FITNESS & HEALTH
Baru Jalan 100 Meter Sudah Cari Kursi? Lutut Mungkin Sedang Kasih Kode
A. Firdaus
Kamis 13 Agustus 2026 / 19:50
- Kondisi lutut sebaiknya dinilai secara menyeluruh dengan melihat fungsi sendi dan kemampuan pasien menjalani aktivitas.
- Keputusan mengenai tindakan medis perlu mempertimbangkan kondisi fisik.
- Teknologi robotik tidak menggantikan peran dokter.
Jakarta: Lutut terasa nyeri setelah beraktivitas mungkin sering dianggap sebagai hal biasa, terutama ketika usia mulai bertambah. Namun, jangan buru-buru menganggapnya sekadar pegal atau faktor usia.
Dokter Spesialis Ortopedi dr. Andito Wibisono, Sp.OT, Subsp. PL mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan nyeri lutut maupun penurunan kemampuan bergerak yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Menurut dr. Andito, gangguan pada lutut tidak selalu ditandai dengan rasa sakit. Penurunan kemampuan berjalan atau beraktivitas juga dapat menjadi tanda adanya gangguan fungsi sendi.
"Yang paling utama munculnya sakit, ada yang gangguan fungsi," ujar dr. Andito saat peluncuran ROSA Robotic Surgical Assistant di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (13/08/2026).
Ia mencontohkan seseorang yang sebelumnya mampu berjalan jauh, tetapi kini harus berhenti dan beristirahat setelah menempuh jarak tertentu. Kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan meski tidak disertai rasa nyeri.
"Jalan jadi tidak kuat. Tidak sakit, tapi jarak tempuhnya baru jalan 100 meter sudah pengin duduk," katanya.
Dokter Andito mengatakan, kondisi lutut sebaiknya dinilai secara menyeluruh dengan melihat fungsi sendi dan kemampuan pasien menjalani aktivitas.
Menurutnya, hasil pemeriksaan pencitraan seperti rontgen tidak selalu menjadi satu-satunya penentu apakah pasien membutuhkan operasi.
Ia mencontohkan pasien yang mengalami perubahan bentuk kaki berdasarkan hasil rontgen, tetapi masih mampu berjalan dan menjalankan aktivitas dengan baik.

Dokter Spesialis Ortopedi dr. Andito Wibisono, Sp.OT, Subsp. PL. Dok. A. Firdaus/Medcom
"Dia bilang secara rontgen harus dioperasi. Tapi fungsinya masih baik, ya tidak saya operasi," ujar dr. Andito.
Sebaliknya, pasien dengan kerusakan sendi yang belum terlihat terlalu berat tetap dapat membutuhkan penanganan apabila mengalami nyeri, pembengkakan, atau gangguan fungsi yang berlangsung terus-menerus.
Artinya, keputusan mengenai tindakan medis perlu mempertimbangkan kondisi fisik, keluhan, fungsi sendi, serta kebutuhan masing-masing pasien.
Operasi penggantian lutut memang lebih banyak dilakukan pada pasien berusia 60 tahun ke atas. Namun, Andito menegaskan usia bukan satu-satunya faktor yang menentukan kebutuhan operasi.
Pasien berusia lebih muda juga dapat mengalami kerusakan sendi akibat kondisi tertentu. "Biasanya 60 tahun ke atas. Kebanyakan. Ada yang 25 tahun," kata Andito.
Kondisi tulang rawan dan fungsi sendi setiap orang juga berbeda. Karena itu, usia lanjut tidak otomatis berarti seseorang harus berhenti melakukan aktivitas fisik.
"Kalau rawannya masih bagus, silakan jogging. Kalau arthritis, berubah jadi low impact," ujarnya.
Bagi pasien dengan kondisi sendi tertentu, aktivitas fisik dapat disesuaikan menjadi olahraga dengan dampak yang lebih rendah untuk mengurangi beban pada sendi.
Penanganan kerusakan lutut pun perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. Dokter akan menentukan apakah keluhan masih dapat ditangani melalui terapi nonoperatif atau membutuhkan tindakan operasi.
Bagi pasien yang memang membutuhkan operasi penggantian lutut, perkembangan teknologi turut membantu dokter meningkatkan presisi tindakan. Salah satunya melalui ROSA (Robotic Surgical Assistant), teknologi robotik yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi penggantian lutut.
Dokter Andito menjelaskan teknologi tersebut mampu membantu dokter membaca pergerakan dengan tingkat ketelitian yang sangat kecil.

ROSA (Robotic Surgical Assistant), teknologi robotik yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi penggantian lutut. Dok. A. Firdaus/Medcom
"Robot bisa membaca bergerak dua milimeter. Dua milimeter mata kita tidak bisa lihat, feeling kita tidak bisa melihat," katanya.
Meski demikian, teknologi robotik tidak menggantikan peran dokter. Robot berfungsi sebagai alat bantu, sedangkan keputusan medis tetap ditentukan dokter berdasarkan kondisi dan kebutuhan pasien.
Karena itu, masyarakat yang mengalami nyeri lutut berulang, kesulitan berjalan, atau kemampuan beraktivitas yang semakin menurun sebaiknya tidak menunggu sampai kondisinya semakin berat.
Pemeriksaan oleh dokter dapat membantu mengetahui penyebab keluhan sekaligus menentukan penanganan yang paling sesuai, baik melalui terapi nonoperatif maupun tindakan lain jika memang diperlukan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Dokter Spesialis Ortopedi dr. Andito Wibisono, Sp.OT, Subsp. PL mengingatkan masyarakat untuk tidak mengabaikan nyeri lutut maupun penurunan kemampuan bergerak yang mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Menurut dr. Andito, gangguan pada lutut tidak selalu ditandai dengan rasa sakit. Penurunan kemampuan berjalan atau beraktivitas juga dapat menjadi tanda adanya gangguan fungsi sendi.
"Yang paling utama munculnya sakit, ada yang gangguan fungsi," ujar dr. Andito saat peluncuran ROSA Robotic Surgical Assistant di RS Premier Bintaro, Tangerang Selatan, Kamis (13/08/2026).
Ia mencontohkan seseorang yang sebelumnya mampu berjalan jauh, tetapi kini harus berhenti dan beristirahat setelah menempuh jarak tertentu. Kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan meski tidak disertai rasa nyeri.
"Jalan jadi tidak kuat. Tidak sakit, tapi jarak tempuhnya baru jalan 100 meter sudah pengin duduk," katanya.
Jangan cuma lihat hasil rontgen
Dokter Andito mengatakan, kondisi lutut sebaiknya dinilai secara menyeluruh dengan melihat fungsi sendi dan kemampuan pasien menjalani aktivitas.
Menurutnya, hasil pemeriksaan pencitraan seperti rontgen tidak selalu menjadi satu-satunya penentu apakah pasien membutuhkan operasi.
Ia mencontohkan pasien yang mengalami perubahan bentuk kaki berdasarkan hasil rontgen, tetapi masih mampu berjalan dan menjalankan aktivitas dengan baik.

Dokter Spesialis Ortopedi dr. Andito Wibisono, Sp.OT, Subsp. PL. Dok. A. Firdaus/Medcom
"Dia bilang secara rontgen harus dioperasi. Tapi fungsinya masih baik, ya tidak saya operasi," ujar dr. Andito.
Sebaliknya, pasien dengan kerusakan sendi yang belum terlihat terlalu berat tetap dapat membutuhkan penanganan apabila mengalami nyeri, pembengkakan, atau gangguan fungsi yang berlangsung terus-menerus.
Artinya, keputusan mengenai tindakan medis perlu mempertimbangkan kondisi fisik, keluhan, fungsi sendi, serta kebutuhan masing-masing pasien.
Operasi lutut tidak melulu soal usia
Operasi penggantian lutut memang lebih banyak dilakukan pada pasien berusia 60 tahun ke atas. Namun, Andito menegaskan usia bukan satu-satunya faktor yang menentukan kebutuhan operasi.
Pasien berusia lebih muda juga dapat mengalami kerusakan sendi akibat kondisi tertentu. "Biasanya 60 tahun ke atas. Kebanyakan. Ada yang 25 tahun," kata Andito.
Kondisi tulang rawan dan fungsi sendi setiap orang juga berbeda. Karena itu, usia lanjut tidak otomatis berarti seseorang harus berhenti melakukan aktivitas fisik.
"Kalau rawannya masih bagus, silakan jogging. Kalau arthritis, berubah jadi low impact," ujarnya.
Bagi pasien dengan kondisi sendi tertentu, aktivitas fisik dapat disesuaikan menjadi olahraga dengan dampak yang lebih rendah untuk mengurangi beban pada sendi.
Penanganan kerusakan lutut pun perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. Dokter akan menentukan apakah keluhan masih dapat ditangani melalui terapi nonoperatif atau membutuhkan tindakan operasi.
Teknologi robotik jadi alat bantu dokter
Bagi pasien yang memang membutuhkan operasi penggantian lutut, perkembangan teknologi turut membantu dokter meningkatkan presisi tindakan. Salah satunya melalui ROSA (Robotic Surgical Assistant), teknologi robotik yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi penggantian lutut.
Dokter Andito menjelaskan teknologi tersebut mampu membantu dokter membaca pergerakan dengan tingkat ketelitian yang sangat kecil.

ROSA (Robotic Surgical Assistant), teknologi robotik yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam perencanaan dan pelaksanaan operasi penggantian lutut. Dok. A. Firdaus/Medcom
"Robot bisa membaca bergerak dua milimeter. Dua milimeter mata kita tidak bisa lihat, feeling kita tidak bisa melihat," katanya.
Meski demikian, teknologi robotik tidak menggantikan peran dokter. Robot berfungsi sebagai alat bantu, sedangkan keputusan medis tetap ditentukan dokter berdasarkan kondisi dan kebutuhan pasien.
Karena itu, masyarakat yang mengalami nyeri lutut berulang, kesulitan berjalan, atau kemampuan beraktivitas yang semakin menurun sebaiknya tidak menunggu sampai kondisinya semakin berat.
Pemeriksaan oleh dokter dapat membantu mengetahui penyebab keluhan sekaligus menentukan penanganan yang paling sesuai, baik melalui terapi nonoperatif maupun tindakan lain jika memang diperlukan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)