FITNESS & HEALTH

Spill Fakta Soal Gula yang Sering Salah Kaprah di Pola Makan Kita

Yatin Suleha
Jumat 01 Mei 2026 / 13:06
Ringkasnya gini..
  • Lagi tren banget nih orang-orang merasa khawatir soal gula berlebih.
  • Informasi di medsos sering bikin kita mikir kalau gula itu harus di-cut habis-habisan.
  • Sayangnya, anggapan kalau semua gula itu buruk sebenarnya kurang tepat.
Jakarta: Lagi tren banget nih orang-orang merasa khawatir soal gula berlebih. Informasi di medsos sering bikin kita mikir kalau gula itu harus di-cut habis-habisan.

Sayangnya, anggapan kalau semua gula itu buruk sebenarnya kurang tepat. Efeknya, banyak yang malah merasa lemas, enggak fokus, dan sering ngantuk karena tubuh kekurangan asupan energi yang pas.

Kondisi ini bisa dialami siapa saja, mulai dari pekerja dengan jadwal padat hingga anak-anak di sekolah. Salah satu penyebabnya adalah pola makan yang kurang seimbang, sehingga kebutuhan energi tubuh tidak terpenuhi dengan optimal.
 
Menurut dr. Nadia Alaydrus, M.Kes. A3M, Dipl. AAAM, dokter yang sekaligus health influencer yang dikenal sebagai Dokter Traveller di Trans TV, dan peraih penghargaan Best of Health and Wellness di TikTok Awards 2023 ini, tubuh manusia membutuhkan energi secara terus-menerus untuk menjalankan berbagai fungsi penting. 

Energi tersebut digunakan untuk mendukung aktivitas fisik seperti bergerak dan bekerja, sekaligus aktivitas kognitif seperti berpikir dan berkonsentrasi. 

Tanpa asupan energi yang cukup, tubuh akan lebih mudah merasa lelah dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari dapat menurun.

Energi yang dibutuhkan tubuh berasal dari makanan yang dikonsumsi setiap hari. Dalam proses metabolisme, tubuh akan memecah karbohidrat dan gula yang terdapat dalam makanan menjadi glukosa. 

Glukosa kemudian digunakan oleh sel-sel tubuh sebagai bahan bakar utama untuk menghasilkan energi. Proses ini merupakan mekanisme alami yang memungkinkan tubuh tetap berfungsi secara optimal.

Karena itu, pemahaman mengenai pola makan yang seimbang menjadi sangat penting. Pola makan yang baik seharusnya mencakup kombinasi berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh, seperti karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral, serta gula sebagai salah satu sumber energi. Setiap zat gizi memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga fungsi tubuh.

Karbohidrat kompleks yang berasal dari sumber makanan seperti nasi, gandum, atau umbi-umbian umumnya menyediakan energi yang dilepaskan secara bertahap. 

Di sisi lain, gula dapat menyediakan energi yang lebih cepat digunakan oleh tubuh. Kombinasi antara keduanya membantu tubuh menjaga kestabilan energi sepanjang hari, terutama ketika seseorang menjalani aktivitas yang membutuhkan tenaga maupun konsentrasi.

Energi juga berperan penting dalam mendukung fungsi otak. Otak merupakan salah satu organ yang memiliki kebutuhan energi cukup tinggi dibandingkan organ lain dalam tubuh. 


(Dr. Nadia Alaydrus, M.Kes. A3M, Dipl. AAAM. Foto: Dok. Istimewa)

Ketika seseorang melakukan aktivitas yang membutuhkan fokus tinggi, seperti bekerja, belajar, atau memecahkan masalah, otak membutuhkan pasokan energi yang cukup agar dapat bekerja secara optimal.

Penjelasan dari Harvard Medical School menyebutkan bahwa glukosa merupakan sumber energi utama bagi otak. Hampir seluruh sel tubuh menggunakan glukosa untuk menghasilkan energi, namun otak dan otot termasuk organ yang sangat bergantung pada ketersediaan zat tersebut untuk menjalankan fungsinya dengan baik. 

Ketika kadar energi tubuh menurun, seseorang dapat merasakan penurunan fokus, kelelahan, atau bahkan munculnya keinginan untuk mengonsumsi makanan manis.

Keinginan tersebut sering kali dikenal sebagai sugar craving. Dalam banyak kasus, kondisi ini merupakan sinyal alami tubuh yang membutuhkan energi tambahan. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang menjalani aktivitas yang cukup intens atau ketika asupan energi sebelumnya belum mencukupi kebutuhan tubuh.

Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa gula bukanlah zat yang harus sepenuhnya dihindari. Justru, gula tetap dibutuhkan tubuh sebagai salah satu sumber energi dan perlu dikonsumsi secara bijak sebagai bagian dari pola makan yang seimbang. 

Permasalahan umumnya muncul ketika konsumsi gula melebihi kebutuhan energi tubuh dan tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup.

Rekomendasi dari World Health Organization menyebutkan bahwa konsumsi gula tambahan sebaiknya tidak melebihi 10 persen dari total kebutuhan energi harian. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menganjurkan batas konsumsi gula tambahan sekitar 50 gram per hari untuk orang dewasa. 

Yang dimaksud gula tambahan adalah gula yang ditambahkan ke dalam makanan atau minuman, seperti gula pasir, sirup, madu, atau pemanis pada produk olahan dan bukan gula alami maupun karbohidrat dari makanan pokok seperti nasi. 

Karena itu, penting dipahami bahwa batas konsumsi ini merujuk pada gula tambahan, bukan seluruh asupan makanan yang menghasilkan energi. 

Rekomendasi ini menunjukkan bahwa gula tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehari-hari selama dikonsumsi dalam jumlah wajar dan disesuaikan dengan kebutuhan energi masing-masing individu.

Selain memerhatikan jumlah konsumsi, keseimbangan antara asupan energi dan aktivitas fisik juga menjadi faktor penting. Ketika seseorang aktif bergerak, energi yang berasal dari makanan, termasuk gula, akan digunakan oleh tubuh sebagai bahan bakar untuk menjalankan berbagai aktivitas. 

Sebaliknya, jika asupan energi jauh lebih besar dibandingkan energi yang digunakan, maka kelebihan energi tersebut dapat disimpan oleh tubuh.

Pada akhirnya, menjaga pola makan yang seimbang dan gaya hidup aktif merupakan kunci penting dalam menjaga kesehatan. Dengan memahami bahwa gula memiliki peran sebagai salah satu sumber energi bagi tubuh, masyarakat dapat membangun pola konsumsi yang lebih bijak. 
 
Karena itu, fokus utama bukan sekadar menghindari gula, melainkan mengatur porsinya dengan tepat, memilih asupan bergizi seimbang, serta rutin beraktivitas fisik. 

Dengan langkah tersebut, tubuh dapat memperoleh energi yang cukup untuk menjalani aktivitas sehari-hari, menjaga fokus, dan mempertahankan stamina sepanjang hari.


Oleh: dr. Nadia Alaydrus, M.Kes. A3M, Dipl. AAAM

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH