FITNESS & HEALTH
Influenza A Jadi Perhatian, Kenali Gejala dan Tanda Bahaya
A. Firdaus
Rabu 30 September 2026 / 09:11
- Influenza A kembali menjadi perhatian di Indonesia.
- Kondisi tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak mengabaikan gejala yang muncul.
- Di sisi lain, kesiapan menghadapi biaya kesehatan juga menjadi perhatian.
Jakarta: Influenza A kembali menjadi perhatian seiring pemantauan kasus influenza di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per 26 September 2026 menunjukkan pada minggu ke-37 terdapat 148 spesimen positif influenza dari 265 spesimen yang diperiksa. Temuan tersebut didominasi Influenza A(H1N1)pdm09 sebanyak 135 kasus dan A(H3N2) sebanyak sembilan kasus.
Pada pemeriksaan surveilans Influenza-Like Illness (ILI), Kemenkes juga mencatat 105 spesimen positif Influenza A(H1N1)pdm09 dan tujuh spesimen positif Influenza A(H3N2) dari 198 spesimen yang diperiksa pada minggu ke-37.
Kemenkes turut memantau Influenza A(H3N2) subclade K yang telah ditemukan di Indonesia. Hingga minggu ke-37 tahun 2026, terdapat 188 kasus yang terdeteksi sejak 2025 dan tersebar di 20 provinsi. Kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan. Kelompok usia 0–4 tahun menjadi kelompok dengan proporsi temuan terbesar, disusul usia 5–9 tahun dan 10–17 tahun.
Meski demikian, masyarakat tidak perlu langsung panik. Kemenkes menyebut aktivitas influenza di Indonesia masih berada dalam kategori rendah dan kondisi masih terkendali. Kemenkes juga menegaskan istilah “superflu” yang beredar di masyarakat bukan nomenklatur resmi WHO maupun CDC untuk menyebut H3N2 subclade K.
Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan virus influenza. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala influenza umumnya muncul secara tiba-tiba dan dapat berupa demam, batuk, sakit kepala, nyeri otot atau sendi, sakit tenggorokan, pilek, serta rasa lemas.
Pada sebagian besar orang, gejala akan membaik dalam waktu sekitar satu minggu tanpa memerlukan penanganan medis khusus. Namun, influenza juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih berat pada kelompok tertentu.
Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis atau sistem kekebalan tubuh yang terganggu.
Komplikasi influenza dapat berupa pneumonia dan kondisi lain yang membutuhkan penanganan medis. Influenza juga dapat memperburuk penyakit kronis yang sudah dimiliki seseorang.
Data klaim Allianz Life Indonesia menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan perawatan terkait influenza. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025, jumlah kasus influenza yang membutuhkan rawat inap pada Januari hingga Agustus 2026 meningkat 47%.
Sepanjang Januari hingga minggu kedua September 2026, Allianz Life Indonesia juga mencatat pembayaran klaim terkait influenza lebih dari Rp13,8 miliar untuk 1.857 kasus.
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja, mengatakan kondisi tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak mengabaikan gejala yang muncul.
“Peningkatan proporsi positif influenza menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap memperhatikan kondisi kesehatan, terutama ketika muncul gejala seperti demam, batuk, dan tubuh terasa lemas,” ujar dr. Tubagus.
Menurut dia, mengenali gejala sejak awal dan memahami kapan perlu mendapatkan pertolongan medis penting untuk membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Influenza A memiliki kemampuan mengalami perubahan genetik. Karena itu, pemantauan terhadap jenis dan karakteristik virus yang beredar menjadi bagian penting dalam pengawasan influenza.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:
Demam atau menggigil
Batuk
Sakit tenggorokan
Hidung tersumbat atau pilek
Sakit kepala
Nyeri otot dan tubuh terasa pegal
Lemas dan mudah lelah
Penurunan nafsu makan
Pada anak-anak, influenza juga dapat disertai mual, muntah, atau diare. Namun, gejala dapat berbeda pada setiap orang sehingga kondisi tubuh secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.
WHO juga mencatat bahwa batuk akibat influenza dapat cukup berat dan berlangsung selama dua minggu atau lebih.
Tidak semua kasus influenza membutuhkan rawat inap. Namun, masyarakat perlu mengenali tanda ketika kondisi mulai membutuhkan pertolongan medis.
Segera konsultasikan kondisi kepada tenaga kesehatan jika mengalami:
Kesulitan bernapas atau sesak napas
Nyeri atau tekanan pada dada
Tubuh semakin lemah
Tanda-tanda dehidrasi
Gejala semakin berat atau tidak kunjung membaik
Penyakit kronis yang sudah dimiliki mengalami perburukan
Bagi kelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi, konsultasi sejak awal juga dapat membantu menentukan penanganan yang sesuai.
WHO menyebut orang yang memiliki risiko tinggi mengalami penyakit berat, termasuk anak kecil, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis, perlu mendapatkan perhatian medis lebih awal.
Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan influenza, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, serta menggunakan masker ketika sedang sakit.
Menjaga sirkulasi udara di dalam ruangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami gejala influenza, cukup beristirahat, memenuhi kebutuhan cairan, dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.
Vaksinasi influenza juga menjadi salah satu langkah pencegahan. WHO menyebut vaksin influenza musiman sebagai cara terbaik untuk mengurangi risiko sakit dan penyakit berat akibat influenza, dengan komposisi vaksin diperbarui secara berkala karena virus influenza terus mengalami perubahan.
Di sisi lain, kesiapan menghadapi biaya kesehatan juga menjadi perhatian.
“Menjaga kesehatan juga perlu diikuti dengan kesiapan menghadapi risiko finansial yang dapat muncul ketika seseorang membutuhkan pemeriksaan, pengobatan, maupun perawatan medis,” kata dr. Tubagus.
Ia menambahkan, data klaim Allianz menunjukkan kebutuhan penanganan influenza dapat beragam, mulai dari rawat jalan hingga perawatan di rumah sakit, tergantung kondisi masing-masing pasien.
Karena itu, selain menjaga kebersihan dan kesehatan sehari-hari, masyarakat juga perlu memahami gejala influenza dan tidak menunda mencari pertolongan ketika muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan.
(FIR)
Pada pemeriksaan surveilans Influenza-Like Illness (ILI), Kemenkes juga mencatat 105 spesimen positif Influenza A(H1N1)pdm09 dan tujuh spesimen positif Influenza A(H3N2) dari 198 spesimen yang diperiksa pada minggu ke-37.
Kemenkes turut memantau Influenza A(H3N2) subclade K yang telah ditemukan di Indonesia. Hingga minggu ke-37 tahun 2026, terdapat 188 kasus yang terdeteksi sejak 2025 dan tersebar di 20 provinsi. Kasus terbanyak ditemukan di DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan. Kelompok usia 0–4 tahun menjadi kelompok dengan proporsi temuan terbesar, disusul usia 5–9 tahun dan 10–17 tahun.
Baca Juga :
Kasus Flu Lagi Naik, tapi Kemenkes Minta Santai & Gak Panik Berlebihan!
Meski demikian, masyarakat tidak perlu langsung panik. Kemenkes menyebut aktivitas influenza di Indonesia masih berada dalam kategori rendah dan kondisi masih terkendali. Kemenkes juga menegaskan istilah “superflu” yang beredar di masyarakat bukan nomenklatur resmi WHO maupun CDC untuk menyebut H3N2 subclade K.
Influenza Bisa Menyerang Secara Tiba-Tiba
Influenza merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan virus influenza. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala influenza umumnya muncul secara tiba-tiba dan dapat berupa demam, batuk, sakit kepala, nyeri otot atau sendi, sakit tenggorokan, pilek, serta rasa lemas.
Pada sebagian besar orang, gejala akan membaik dalam waktu sekitar satu minggu tanpa memerlukan penanganan medis khusus. Namun, influenza juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih berat pada kelompok tertentu.
Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis atau sistem kekebalan tubuh yang terganggu.
Komplikasi influenza dapat berupa pneumonia dan kondisi lain yang membutuhkan penanganan medis. Influenza juga dapat memperburuk penyakit kronis yang sudah dimiliki seseorang.
Data Klaim Rawat Inap Ikut Meningkat
Data klaim Allianz Life Indonesia menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan perawatan terkait influenza. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025, jumlah kasus influenza yang membutuhkan rawat inap pada Januari hingga Agustus 2026 meningkat 47%.
Sepanjang Januari hingga minggu kedua September 2026, Allianz Life Indonesia juga mencatat pembayaran klaim terkait influenza lebih dari Rp13,8 miliar untuk 1.857 kasus.
Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia, dr. Tubagus Argie F. S. Sunartadirdja, mengatakan kondisi tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak mengabaikan gejala yang muncul.
“Peningkatan proporsi positif influenza menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tetap memperhatikan kondisi kesehatan, terutama ketika muncul gejala seperti demam, batuk, dan tubuh terasa lemas,” ujar dr. Tubagus.
Menurut dia, mengenali gejala sejak awal dan memahami kapan perlu mendapatkan pertolongan medis penting untuk membantu mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Kenali Gejala Influenza A
Influenza A memiliki kemampuan mengalami perubahan genetik. Karena itu, pemantauan terhadap jenis dan karakteristik virus yang beredar menjadi bagian penting dalam pengawasan influenza.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:
Demam atau menggigil
Batuk
Sakit tenggorokan
Hidung tersumbat atau pilek
Sakit kepala
Nyeri otot dan tubuh terasa pegal
Lemas dan mudah lelah
Penurunan nafsu makan
Pada anak-anak, influenza juga dapat disertai mual, muntah, atau diare. Namun, gejala dapat berbeda pada setiap orang sehingga kondisi tubuh secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.
WHO juga mencatat bahwa batuk akibat influenza dapat cukup berat dan berlangsung selama dua minggu atau lebih.
Kapan Harus ke Dokter?
Tidak semua kasus influenza membutuhkan rawat inap. Namun, masyarakat perlu mengenali tanda ketika kondisi mulai membutuhkan pertolongan medis.
Segera konsultasikan kondisi kepada tenaga kesehatan jika mengalami:
Kesulitan bernapas atau sesak napas
Nyeri atau tekanan pada dada
Tubuh semakin lemah
Tanda-tanda dehidrasi
Gejala semakin berat atau tidak kunjung membaik
Penyakit kronis yang sudah dimiliki mengalami perburukan
Bagi kelompok yang memiliki risiko komplikasi lebih tinggi, konsultasi sejak awal juga dapat membantu menentukan penanganan yang sesuai.
WHO menyebut orang yang memiliki risiko tinggi mengalami penyakit berat, termasuk anak kecil, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis, perlu mendapatkan perhatian medis lebih awal.
Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penularan influenza, seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, serta menggunakan masker ketika sedang sakit.
Menjaga sirkulasi udara di dalam ruangan, menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang mengalami gejala influenza, cukup beristirahat, memenuhi kebutuhan cairan, dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan.
Vaksinasi influenza juga menjadi salah satu langkah pencegahan. WHO menyebut vaksin influenza musiman sebagai cara terbaik untuk mengurangi risiko sakit dan penyakit berat akibat influenza, dengan komposisi vaksin diperbarui secara berkala karena virus influenza terus mengalami perubahan.
Di sisi lain, kesiapan menghadapi biaya kesehatan juga menjadi perhatian.
“Menjaga kesehatan juga perlu diikuti dengan kesiapan menghadapi risiko finansial yang dapat muncul ketika seseorang membutuhkan pemeriksaan, pengobatan, maupun perawatan medis,” kata dr. Tubagus.
Ia menambahkan, data klaim Allianz menunjukkan kebutuhan penanganan influenza dapat beragam, mulai dari rawat jalan hingga perawatan di rumah sakit, tergantung kondisi masing-masing pasien.
Karena itu, selain menjaga kebersihan dan kesehatan sehari-hari, masyarakat juga perlu memahami gejala influenza dan tidak menunda mencari pertolongan ketika muncul tanda-tanda yang mengkhawatirkan.
(FIR)