal dan PWRPLATE untuk menjaga stabilitas di pace tinggi. Ditambah material ringan dan breathable serta outsole dengan traksi maksimal, performa pun bisa lebih optimal.
Sementara bagi Irma, menjaga ritme dari awal hingga akhir adalah kunci.
“Aku fokus ke performa, jadi penting banget punya support yang bisa jaga ritme,” katanya.
Namun lebih dari sekadar gear, dukungan juga hadir dalam bentuk kepercayaan. Kehadiran PUMA menjadi bagian dari sistem yang membantu mereka berkembang, baik secara fisik maupun mental.
Pada akhirnya, lari bukan hanya tentang siapa yang paling cepat. Tapi tentang bagaimana seseorang tetap melangkah, bahkan saat tantangan terasa berat.
Bagi Yad dan Irma, setiap langkah adalah proses. Sebuah perjalanan untuk terus berkembang dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Dan dengan konsistensi serta dukungan yang tepat, garis finis bukan lagi tujuan akhir—melainkan awal dari pencapaian berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dua atlet kebanggaan Indonesia yang didukung PUMA Indonesia ini terus menunjukkan performa impresif, baik di level nasional maupun internasional.
Yad, pelari asal Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dikenal sebagai spesialis nomor 1.500 meter. Namanya makin bersinar setelah meraih juara pertama di Singapore Open Track and Field Championships 2026. Ia juga mencatatkan waktu personal terbaik 15 menit 8 detik di Adhyaksa International Run 2026 untuk jarak 5 km, sekaligus mempertegas potensinya sebagai salah satu pelari muda unggulan.
Sementara itu, Irma Handayani, pelari maraton asal Kalimantan Timur, terus menjaga konsistensi di berbagai ajang internasional. Salah satunya saat tampil di Daegu Marathon 2026 di Korea Selatan dengan catatan waktu 2 jam 56 menit 1 detik.
Bagi keduanya, garis finis bukanlah akhir. Justru jadi titik awal untuk target berikutnya—baik dari sisi waktu, performa, maupun kekuatan mental.
Di balik langkah, ada pilihan sulit
Perjalanan Yad dimulai dari hal sederhana: ikut ekstrakurikuler di sekolah. Ia sempat menjalani latihan silat dan lari secara bersamaan sejak usia 12 tahun. Namun, kemenangan di kompetisi atletik pelajar jadi titik balik yang mengubah hidupnya.
“Awalnya cuma ikut-ikutan, tapi setelah menang, aku jadi ngerasa ini bukan sekadar aktivitas,” ujarnya.
Sejak saat itu, Yad mulai serius menekuni lari. Ia pun menyadari bahwa menjadi atlet bukan hanya soal fisik, tapi juga komitmen. Rasa jenuh dalam latihan jadi tantangan tersendiri. Untuk mengatasinya, Yad selalu menetapkan target baru agar tetap termotivasi.
Dari latihan dengan perlengkapan seadanya hingga menghadapi cedera, semua proses itu membentuk mentalnya. Kini, setelah berbagai prestasi diraih, Yad menargetkan untuk memecahkan rekor nomor 1.500 meter di kategori senior.
Cerita serupa juga datang dari Irma. Ia memulai dari keterbatasan, bahkan pernah mengikuti lomba tanpa sepatu.
“Dulu aku pernah lari tanpa sepatu. Dari situ aku tertantang buat terus berkembang,” ungkapnya.
Bagi Irma, lari adalah gaya hidup yang menuntut komitmen tinggi. Ia harus rela mengorbankan waktu istirahat hingga momen bersama orang terdekat demi menjaga performa. Namun dari situlah ia menemukan motivasi untuk terus berkembang.
Meski sudah merasakan berbagai pencapaian, termasuk momen berkesan di Pekan Olahraga Nasional (PON), Irma tetap memegang prinsip sederhana: menikmati proses.
Konsistensi jadi kunci
Meski datang dari latar belakang berbeda, Yad dan Irma punya satu kesamaan: dorongan untuk terus berkembang.
Mereka paham bahwa performa tidak dibangun secara instan. Dibutuhkan latihan terstruktur, mulai dari interval hingga long run, serta konsistensi yang dijaga setiap hari.
Seiring meningkatnya intensitas latihan, kebutuhan mereka juga berkembang—bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga efisiensi dan responsivitas dalam setiap langkah.
Dukungan yang bikin makin ngebut
Dalam perjalanan mereka, dukungan juga datang dari perlengkapan yang tepat. PUMA menghadirkan sepatu lari dengan konsep speed for everyday untuk mendukung berbagai fase latihan hingga race day.
Bagi Yad, responsivitas jadi faktor penting, terutama saat memasuki kilometer terakhir.
“Di 2 km terakhir biasanya adu speed. Jadi butuh sepatu yang tetap responsif dan stabil,” jelasnya.
Sepatu seperti Deviate 4 dilengkapi teknologi NITRO™ Foam untuk energy return optimal dan PWRPLATE untuk menjaga stabilitas di pace tinggi. Ditambah material ringan dan breathable serta outsole dengan traksi maksimal, performa pun bisa lebih optimal.
Sementara bagi Irma, menjaga ritme dari awal hingga akhir adalah kunci.
“Aku fokus ke performa, jadi penting banget punya support yang bisa jaga ritme,” katanya.
Namun lebih dari sekadar gear, dukungan juga hadir dalam bentuk kepercayaan. Kehadiran PUMA menjadi bagian dari sistem yang membantu mereka berkembang, baik secara fisik maupun mental.
Lebih dari sekadar siapa yang tercepat
Pada akhirnya, lari bukan hanya tentang siapa yang paling cepat. Tapi tentang bagaimana seseorang tetap melangkah, bahkan saat tantangan terasa berat.
Bagi Yad dan Irma, setiap langkah adalah proses. Sebuah perjalanan untuk terus berkembang dan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Dan dengan konsistensi serta dukungan yang tepat, garis finis bukan lagi tujuan akhir—melainkan awal dari pencapaian berikutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)